logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 20 Nopember 2007 NASIONAL
Line

KRIMINALITAS

Dipaksa Jalan Kaki sampai Sleman

  • Makan dan Tidur Seadanya

DERITA gadis seusai Wiwin Hidayah (12) tentu sangat berat. Hidup menggelandang berjalan kaki, menjadi pengalaman pahit takkan terlupakan sepanjang hidupnya. Ini ujian sangat berat bagi siswi kelas IV SDN Bangunsari, Patebon, Kendal itu. Selama 15 hari gadis belia itu dipaksa menjalani hidup menggelandang, berpindah dari satu tempat ke tempat lain dn makan minum seadanya.

''Sejak turun dari taksi dan tiba di terminal Banyumanik, Semarang Minggu (4/11) siang, saya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki oleh Pak Rizal dan Mbak Anik (sapaan akrab Rahmani, istri Rizal-Red),'' tutur Wiwin Hidayah didampingi ayahnya, Slamet Santoso serta Kanit Resintel Polsek Patebon Aiptu Haryono di ruang kerja Kepala Panti Bina Sejahtera di Desa Wonosari, Patebon, kemarin.

Wiwin diajak pergi tanpa tujuan. Di siang hari dia diajak berjalan kaki seraya mencari barang rongsok. Hasil penjualan barang rongsok, digunakan guna membeli makan dan minum. Malam hari, gadis bekulit sawo matang itu baru diajak untuk beristirahat.

''Kami mandi di kamar mandi mushala atau di sungai. Untuk tidur, terkadang di mushala, tetapi lebih sering tidur di atas rumput sekitar sawah atau kebun warga. Dalam sehari, saya sering hanya mendapat jatah makan satu sampai dua kali, '' imbuh Wiwin.

Puluhan, bahkan ratusan kilometer perjalanan harus ditempuh dengan berjalan kaki bersama dua penculiknya dalam waktu 15 hari. Dalam sebuah perjalanan, Wiwin sempat terperosok saat meniti jembatan bambu yang ada di tengah areal persawahan. Akibatnya dia mengalami luka lecet cukup dalam pada bagian lutut kaki kiri dan luka pada perut bagian kanan atas.

Lantaran tidak mendapat pengobatan yang semestinya, luka mengarah ke infeksi. Dalam sebuah perjalanan, Rizal juga pernah menampar pipi kanan Wiwin. Ia marah karena Wiwin terus merengek minta pulang. Selama pergi itu Wiwin tidak pernah berganti pakaian.

''Pak Rizal juga mengancam akan meninggalkan saya di tengah perjalanan. ''Kalau kamu tidak menurut nanti ditinggal di sini saja, biar dimakan ular. Sana menjerit yang keras, dan lapor polisi kalau berani'','' jelas Wiwin menirukan ancaman Rizal.

Setelah menempuh perjalanan selama berhari-hari, Minggu (18/11) siang akhirnya Wiwin dan penculiknya tiba di wilayah Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang (per batasan dengan Kabupaten Sleman). Mereka beristirahat di bawah jembatan Sungai Krasak.

Kabur

''Siang itu, saya ditinggal sendiri di bawah jembatan oleh pak Rizal dan mbak Rahmani yang katanya akan mencari barang rongsok. Saya diminta menunggu barang dan pakaian mereka.'' Saat termenung di bawah jembatan itu, Wiwin melihat seorang anak lelaki sedang mandi di Sungai Krasak. ''Saat itu pula saya teringat adik lelaki dan orangtua di Kendal, kemudian saya memberanikan diri untuk kabur.''

Wiwin kemudian naik ke atas jembatan Krasak dan berjalan di tepi ke jalan raya Semarang-Yogya. Dia bertemu dengan sesorang pria setengah baya, serta meminta tolong untuk diantar ke kantor polisi.

''Bapak itu mau menolong, dan mengantar saya menuju ke pos polisi (pos lalulintas yang ada di seberang jalan dekat jem batan Krasak-Red),'' ujar Wiwin yang masih terlihat sangat letih serta bingung itu.

Wiwin diantar petugas ke Polsek Salam, Magelang, yang berada tak jauh dari pos lalulintas. Petugas polsek, kemudian berkoordinasi dengan Polsek Patebon, Kendal.

Gabis belia itu akhirnya dijemput Kanit Resintel Patebon Aiptu Haryono, serta tiba di Kendal dan kembali ke keluarganya Senin (19/11) pukul 03.00.

Kapolres Kendal AKBP Tjahyono Prawoto SH MM melalui Kanitresintel Polsek Pate bon Aiptu Haryono mengemukakan pihaknya masih menyelidiki motif penculikan tersebut.

''Dugaan sementara, korban diculik untuk dipekerjakan sebagai akan jalanan oleh tersangka Rizal dan Rahmani.''

Pihaknya bekerja keras untuk menangkap dua pelaku itu. ''Mereka disangka telah melarikan anak di bawah umur dari yang sah atasnya, sesuai Pasal 330 KUHP,'' katanya.

Setelah dimintai keterangan, Senin (19/11) siang Wiwin dibawa berobat ke RSUD Dr Soewondo untuk mengobati luka di lutut dan perut akibat terperosok jembatan bambu.

''Kami sangat bersyukur kepada Allah SWT, karena Wiwin telah kembali di tengah keluarganya,'' kata ayah Wiwin, Slamet Santoso tak kuasa menahan tangis bahagia.

Dengan kembalinya Wiwin, rencana keluarganya untuk bertransmigrasi ke Kalimantan semakin matang.

''Kamis (15/11) sampai Sabtu (17/11) malam, saya sempat putus asa mencari Wiwin di Jakarta. Di Ibu kota saya mencari di stasiun Jatinegara, dan keliling Bekasi. Syukurlah ia kembali dengan selamat.'' (Setyo Sri Mardiko-77)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA