logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 22 Nopember 2007 SEMARANG
Line

Kelompok Tani Bisa Contoh KTT Pegumas

UNGARAN - Kepala Dinas Peternakan Jateng Ir Kusmaningsih MP menyatakan, para kelompok tani ternak (KTT) di daerah ini bisa mencontoh keberhasilan KTT Pegumas dari Desa Gumelar, Banyumas. KTT Peranakan Ettawa Gumelar Banyumas (Pegumas) belum lama ini menyabet peringkat I nasional lomba dalam rangka ketahanan pangan di istana negara.

''Manajemen kelompok ternak kambing Ettawa Pegumas sudah baik. Kualitas dan kuantitas kambing terus meningkat. Mereka juga sudah melakukan kegiatan dari hulu, on farm, dan hilir,'' kata Kusmaningsih di Ungaran, kemarin.

Kelompok ternak kambing Ettawa juga sudah memiliki pangsa pasar yang bagus di Jawa Barat secara kontinyu. Gebrakan baru yang cukup fantastis, Pegumas dipercaya Bank Indonesia untuk pinjam uang dengan bunga yang sangat rendah, yaitu 6%.

''Pada 15 November lalu kami mendampingi KTT Pegumas bertemu langsung Presiden SBY. Mereka mendapat batuan Rp 10 juta, serta piagam dan tropi dari Mentan dan Dirjenak,'' paparnya. Pegumas selanjutnya menjadi tempat karya wisata KTT dari provinsi lain. Ia meminta kelompok tani ternak di Jateng meningkatkan manajemen dan analisis usaha agar berhasil guna dan mampu meningkatkan kesejahteraan hidup.

Produksi kambing dan domba di Jateng terbesar se-Indonesia. Pada 2006 mencapai 3,5 juta ekor. Kambing Ettawa sangat berguna bagi kebutuhan manusia, mulai dari dagingnya, kulit, susu, bahkan kotoran dan urinnya. ''Kotoran untuk pupuk kandang dan urine bisa untuk pupuk cair. Susu kambing Ettawa sangat bagus buat lulur kecantikan,'' terang Kusmaningsih.

Selain KTT Pegumas, Jateng juga meraih lima penghargaan lainnya di lomba ketahanan pangan nasional tahun ini. Yakni, KTT sapi potong Martini Indah dari Kabupaten Grobogan meraih peringkat II, KTT Itik Adem Ayem Kabupaten Brebes peringkat II, dan petugas Pos Keswan dokter hewan Edy Sumarwanta dari Kabupaten Kebumen peringkat II.

Selanjutnya, Sihono, inseminator asal Kabupaten Sukoharjo memperoleh peringkat III dan Emi Widijati asal Kabupaten Banyumas mendapat penghargaan satu-satunya di Indonesia yang mengolah hasil ternak berupa kripik paru-paru Asli Sokaraja. (H14-37)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA