logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 20 Nopember 2007 NASIONAL
Line

Pencurian di Museum Radya Pustaka (1)

Peran "Ganda" Mbah Hadi


SM/ Yusuf Gunawan ARCA PALSU: Seorang siswa SD Al Firdaus berada di dekat sejumlah arca koleksi Museum Radya Pustaka yang diduga palsu. (57)

Hilangnya benda-benda bersejarah yang tersimpan di Museum Radya Pustaka Surakarta sungguh mencoreng citra bangsa. Arca asli dijual, diganti dengan yang palsu. Tragisnya, pimpinan museum itu, Mbah Hadi, kini menjadi tersangka pelaku utama.

MASYARAKAT Solo terhenyak begitu mendengar Kepala Museum Radya Pustaka KRH Darmodipuro alias Mbah Hadi (69) terlibat dalam aksi pencurian lima arca. Dugaan keterlibatan ahli pakuwon (perhitungan Jawa-Red) itu, sebagai salah satu aktor penting di balik hilangnya lima arca koleksi museum tentu sangat disayangkan.

Kakek beberapa cucu yang tinggal di Semanggi, Pasar Kliwon itu selama ini memang menjadi figur panutan. Kepiawaiannya dalam bidang astronomi, sudah begitu tersohor. Bahkan beberapa tokoh lokal maupun nasional kerap meminta jasanya untuk mencarikan hari baik, terutama bila mereka akan menggelar hajatan.

Namun semuanya itu kini tentu berbeda. Ia seolah memiliki peran ganda. Di satu sisi sebagai ahli pakuwon, di sisi lain ia dijerat dalam kasus hilangnya arca museum. Lelaki yang biasa tampil sederhana itu harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Berdasar hasil penyidikan yang dilakukan tim penyidik Poltabes Surakarta, keterlibatan Mbah Hadi cukup kuat. Sebagai pimpinan museum, semestinya dia dapat menjaga dan memelihara peninggalan benda-benda koleksi purbakala yang ada di museum.

Penuturan semacam itu tentu saja tidak hanya dikemukakan masyarakat umum maupun Kapoltabes Surakarta Kombes Pol AKBP Lutfi Lubihanto melalui Kasat Reskrim AKP Syarif Rahman. Namun Kepala Kelompok Kerja (Pokja) Perlindungan Balai Pelestarian Peninggalan Pubakala (BP3) Jateng Lambang Babar Purnomo (50) juga menyayangkan soal hilangnya lima arca di dalam museum.

Sejak dilaporkan lima arca peninggalan sejarah abad VII hingga X Masehi yang berada di museum berubah bentuk atas pengaduan petugas BP3 Jateng di Poltabes Surakarta, Senin (5/11), banyak yang menduga ada keterlibatan orang dalam.

''Mengacu asas praduga tidak bersalah, kita tidak sembarangan menuduh orang tanpa bukti,'' tegas Kasat Reskrim saat menerima laporan awal atas perkara itu. Kerja maraton polisi tidak sia-sia. Penyidik mulai menyingkap tabir hilangnya benda-benda koleksi museum.

Bahkan, Mbah Hadi berperan begitu sentral. Dibantu dua pegawainya yaitu Jarwadi (37) dan Suparjo alias Gatot (38), serta Heru Suryanto (55) selaku penadah, mereka diam-diam merancang aksi jahat. Patung Agastya, Patung Durga Mahesasuramardhini bertangan delapan, Durga Mahesasuramardhini bertangan dua, Patung Siwa dan Patung Mahakala dicuri dari museum pada malam hari sejak Juli, September dan Oktober 2006.

Kini Mbah Hadi bak selebritis yang lagi kesandung masalah. Peran dia yang selama ini dikenal sebagai sosok orang pandai meramal sesuatu hal, malah terjerumus dalam lumpur. Saat dijemput petugas pada Minggu (18/11) dari tempat tinggalnya di Semanggi, dia menyatakan bahwa saat itu, pas hari sial. Nahas pun diterima Mbah Hadi atas keterlibantannya sebagai salah satu pelaku utama.

