| Senin, 26 Nopember 2007 | BUDAYA |
Mendut yang Menghibur
TUMENGGUNG Wiroguno tak bisa lagi menahan amarah. Selama ini, tak ada perempuan berani menolak dia peristri. Namun, Roro Mendut berbeda. Putri boyongan dari negeri Antah Berantah yang dia taklukkan itu tegas-tegas menolak. "Hukuman apa yang mesti dijatuhkan pada Mendut?" tanya tumenggung tua itu kepada Ki Jimat, sang penasihat. "Bebani dia dengan pajak tinggi sehingga tak mampu membayar," jawab Jimat. Kisah itu menjadi pertunjukan menarik ketika dimainkan Teater Stesa MAN Kendal, Sabtu (24/11) malam. Lakon Balada Roro Mendut karya Luthfi Rachman itu hadir dalam pertunjukan yang disutradarai Aslam Kussatyo. Atas saran Ki Jimat, Tumenggung Wiroguno membebani pajak Rp 500.000/ bulan. Anehnya, walau tak bekerja, Mendut mampu membayar pajak itu, bahkan sekaligus untuk tiga bulan. Uang itu dia peroleh dengan berjualan rokok yang telah diisapnya dengan harga sangat tinggi. Pementasan yang encer, diselingi dialog dan adegan jenaka, itu membuat 100-an penonton yang memadati aula Kantor Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kendal terlarut dalam cerita. Dalam versi babad, Roro Mendut adalah putri boyongan dari Pati. Dia dipaksa jadi selir Tumenggung Wiroguno dari Keraton Mataram, yang menaklukkan kadipaten kecil di pesisiran itu. Kisah Roro Mendut-Pranacitra termasuk dalam deretan kisah cinta abadi yang berakhir tragis. Seperti kisah Romeo-Juliet, Qais-Laila, atau Jayengrana-Layonsari. Soal Irama Sebagai tontonan, Balada Roro Mendut cukup menghibur. Paling tidak cara penyampaian yang sederhana membuat para penonton yang sebagian besar usia SMA mudah mencerna. Dari sisi akting, dua pemain utama lakon itu patut memperoleh pujian. Ulfa R Purbowati (Roro Mendut) dan Soníul Muwafik (Tumenggung Wiroguno) cukup berhasil menghidupkan karakter yang mereka perani. Begitu juga Ika Nova Aromawati yang memainkan tokoh Dewisari. Walaupun, masih ada beberapa pemain kedodoran dalam olah vokal, gestur, dan akting secara keseluruhan. Setting minimalis yang mereka pilih tepat untuk penggarapan lakon "berbabak-babak" itu. Pergantian babak cukup dengan pemadaman lampu dan sedikit pemindahan tenger latar panggung. Namun para pemain masih perlu belajar banyak untuk menjaga irama. Kontrol emosi yang terputus-putus sedikit-banyak mengganggu penonton selama menikmati pertunjukan. Namun "sedikit" kelemahan para pemain muda, dengan masa depan lebih panjang di panggung pertunjukan, itu tentu tetap patut memperoleh permakluman. (53) |