logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 20 Nopember 2007 INTERNASIONAL
Line

KTT Palestina-Israel Terancam Sia-sia

  • Gagal Sepakati Draf Kebijakan

RAMALLAH - Negosiator Palestina mengatakan tidak akan ada lagi perundingan dengan Israel, setelah pertemuan Sabtu lalu gagal mencapai kemajuan mengenai dokumen pra-konferensi tingkat tinggi Timur Tengah.

Pernyataan Ahmed Korei itu membuat banyak pihak meragukan efektivitas konferensi Timur Tengah yang akan diselenggarakan di Annapolis, Amerika Serikat, pada 26-27 November ini. Konferensi Annapolis tersebut diprakarsai oleh Washington.

''Perundingan-perundingan telah mencapai fase akhir tanpa ada hasil apa pun,'' kata Korei kemarin, sebelum pertemuan Presiden Palestina Mahmud Abbas dan Perdana Menteri Ehud Olmert untuk mencari cara-cara menyelesaikan perbedaan di antara mereka.

Korei dan Menteri Luar Negeri Israel Tzipi Livni telah memimpin tim perumus dokumen pra-konferensi Annapolis itu. Dokumen tersebut menjadi landasan untuk melanjutkan perundingan mengenai pembentukan negara Palestina.

Korei mengatakan, draf kebijakan bersama itu kemungkinan tidak akan bisa disampaikan dalam pertemuan di Annapolis. Saat ditanya apakah dia memperkirakan draf deklarasi bakal dirancang saat konferensi, Korei menjawab: ''Presiden Abbas dan Olmert akan membahas masalah itu. Kami juga akan mendiskusikannya dengan Amerika Serikat.''

Galang Arab

Di lain pihak, Olmert berupaya menggalang dukungan dari negara-negara Arab untuk ambil bagian dalam konferensi yang diperantarai Washington tersebut. Dia menegaskan kembali janjinya bahwa Israel tidak akan menambah permukiman Yahudi di Tepi Barat. Selain itu, dia berjanji akan menghilangkan pos-pos terdepan Israel.

Mengenai tawanan Palestina, dia menjanjikan akan membebaskan sekitar 450 orang. Padahal, Abbas mendesak Israel untuk membebaskan 2.000 tahanan Palestina. Namun dalam rapat kabinet, dia tidak menyebutkan apakah pemerintahnya juga akan menghentikan pembangunan di dalam permukiman Yahudi yang telah ada di Tepi Barat.

Pembekuan aktivitas pembangunan permukiman Yahudi merupakan salah satu tuntutan Palestina. Sebab, Palestina mencita-citakan Tepi Barat sebagian bagian dari wilayah negaranya kelak. ''Kami berkomitmen dalam 'peta jalan' untuk tidak membangun permukiman baru. Tidak akan ada lagi permukiman baru. Tidak ada lagi penyitaan lahan,'' kata Olmert.

Peta jalan yang dia maksud adalah skema perdamaian 2003 yang didukung Amerika Serikat. Namun rencana itu gagal dilaksanakan. Selama beberapa tahun terakhir, pemerintah Israel tidak membangun permukiman baru di Tepi Barat. Namun para pemukim Yahudi terus menambah jumlah rumah mereka tanpa izin pemerintah. Akibatnya, luas permukiman Yahudi terus bertambah.

Selama ini Olmert berkali-kali berjanji akan menggusur permukiman liar itu, namun janji tersebut tak pernah terlaksana. Bahkan dia tak pernah menetapkan jadwal mengenai pemindahan permukiman liar Yahudi dari wilayah pendudukan Tepi Barat.

Arab Saudi belum memutuskan apakah akan menghadiri konferensi Annapolis. Namun Riyadh telah menekan Israel untuk menghentikan pembangunan permukiman sebelum konferensi diselenggarakan.(rtr-ben-25)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA