| Selasa, 20 Nopember 2007 | NASIONAL |
Kelud Masuki Era BaruBANDUNG - Kepala Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Dr Surono menyatakan karakter Gunung Kelud di Kabupaten Kediri memasuki era baru. Gunung itu tidak lagi melontarkan letusan eksplosif. Hal tersebut diungkapkan Surono saat menjadi pembicara bertema aktivitas gunung api di Indonesia di Labtek XI Kampus ITB, kemarin. Tak hanya itu, tambahnya, karakter Kelud selama ini juga akan segera terhapus dari katalog gunung api dunia. "Katalog gunung api dunia akan kehilangan satu gunung api dengan danau kawahnya. Saat ini, hampir 90 persen kawah Gunung Kelud tertutup kubah lava," tandasnya. Ahli gunung api Mas Atje Purbawinata pernah menyatakan bahwa kemunculan kubah lava di danau kawah Kelud merupakan rangkaian penutup dari aktivitas di atas normal gunung api tersebut. Fenomena itu sekaligus menjadi awal dari kemungkinan letusan yang jauh lebih dahsyat di kemudian hari mengingat terjadinya perubahan karakter Kelud. Menurut Atje, crypto dome (magma mengeras tapi tidak membeku) yang sebelumnya menjadi ganjalan tekanan yang muncul dari kantong magma dengan bercokol di dasar danau kawah, sudah berubah menjadi kubah lava sesungguhnya, saat muncul di permukaan. Ditambahkan, kemunculan kubah lava itu juga menandakan bahwa Kelud juga menanggalkan kekhasannya selama ini sebagai gunung api berkawah danau. Dengan kondisi seperti itu, karakter letusan gunung api berketinggian 1.731 mdpl tersebut tidak lagi freatik dahsyat karena adanya unsur air dari danau kawahnya. Proses kemunculan kubah lava itu menjadi proses penghancuran dari karakter gunung api berkawah danau. Danau kawah itu akan tersapu oleh kemunculan kubah lava. Konsekuensinya, komposisi magmanya pun berubah. Magma Kelud akan menjadi lebih asam, lebih kental, dan kandungan silica-nya sangat banyak. Gas-gas yang muncul pun akan lebih banyak diserap oleh kandungan magmanya. "Komposisi itu menunjukan bahwa letusan Kelud akan sangat eksplosif dibanding letusan freatik besar sebelumnya. Ini juga perlu dicermati terkait siklus letusannya. Selain itu, memberikan kesempatan juga kepada kita untuk lebih menata masyarakat yang tinggal di sekitarnya," tandas doktor lulusan Selandia Baru itu. (dwi-62) |