| Selasa, 20 Nopember 2007 | NASIONAL |
SAMBUNG RASAPenanaman PohonTanya: Bapak Gubernur, masalah aktual yang sekarang ini mendapat perhatian publik adalah pemanasan global. Bagaimana Bapak menyikapi permasalahan ini? Matur nuwun. Ristyowati Gubug, Kab. Grobogan Jawab: Saudari Ristyowati, secara umum Indonesia memiliki luas hutan tropis terbesar ketiga di dunia. Karena itu kerusakan hutan di Indonesia termasuk Jawa Tengah, berpengaruh terhadap kehidupan dan lingkungan di bumi ini. Dampak luasnya adalah memacu terjadinya pemanasan global. Laporan NASA Goddard Institute for Space Studies menyebutkan, pada tahun 2005 sebagian besar wilayah Indonesia mengalami peningkatan suhu permukaan 0,51-10 derajad celcius dibandingkan dengan rata-rata tahun 1951-1980. Dalam skala yang lebih luas, pemanasan global tersebut berdampak pada berubahnya waktu musim hujan dan musim kering, meningkatnya suhu bumi dan lain-lain yang berpotensi menimbulkan dampak negatif kehidupan dan lingkungan di bumi ini, seperti kekeringan, meningkatnya peluang kebakaran dan kerusakan hutan. Semua itu memacu terjadinya efek rumah kaca, yang berarti memicu peningkatan pemanasan global. Jumlah penduduk Jawa Tengah yang cukup besar dengan berbagai aktivitasnya juga menjadi penyebab terjadinya permasalahan lingkungan, baik lokal maupun global. Contohnya, aktivitas transportasi dengan jumlah kendaraan berkisar lima juta, menghasilkan emisi gas buang yang mengandung carbon monooksida (CO) dan ini salah satu penyebab terjadinya pemanasan global. Kegiatan industri dan rumah tangga dengan bahan bakar bensin, solar dan minyak tanah, juga menghasilkan emisi gas buang. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, lahan kritis di Jawa Tengah meningkat lebih dari 77.348,33 hektare, dan lahan pertanian menurun lebih dari 9.849 hektare. Menyikapi hal tersebut, berbagai upaya telah dilakukan, antara lain Program Gerakan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (Gerhan), Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM), penataan kembali kawasan lindung, pengembangan desa hutan, pengembangan hutan sekolah, rehabilitasi hutan mangrove di sepanjang Pantai Utara dan lain-lain. Pada 2007, kegiatan Gerhan menjadi Gerakan Nasional dalam Rehabilitasi Hutan dan Lahan yang Terencana, Terpadu dan Terkoordinasi (GN-RHL). Tujuannya antara lain adalah meningkatkan peran Dinas Kab/Kota yang lebih nyata, pemberdayaan dan peran serta masyarakat, efektivitas pembinaan masyarakat/petani serta keberhasilan tanaman. Pada Tingkat Jawa Tengah sasarannya adalah hutan mangrove 6.680 hektare (7%), turus jalan 720 km (1%), dan lain-lain. Selain itu pada akhir November 2007 ini juga akan dilakukan Aksi Penanaman Serentak dan Pekan Pemeliharaan Pohon Menyongsong Pertemuan Internasional tentang Perubahan Iklim Global di Bali. Sasarannya lahan di luar dan di dalam kawasan sebanyak 78.433 lokasi. Kemudian pada tanggal 28 November 2007 pukul 08.30 WIB, di Desa Cibadak, Kecamatan Tanjung Sari, Kabupaten Bogor, Presiden akan mencanangkan Penanaman Serentak dan Pekan Pemeliharaan Pohon. Pada saat yang bersamaan juga dilakukan penanaman secara serentak di seluruh wilayah Indonesia. Untuk Jawa Tengah sasaran lokasi adalah lahan di luar dan dalam kawasan sebanyak 78.433 lokasi dengan syarat kegiatan penghijauan lingkungan (aksebilitas mudah, lahan desa, halaman sekolah, turus jalan), dicatat dan didokumentasikan dengan baik. Jenis tanaman sesuai dengan yang tersedia. Masing-masing kab/Kota menanam sekitaer lebih dari 20 ribu pohon. Sumber bibit tanaman selain dari Departemen Kehutanan sebanyak 10 juta pohon, juga donatur dan swadaya masyarakat. Dalam pelaksanaan, hendaknya berkoordinasi dengan Balai Pengelolaan DAS Departemen Kehu- tanan, Balai Perbenihan Tanaman Hutan, Dinas yang membidangi kehutanan dan Dinas yang membidangi pertanian. Kepada pihak terkait saya harapkan memberikan bimbingan dan pendampingan kepada masyarakat. Berbagai upaya tersebut, mudah-mudahan mampu memberikan andil dalam mengurangi pemanasan global.(60) |