| Kamis, 15 Nopember 2007 | NASIONAL |
Lolos dari Maut, Pingsan di JalanRABU siang itu (14/11), di sela-sela kepadatan arus lalu-lintas di kawasan Kampung Kali di Jl DI Panjaitan, tiba-tiba seorang wanita terlihat belari tergopoh-gopoh. Dia seperti tak menghiraukan kendaraan yang melintas cepat. Brabattt...wanita itu pun nekat menyeberang jalan sembari berteriak meminta tolong. Tangannya melambai-lambai mencari perhatian orang di sekitar. ''Tolong, tolong! Di dalam (rumah) masih ada satu teman saya lagi,'' kata wanita yang mengenakan baju berwarna hijau itu. Sontak sejumlah pengendara sepeda motor pun menghentikan kendaraan dan mendekatinya. ''Ada apa Mbak?'' tanya seorang pria yang menghentikan laju motornya. ''Rampok Pak, rampok !'' kata wanita itu. Namun saat hendak ditanya lebih lanjut ...bruk, dia malah jatuh pingsan. ''Warga yang mengetahui peristiwa itu langsung mengerumuni wanita tersebut. Sebagian lainnya mendatangi rumah yang dirampok,'' kata Heri (34), pemilik kios minuman yang berjualan di dekat lokasi perampokan. Selanjutnya dia dibawa ke RS Telogorejo untuk mendapatkan pengobatan. Wanita itu tak lain adalah Kartini (30), warga Kebumen. Dia bekerja sebagai pembantu rumah tangga bersama dua temannya, Rumini (34) dan Samini (65), di rumah milik Saputra di Jl DI Panjaitan nomor 96 Kota Semarang. Sejumlah warga yang berbondong masuk ke rumah, langsung berusaha menenangkan kepanikan dua pembantu rekan Kartini. Seorang warga kemudian langsung menelepon penjagaan Polsekta Semarang Tengah dan Polwiltabes Semarang. Selang beberapa menit, mobil patroli dari Polsekta Semarang Tengah tiba di lokasi. Menyusul kemudian penyidik gabungan dari Polda Jateng, Polwiltabes Semarang, dan Polresta Semarang Timur. Di ruang instalasi gawat darurat (IGD) rumah sakit dan dalam kondisi lemas, Kartini mulai siuman dan mencoba bercerita kalau baru saja menjadi korban penganiayaan kawanan rampok di rumah majikannya. ''Pelakunya, tiga orang pria berbadan besar dan berambut cepak. Mereka mengancam akan membunuh kalau kami berteriak,'' tutur Kartini, lirih. Dia bercerita, saat itu menolak untuk menunjukkan tempat menyimpan perhiasan majikannya. Sikapnya itu mengundang kemarahan salah seorang perampok. Tak pelak, rambutnya langsung dijambak dan kepalanya dibenturkan ke tembok. Tak puas dengan itu, Kartini juga diancam dengan pistol. Dua pelaku lainnya pun melakukan hal yang sama. Mereka mengancam Rumini dan Samini dengan menggunakan pisau yang diambil dari ruang dapur. Kemudian membentak menyuruh ketiga pembantu masuk ke dalam kamar mandi. ''Kalian semua masuk ke kamar mandi! Kunci, kunci, dari dalam. Kalau tidak mau, akan saya matiin,'' kata Kartini menirukan ucapan salah seorang pelaku. Bel Rumah Selanjutnya, ketiga wanita itu berada di dalam kamar mandi dan tidak mengetahui apa yang sedang dilakukan oleh para pelaku. Sekitar setengah jam kemudian, seorang tukang pos datang dan membunyikan bel rumah. Mengetahui ada tamu datang, tanpa memikir panjang Rumini pun berlari keluar rumah. Tak lama berselang, Kartini mengikuti aksi kawannya itu. Sedangkan Samini memilih berdiam diri di kamar mandi lantaran takut dengan ancaman yang dilontarkan para pelaku. ''Waktu itu, saya tidak tahu persis apakah para pelaku masih di dalam rumah atau tidak. Ternyata ketika saya keluar, mereka (pelaku) sudah kabur,'' ungkap dia. Kini, wanita yang masih terbarik lemas di RS Telogorejo masih sulit untuk diajak bercerita banyak. Bahkan terlihat trauma atas kejadian perampokan yang menimpanya. ''Saya takut, takut sekali...orangnya galak. Mau membunuh saya,'' tutur dia dan seperti sudah enggan diajak berbicara lebih jauh lagi. Salah seorang perawat rumah sakit itu pun menyarankan agar korban beristirahat terlebih dulu. Jangan terlalu lama diajak berbicara. Karena selain kepalanya masih sakit dan pusing, korban juga masih trauma atas kejadian yang baru saja dialami. Hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) di rumah mewah itu, ditemukan dua sidik jari berbeda. Bahkan jika Kartini dan rekannya sudah membaik, dia bakal jadi saksi kunci. Penyidik pun telah menyediakan tukang gambar wajah untuk memudahkan perburuan pelarian tiga perampok itu. (Adi Prianggoro, Riyono Toepra, Fahmi ZM-46) |