| Selasa, 20 Nopember 2007 | BANYUMAS |
KiprahHusein Kembangkan Usaha KecilBAGI Achmad Husein, keputusan untuk mendampingi Mardjoko menjadi calon Wakil Bupati Banyumas, harus melalui pertimbangan yang cukup matang. Apalagi, alumnus Teknik Sipil ITB 1986 ini, sedang menduduki jabatan yang cukup bergengsi yaitu Direktur Utama PDAM Banyumas. ''Karena merupakan proses politik, salah satu petimbangannya juga pertimbangan politis,'' ujar lelaki kelahiran 17 Agustus 1959 ini. Baginya, tawaran itu seperti mendapat panggilan genetis, yang memang tidak bisa lepas dari dunia ini. Ayahnya, Agus Taruno merupakan aktivis PNI hingga berubah nama menjadi PDI di tahun 1970-an. Dalam keluarganya, semua fasilitas yang didapat ayahnya tidak dinikmati untuk keluarga sendiri. Tetapi sebagian juga disumbangkan untuk partai dan masyarakat. Kenapa tertarik Mardjoko? Selain konsep investasi yang ditawarkan , karier calon bupati tersebut di pemerintahan yang cemerlang juga menjadi pertimbangan kenapa Husein kemudian menerima tawaran PKB Banyumas untuk mendampingi menjadi calon wakil bupati. Dia juga meminta komitmen, jika memenangi pilkada, program yang dimintanya adalah kerja riil yang bisa dinikmati masyarakat. Kredit Investasi ''Bidang-bidang seperti pertanian dan kredit investasi untuk usaha kecil dan rumahan itu nanti yang saya minta. Lainnya silakan diurusi Pak Mardjoko,'' tuturnya. Tenaga Kerja Baginya kata investasi sangat menarik karena bisa menjadi solusi atas berbagai persoalan mendasar yang ada di masyarakat. Petani tomat atau cabe misalnya, jika hanya bisa menghasilkan tanpa jaminan pasar dan harga yang pantas juga hanya menjadi permainan tengkulak. Kalau ada penanam modal untuk industri yang siap menerima komoditi pertanian, misalnya pabrik saus, tentu petani tomat dan cabe juga akan terjamin pasar dan harganya. Belum lagi jumlah penyerapan tenaga kerja di industri tersebut. Dia juga menganggap proses politik ini bukan semata ambisi. Yang dia inginkan adalah peran agar hajat masyarakat kecil bisa terpenuhi. Dia ingin menjadi jembatan bagi orang-orang kecil agar mereka bisa mengakses hak mereka dalam bentuk kebijakan pemerintah. Husein melihat kondisi semrawut di kelompok kaum nasionalis. Dalam pilkada ini, masyarakat melihat kaum nasionalis terbelah. Yang terjadi bukan berujung kepada kemaslahatan maupun kebersamaan umat. Kuncinya, menurutnya semua harus legawa dan selalu berorientasi pada saling mengerti dan memahami. (P16-55) |