| Selasa, 20 Nopember 2007 | NASIONAL |
Catatan dari Festival Seni Cak Durasim (1)Warisi Semangat Juang Seniman LudrukSelama sepekan, 10-17 November, Taman Budaya Jawa Timur (TBJT) menggelar Festival Seni Cak Durasim (FCD) VIII. Festival tahunan yang didedikasikan untuk seniman ludruk Cak Durasim itu berlangsung meriah. Berikut catatan wartawan Suara Merdeka Achiar M Permana, dalam tulisan berseri mulai hari ini. Pegupon omahe dara melok Nippon tambah sara GARA-GARA nyanyian itu, Cak Gondo Durasim ditangkap dan disiksa Kenpetai, polisi rahasia Jepang yang terkenal kejam. Kidungan yang sering dibawakan pada pentas Ludruk Soerabaia itu oleh tentara pendudukan Jepang dianggap ''provokasi'' untuk melawan mereka. Walhasil, Cak Durasim pun diseret ke penjara. Akibat siksaan Kenpetai, pada 1944 seniman ludruk legendaris itu meninggal di tahanan. Fragmen perjuangan itu tergambarkan dalam film pendek yang diputar pada pembukaan Festival Seni Cak Durasim (FCD) VIII 2007, 10 November malam lalu. Tergambar keteguhan Cak Durasim menjaga api perjuangan, sekalipun harus menebus dengan nyawa. Festival seni yang memasuki tahun kedelapan itu digelar antara lain sebagai penghormatan atas semangat juang Cak Durasim. Digelar secara rutin sejak 1999, FCD telah memosisikan diri sebagai festival yang diperhitungkan. ''Delapan tahun bukan waktu yang pendek untuk menjaga keberlangsungan festival seni. Dalam kurun waktu itu, kami melihat FCD memberikan kontribusi cukup besar pada pelestarian dan pengembangan seni budaya di Jawa Timur,'' ujar Kepala Dinas P dan K Jawa Timur Dr Rasiyo MSi. Ya, FCD memang memberikan ruang cukup lapang bagi eksplorasi berbagai ranah kesenian. Tahun ini, beberapa kesenian khas Jawa Timur mengekspresikan diri. Dari seni tradisi, misalnya, ada tari mongde dan beksan tayub dari Nganjuk, dongkrek dari Madiun, kesenian por-campor dari Madura, dan tari ngremo, besutan, ludruk, serta wayang jawa timuran. FCD juga menyelenggarakan diskusi serta berbagai kompetisi kesenian. Diskusi antara lain Temu Sastra Jatim bersama Maman S Mahayana dari Jakarta dan penulis Olenka, Prof Dr Budi Darma. Diskusi lain tentang budaya Jawa di Suriname, bersama Salimin Ardjooetomo dan Does Cabaret. Kompetisi yang digelar tak jauh-jauh dari upaya mewariskan ''semangat kesenian'' Cak Durasim. Seperti tahun-tahun sebelumnya, panitia FCD menggelar Festival Ngremo untuk anak-anak dan remaja serta lomba kidungan. (53) |