| Senin, 26 Nopember 2007 | BUDAYA |
Festival Tari Berekor MuriIRINGAN calung berpadu indah dengan gerakan dinamis Tari Ngoser dari Kabupaten Purbalingga. Itulah tarian pergaulan remaja saat bulan purnama menggeliat. Ngoser berarti gerakan pinggul hingga hampir menyentuh tanah. Tiga penari putri sebagai lengger dan dua penari putra sebagai dagelan itu tampil pada Festival Tari Daerah (FTD) 2007 di Museum Ronggowarsito, Semarang, Sabtu (24/11). Pergelaran sambung-menyambung tanpa henti itu diikuti 20 kabupaten/kota se-Jawa Tengah. Maklum, FTD yang digagas Cakra Semarang TV dan Pemerintah Provinsi itu memang dirancang untuk memecahkan rekor Muri. Itulah rekor festival dengan jenis tarian terbanyak dan diikuti peserta terbanyak pula. Dan, memang pergelaran sekitar empat jam itu akhirnya dicatat sebagai rekor Muri. Dua puluh daerah mengirimkan wakil pada ajang berhadiah total Rp 15 juta itu. Pada festival bertema "Regenerasi dalam Pelestarian Budaya" itu, sebagian besar tarian tak berpatok pada pakem. Banyak kreasi dan modifikasi. Tari Turangga oleh Sanggar Yasa Budaya Kota Semarang, misalnya, begitu energik. Banjarnegara menyajikan gerakan silat pada Tari Aplang dengan iringan teklek berpadu dengan musik rebana, kendang, dan beduk. Juara I Dolalak Bedhol (Purworejo), II Lenggeran (Sukoharjo), dan III Tayub (Grobogan). Juara harapan I Dadi Ronggeng (Banyumas I), II Renggomanis (Banyumas II), dan III Rebana Santri (Kabupaten Pekalongan). (Modesta Fiska-53) |