Sejak Minggu, dia menghuni hotel prodeo di sel tahanan Poltabes Surakarta bersama tiga tersangka lainnya yaitu Jarwadi, Gatot dan Heru Suryanto. Mungkin karena tidak menyangka jika akan ditahan, Mbah Hadi seusai diperiksa Minggu (18/11) menghubungi sopir taksi untuk menjemputnya. ''Lho, Mbah Hadi mau ke mana,'' kata Bripka Didik, selaku penyidik yang hendak membawa tersangka itu ke ruang tahanan.

Setelah mendapat penjelasan untuk ditahan, Mbah Hadi akhirnya pasrah, meski sopir taksi yang menjadi langganannya sudah menunggu di dekat Mapoltabes Jalan Adi Sucipto, Manahan.

Meski kini harus tidur di sel, Mbah Hadi tampaknya sudah dapat beradaptasi dengan lingkungan barunya. Sesekali dia bercanda dengan petugas.

Seperti saat petugas akan menyita jaket yang dikenakannya. ''Hati-hati, jaket saya jangan sampai sobek, jaket itu kenang-kenangan dari Swiss,'' tutur Mbah Hadi di ruang tunggu tahanan.

Dengan kaos bergaris dan berjaket gelap, dia terlihat santai menjalani hidup di tahanan. Di usianya yang makin tua, dia mencoba tabah menjalani proses hukum atas dugaan keterlibatannya dalam persekongkolan jahat bersama Heru Suryanto.

Dia mengajak dua pegawainya untuk mengangkut lima arca asli dari museum untuk diganti yang palsu. Ada pun peran Heru Suryanto selain sebagai pembeli lima patung asli, juga memesan patung palsu dari Kudi (37) warga Tangkisan, Muntilan.

Dari pengakuan para tersangka, lima patung palsu yang dipesan Heru dengan harga bervariasi, mulai Rp 3 juta hingga Rp 6 juta. Padahal lima arca asli yang dijual Mbah Hadi kepada Heru seharga Rp 35 juta hingga Rp 200 juta.

Begitu patung palsu selesai dibuat, sebelum ditukar yang asli, terlebih dahulu disimpan di rumah Heru di Jalan Empu Prapanca No 18, Gentan, Baki, Sukoharjo. Penukaran patung di museum dilakukan secara bertahap pada Juli, September dan Oktober 2006.

Rumah Sepi

Rumah Heru Suryanto, Senin (19/11) sore kemarin terlihat sepi. Dia adalah orang yang disebut-sebut sebagai penadah. Pintu gerbang rumahnya yang dipasangi plastik hijau tertutup rapat.

Tidak terlihat tanda-tanda ada penghuni rumah bercat kuning gading tersebut, meski lampu di teras rumahnya terlihat menyala. Pintu garasi juga terbuka.

Sebuah mobil Kia Carens AD-9055-QA warna hijau metalik nampak terparkir di garasi rumah. Namun saat gerbang rumah berkali-kali diketuk, tidak terdengar jawaban dari dalam. Begitu pula, ketika Suara Merdeka mencoba berkali-kali menyampaikan salam kulanuwun, tetap tidak ada jawaban.

Rina, tetangga depan rumah tersangka penadah arca milik museum tertua di Indonesia itu mengungkapkan, kalau istri Heru siang kemarin pergi. "Kalau tidak salah pergi sama adiknya," tuturnya. Namun tidak tahu ke mana perginya tetangganya itu.

Saat ditanya soal keseharian Heru, Rina menjawab, "Dia itu orangnya baik, Mas. Sosialnya juga baik. Ramah lagi."

Menurutnya, sudah sekitar tiga tahun, Heru tinggal di Gentan. "Dulu pindahan, kalau tidak salah dari Dawung. Tapi saya juga kurang tahu persis," katanya.

Ia juga mengaku tidak tahu soal koleksi barang-barang antik milik Heru. "Kalau sampai situ, saya tidak tahu," ujarnya singkat.

Beberapa tetangga yang lain juga mengaku sudah mendengar penahanan Heru Suryanto tersebut. Tapi mereka enggan berkomentar. "Saya sudah dengar. Ya, namanya juga tetangga, kaget juga," kata salah satu tetangga yang tidak mau disebut namanya. Bahkan saat ditanya lebih lanjut, tetangga ini menjawab singkat, "No comment saja." Namun mereka mengatakan, kalau Heru dikenal sebagai orang yang baik di lingkungan tempat tinggalnya. (Irfan Salafudin, Sri Hartanto-60)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA