logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 20 Nopember 2007 NASIONAL
Line

KRIMINALITAS

Diculik 15 Hari, Wiwin Lolos


SM/Setyo Sri Mardiko BERSAMA AYAH: Wiwin Hidayah, bersama ayahnya, Slamet Santoso. (57)

KENDAL- Teka-teki hilangnya Wiwin Hidayah (12), siswi kelas IV SD Negeri Bangunsari, Kecamatan Patebon, Kendal akhirnya terkuak. Anak pertama dari dua bersaudara itu, Senin (19/11) pagi, kembali ke pangkuan orang tuanya, Slamet Santoso (42) dan Rohaniah (33), warga binaan Panti Karya Bina Sejahtera di Desa Wonosari, Patebon. Sejak meninggalkan keluarganya, Minggu (4/11) pagi lalu, Wiwin diduga telah menjadi korban penculikan yang dilakukan pasangan suami-istri Rizal (42) dan Rahmani (18).

Dua tersangka ini kenal dekat dengan keluarga Slamet Santoso, karena mereka adalah mantan warga panti Bina Sejahtera. Slamet dan istrinya saat itu tidak curiga ketika Wiwin diajak pergi pasangan asal Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) itu.

''Minggu (4/11) sekitar pukul 09.00, Wiwin diajak pergi Rohmani dengan alasan untuk membayar utang di warung, tak jauh dari panti. Ketika berada di kebun pembibitan benih, saya melihat Wiwin dan Rahmani masuk warung. Makanya saya tak curiga,'' kata Slamet, Senin (19/11).

Seperti diberitakan (SM, 9/11) setelah dari warung, tanpa disadari Slamet dan istrinya, Wiwin lantas diajak pergi Rahmani dengan menumpang angkudes trayek Desa Kartika Jaya - Kota Kendal.

Penculikan Wiwin ini diduga telah direncanakan pelaku. Pasalnya, beberapa waktu setelah Rahmani dan Wiwin pergi, Rizal juga menyusul. Dia pergi ke Kendal diantar seorang pegawai panti mengendarai sepeda motor. Petugas panti tidak menyadari, kalau Rizal dan istrinya punya maksud jahat.

''Kalau saja kami tahu, tentu berusaha mencegah Rizal. Kejadian ini menjadi pengalaman berharga,'' kata Kepala Panti Bina Sejahtera, Drs Tri Wibowo, di kantornya, Senin (19/11).

Dia mengatakan, panti yang dipimpinnya saat ini membimbing 50 keluarga kurang mampu untuk diberi pendidikan keterampilan tukang kayu dan batu, bercocok tanam, dan pendidikan mental.

Jalan Kaki

Sejak pergi bersama Rizal dan Rahmani, keberadaan Wiwin seperti hilang ditelan bumi. Putri pertama pasangan keluarga asal Tersono, Batang itu, akhirnya kembali ke pangkuan orang tuanya, setelah 15 hari dibawa pergi Rizal dan Rahmani.

''Saat itu saya mau diajak mbak Rahmani, karena akan berbelanja ke Pasar Kendal. Namun setelah turun dari angkudes di depan Kodim 0715/Kendal, pak Rizal yang menyusul belakangan langsung mengajak saya dan mbak Rahmani naik bus ke Semarang,'' tutur Wiwin didampingi ayahnya, Slamet.

Ketiganya lantas turun di Jrakah, Semarang. Dari tempat ini mereka melanjutkan perjalanan naik taksi melalui jalan tol dan tiba di Terminal Banyumanik. Tiba di Banyumanik, Minggu (4/11) siang, merupakan awal cobaan berat yang harus dijalani Wiwin.

Remaja bertubuh ceking itu kemudian dipaksa Rizal dan Rahmani menjalani hidup menggelandang. Dari Banyumanik berjalan kaki puluhan kilometer hingga di daerah Salam, Kabupaten Magelang.

Mereka tidur di sembarang tempat, makan minum seadanya, sambil bekerja mengumpulkan barang rongsok.

Dalam beberapa hari terakhir, mereka tidur di bawah Jembatan Kali Krasak, Sleman Yogyakarta. Setelah menjual barang rongsok Wiwin ditinggal Rizal dan Rahmani untuk suatu keperluan.

Kesempatan ini dimanfaatkan korban melapor ke pos polisi lalu lintas di dekat jembatan tersebut. Poltas yang bertugas kemudian berkoordinasi dengan Polsek Salam, yang meneruskan informasinya ke Polres Kendal. (G15-18)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA