logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 20 Nopember 2007 NASIONAL
Line

Soal Myanmar, AS Kecam ASEAN

SINGAPURA - Amerika Serikat mengecam sikap ASEAN mengenai Myanmar. Kecaman itu dilontarkan Senin kemarin di sela-sela pertemuan tingkat menteri pada KTT ASEAN di Singapura.

Wakil Menteri Perdagangan AS Susan Schwab menegaskan, kecil kemungkinan tercapai kesepakatan perdagangan bebas antara Washington dan ASEAN lantaran ada ganjalan mengenai situasi politik di kawasan Asia Tenggara. Dia juga mengatakan, kredibilitas ASEAN diragukan.

Sekelompok mahasiswa juga menggelar aksi protes mengutuk kekejaman junta militer Myanmar. Schwab kemarin bertemu dengan para pejabat negara Asia Tenggara, termasuk Myanmar. Dia mengungkapkan keprihatinannya mengenai tanggung jawab ASEAN. ''Kredibilitas dan reputasi ASEAN dipertanyakan karena situasi di Myanmar. Urusan bisnis tidak lagi bisa berlangsung seperti biasanya,'' kata Schwab.

Amerika Serikat memperluas sanksi terhadap Myanmar Oktober lalu, sedangkan Senat AS secara bulat mendesak ASEAN untuk menangguhkan keanggotaan Myanmar.

Namun, ASEAN menolak seruan itu. ASEAN berpendapat, peluang mendorong Myanmar mewujudkan demokrasi lebih terbuka apabila masih berstatus anggota blok itu.

Menurut diplomat, piagam ASEAN juga berarti bahwa tidak akan ada lagi opsi untuk mendepak Myanmar. Perundingan perdagangan bebas antara ASEAN dan Uni Eropa juga terancam macet. ''Padahal, ada nilai perdagangan 168 miliar dolar yang hendak dibahas di sini,'' tambah Schwab.

Undangan Myanmar

Sementara itu, Pemerintah Indonesia terus mendorong terjadinya proses demokratisasi di negara Myanmar. Untuk itu, proses dialog dan komunikasi yang berlangsung di negara tersebut harus tetap dipertahannkan terus.

''Dengan demikian, apa yang dikatakan Myanmar (PM Thein Sein) betul-betul diwujudkan di lapangan. Dalam konteks niat baik itulah, Indonesia terus mendorong proses demokratisasi sambil memastikan persoalan lainnya yang dihadapi Myanmar dapat dikelola dengan baik,'' kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, semalam.

Presiden SBY menegaskan hal itu setelah mengikuti acara working dinner oleh para pemimpin negara-negara ASEAN.

Sebelumnya, Presiden juga bertemu empat mata dengan Perdana Menteri Myanmar Thein Sein di Hotel Shangri-La Singapura. SBY ditawari berkunjung ke Naypyidaw, ibu kota baru Myanmar. Tahun 2006, SBY pernah mengunjungi Myanmar saat ibu kota masih di Yangon.

Wartawan Suara Merdeka Dwi Pamuji Sulistyanto, semalam dari Singapura melaporkan, SBY memberikan dukungan kepada Myanmar untuk terus menuju ke proses demokratisasi.

''Presiden menyampaikan terima kasih atas tawaran Thein Sein,'' kata Jubir Presiden Dino Patti Djalal kepada wartawan.

Pertemuan empat mata itu berlangsung setelah SBY melakukan pertemuan tiga pemimpin, yakni Indonesia-Thailand-Malaysia, yang dihadiri Perdana Menteri Malaysia Abdullah Ahmad Badawi dan Perdana Menteri Thailand Surayud Chulanont. Sebelumnya, SBY memimpin delegasi Indonesia dalam pertemuan dengan Brunei, Malaysia, dan Filipina yang tergabung dalam Area Pertumbuhan Asia Timur (BIMP-EAGA).

Delegasi Indonesia terdiri antara lain Menko Perekonomian Boediono, Menlu Hassan Wirajuda, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Kepala BKPM M Luthfi dan Dubes RI di Singapura Wardana.

Dalam pertemuannya itu, lanjut Dino, Thein Sein menghargai korespondensi antara SBY dan Pemimpin Junta Militer Myanmar Jenderal Tan Shwe. Hingga kini keduanya sudah melakukan empat kali korespondensi.

''Presiden SBY menekankan ingin menjaga kehormatan ini melalui korespondensi dengan Jenderal Tan Shwe. Hal sama sepertinya gayung bersambut, karena korespondesi tersebut dianggap cukup konstruksif,'' katanya.

Melalui korespondensi itu, kedua pemimpin bisa saling berkomunikasi langsung secara substantif tanpa ada perantara. ''Dia berkomitmen untuk menuntaskan peta jalan menuju demokrasi,'' ujar Dino.

SBY mendorong Myanmar agar tetap berada pada koridor demokrasi dan mengimbau untuk bersikap inklusif dalam proses demokratisasi. (rtr-25-77)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA