logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 15 Nopember 2007 WACANA
Line

PRO - KONTRA

Belum Saatnya Pemuda Tampil

  • Oleh Hadziq Jauhary

PEMILIHAN umum (pemilu) masih akan berlangsung dua tahun lagi, namun hiruk-pikuknya saat ini sudah sangat terasa. Beberapa tokoh politik nasional sudah ada yang terangan-terangan mendeklarasikan diri untuk maju dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2009.

Di pihak lain, beberapa tokoh masih berkesan malu-malu untuk menyatakan diri maju dalam Pilpres 2009; atau kalau tidak, mereka menggunakan siasat politiknya guna menentukan waktu yang tepat untuk mendeklarasikan dirinya sebagai calon petarung Pilpres 2009.

Kondisi itu bertambah semarak setelah melewati momen peringatan Sumpah Pemuda beberapa waktu lalu. Para pemuda dan tokoh muda Indonesia berkumpul bersama di Gedung Arsip Nasional Jakarta, Minggu, 28 November 2007, untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda Ke-79.

Pada kesempatan itu mereka berikrar bangkit membangun Indonesia yang sejahtera sebagaimana yang diserukan dalam Pembukaan UUD 1945, dengan jalan tengahnya adalah memunculkan figur pemuda untuk memimpin negara Indonesia.

Pertanyaannya, sebetulnya pantaskah bangsa ini, yang penuh dengan krisis, dipimpin oleh seorang muda? Apakah di tangan pemimpin muda itu kelak negara Indonesia akan lebih maju dan lepas dari belenggu krisis ekonomi serta krisis multidimensi yang begitu akut?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itulah, yang sesungguhnya justru dibutuhkan bahkan ditunggu-tunggu rakyat sebagai wong cilik. Wacana yang ditelurkan para tokoh muda itu hendaknya jangan seperti bensin yang setelah keluar dari sarangnya lalu menguap begitu saja. Gagasan memunculkan pemimpin muda, tidaklah salah. Bangsa ini memang butuh pembaruan pemimpin. Rakyat sudah bosan dengan tokoh-tokoh politik yang sudah kawakan (tua).

Namun di sisi lain, akibat rakyat sudah bosan dengan para tokoh politik nasional karena yang muncul ke permukaan selalu itu-itu saja orangnya, jangan lantas langsung mewacanakan jalan keluarnya adalah pemimpin muda mesti maju dalam pilpres.

Saya justru khawatir, hal itu akan dimanfaatkan oleh kalangan tertentu demi tujuan politis. Artinya, bisa saja oknum dari satu tokoh yang berniat maju dalam pilpres memunculkan gagasan pemimpin muda itu sebagai tameng untuk menjegal lawan politiknya.

Hal itu bisa saja terjadi, karena para tokoh politik kita saat ini kurang memperhatikan norma-norma (etika) berpolitik. Segala cara mereka halalkan, termasuk pula jegal sana jegal sini tanpa etika; belum lagi dengan maraknya money politic.

Hal itulah yang saya khawatirkan; karena lihat saja belakangan ini para tokoh pemuda yang berteriak lantang agar muncul pemimpin muda adalah mereka yang duduk dalam jajaran petinggi partai politik (parpol), bahkan ada yang di antaranya sudah duduk di belakang layar sebagai tim sukses salah satu kandidat calon presiden (capres) 2009, meskipun secara formal, publik tidak mengetahuinya.

Budaya Manipulatif

Menurut kacamata saya, pemimpin muda belum saatnya muncul ke permukaan, karena berdasarkan gejolak yang ada di lapangan saat ini para pemuda -termasuk pula tokoh-tokoh muda- sebagian besar justru telah terkikis oleh budaya manipulatif dalam berbagai hal.

Yang paling mencolok adalah budaya manipulatif proposal yang virusnya saat ini telah menyebar ke berbagai organisasi kepemudaan, baik di dalam lingkungan institusi pendidikan semacam badan eksekutif mahasiswa (BEM) maupun di dalam lingkungan masyarakat seperti karang taruna dan organisasi masyarakat kepemudaan lainnya.

Bahkan kadang mereka tak hanya memanipulasi proposal, tetapi sudah berani memfiktifkan proposal. Nantinya, bisa-bisa cita-cita mulia bernegara ikut dimanipulasi, mulai dari pengerukan kekayaan alam sampai pengabaian terhadap harkat dan martabat sesama manusia. Imbasnya, pengangguran akan lebih merajalela; demikian pula komunalisme (paham yang mementingkan kelompoknya).

Saling berebut kekuasaan dan menjadikannya sebagai sumber menguras harta negara sehingga korupsi merajalela, juga merupakan dampak yang dikhawatirkan dari memanipulasi cita-cita bernegara.

Melihat kenyataan-kenyataan itu, hendaknya perlu ada penataan dulu di lingkup pemuda. Moral serta etika kaum muda harus ditata dulu, sehingga jika pada akhirnya mereka betul-betul terpilih menjadi pemimpin bangsa, moral dan etikanya telah tertata dan secara spiritual sudah siap. Imbasnya, permasalahan mendasar yang dialami bangsa ini -yaitu korupsi- tidak tumbuh subur lagi.

Seperti yang pernah diungkapkan oleh Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor, Saifullah Yusuf, kaum muda itu mudah terpeleset oleh kenikmatan dan mudah memberhalakan kekuasaan.

Selain itu, kaum muda mesti mempunyai keunggulan, daya saing, dan penguasaan iptek. Dengan mempunyai karakter diri yang kuat serta integritas yang tinggi pula, pemuda menjadi tak mudah terombang-ambing oleh desakan-desakan dari pihak lain yang berniat merugikan dirinya; serta dengan modal itu pula membuat pemuda betul-betul berwatak idealis, seperti vokal, kritis, serta mempunyai komitmen tinggi demi kepentingan umum dan tidak mudah tergoda untuk menikmati kekuasaan jika sudah berada dalam lingkaran kekuasaan.

Untuk mewujudkannya, para pemuda mesti menempa kedewasaannya melalui organisasi kemasyarakatan. Ketimbang parpol, organisasi masyarakat kepemudaan lebih tepat untuk dijadikan sarana mengembangkan pengetahuan dan pengalaman, terutama masalah keorganisasian serta sebagai sarana penguatan konsep diri.

Hal tersebut tidak bisa didapatkan di parpol, karena dasar ideologi parpol adalah politis, sehingga pendekatan berbagai permasalahan pun secara politis pula. Tak heran apabila keputusan internal organisasi parpol sering berbeda dari yang diungkapkan ke publik. Tak heran pula jika nantinya seorang pemimpin yang dihasilkan oleh parpol lebih akrab dengan tindak korupsi.(68)

--- Hadziq Jauhary, aktivis Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kota Semarang.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA