| Selasa, 20 Nopember 2007 | WACANA |
Global Warming dan Global Warning
BERBAGAI pemberitaan media mewartakan, suhu udara yang tahun lalu masih 34,5 derajat celsius, kini naik 0,5 derajat menjadi 35 derajat celsius. Fenomena alam temperatur udara yang meningkat itu, tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di belahan lain dunia. Penyebabnya karena terjadi pemanasan global (global warming), yaitu es di kutub utara pun mencair. Fisikawan pencetus Teori Dentuman Besar, Stephen Hawking, memperingatkan bahwa efek pemanasan global lebih mengerikan daripada perang nuklir sekalipun. Pendapat senada dikatakan oleh pendiri Green Peace, James Lovelock. Menurutnya, pemanasan global bisa menyebabkan punahnya spesies manusia dari muka bumi. Kalau bertanya siapa yang memicu terjadinya pemanasan global, menghadaplah ke cermin, Anda akan segera menemukan jawabannya. Tak lain dan tak bukan, adalah manusia, termasuk Anda sendiri. Untuk membuktikannya tak sulit. Lihat saja pada pola konsumsi kita terhadap listrik, kendaraan, dan lainnya. Kebanyakan dari kita ketika tidur malam tidak mematikan lampu dan alat elektronik lain yang tak digunakan. Kalau dihitung tiap rumah rata-rata menghemat 10 watt selama tujuh jam waktu tidur, berarti dapat diirit 70 watt jam/keluarga. Apabila 20 juta saja keluarga membiasakan perbuatan itu , akan terselamatkan 1,4 kilowatt jam/hari, atau 511 juta kilowatt jam/tahun. Saat di Kuala Lumpur, Malaysia, saya membuktikan kebenaran ucapan David Simatupang, bahwa di negeri makmur itu mobil BMW, Mercy, dan ber-CC besar sulit ditemukan di antara ribuan mobil Proton dan Perodua. Kondisi itu jauh beda dari Jakarta. Di akhir pekan, mobil merek premium seperti Jaguar dan Ferrari pun gampang ditemukan. Keluarga mampu biasa memiliki kendaraan untuk setiap anggotanya, baik sepeda motor maupun mobil. Padahal, kendaraan bermotor juga menyumbang dalam pemanasan global, karena melepaskan gas C02, meskipun tidak sebesar andil C02 industri. Tapi bagaimana kalau jumlah yang diproduksi dan menggelinding di jalanan tak terkendali? Kondisi itu jadi lebih parah oleh kemacetan lalu lintas di kota-kota, memperburuk polutannya. Disebabkan masing-masing ingin cepat sampai dan saling menyerobot, akibat disiplin dan sopan santun berlalu lintas yang rendah. Faktor dominan lain adalah karena laju pertumbuhan jalan tidak sebanding dengan produksi kendaraan. Syukurlah, mulai 2007, Indonesia menerapkan standar Euro-2. Standar itu menerapkan aturan ketat mengenai pelepasan gas buang oleh kendaraan bermotor. Di samping C02, kendaraan juga melepaskan HC, CO, dan NOX. CO menurut Ahmad Rizal dari Toyota Astra Motor, paling berbahaya karena tidak berbau tapi kalau terhisap bisa membuat orang lemas dan meninggal dunia. Hal itu memaksa produsen mengikuti aturan Euro-2 tersebut. Tahun lalu di Jakarta mulai dikenalkan program langit biru dengan mobil ramah lingkungan berbahan bakar gas. Sedan Toyota Vios, misalnya, bahkan sudah menerapkan standar Euro-2 sejak 2003. Demikian pula produsen sepeda motor bermesin jenis 2-tak, sudah beralih ke 4-tak. Tanpa Timbal Yang tak kalah menggembirakan, semua jenis bensin di Indonesia, baik premium, pertamax, maupun pertamax plus, sudah tanpa timbal (unleaded). Beberapa waktu lalu santer terdengar kabar, ada kebijakan Pemda DKI untuk melarang mobil-mobil buatan sebelum 1990-an beroperasi. Tujuannya selain mengurangi kepadatan, juga mengurangi polusi di Ibu Kota. Demikian pula ada info, sepeda motor jenis 2-tak akan dilarang beroperasi di jalan raya Semarang maupun Yogyakarta. Harga kendaraan roda dua bekas seperti Yamaha, Vespa, dan Suzuki, yang berbensin campur pun jatuh. Namun dua larangan itu tak terbukti. Banyak pemilik kedua jenis kendaraan yang jumlahnya tidak sedikit itu siap mengganti kendaraannya. Global warming atau pemanasan global yang merupakan global warning (peringatan alam sedunia) itu telah mulai direspons oleh industri automotif. Tapi, itu saja tentu masih jauh dari cukup. Para pabrikan sebagai penyumbang pelepasan CO-2 terbesar, harus mempunyai komitmen yang sama kuatnya. Demikian pula para penjarah hutan dan pencuri kayu gelondongan jumlah besar (illegal logging). Dalam tataran mikro Jateng, jangankan kota-kota yang makin ditumbuhi hutan beton kurang pohon, desa-desa pinggirannya pun pohon-pohonnya makin jarang, dan ditumbuhi permukiman. Di Temanggung dan Salatiga, pada malam hari orang tidak perlu berjaket, karena dingin udara kurang lagi terasa. Jawa Tengah sudah mengalami warming sekaligus warning. Sadarilah!(68) - S Djaja Laksana SH, pemerhati linkungan, mantan Asisten II Ekonomi, Pembangunan, dan Kesra Sekretaris Kota (Sekkot) Salatiga. |