logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 15 Nopember 2007 NASIONAL
Line

''Saking Trisnanipun, Kula...''

PEMAKAMAN jenasah Sarmi (45), di Dusun Gales, Desa Sidorejo, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang, diiringi isak tangis keluarga saat perjalanan keranda menuju kuburan di ujung desa itu.

Tangis paling histeris terdengar dari Yani (22), anak bungsu korban. Dia menyesalkan peristiwa yang menyebabkan kematian ibuda tercinta. Apalagi pembunuhnya adalah ayahnya, Jimin Daryanto (50).

Dia mengaku tak mengetahui banyak tentang kehidupan kedua orang tuanya. Wanita itu sudah membangun rumah tangga bersama suaminya dan kedua anaknya, di desa tetangga.

Setahunya, ayahnya akhir-akhir ini sering mengurung diri di kamar. ''Saya hampir tak pernah berkomunikasi karena seringkali marah-marah jika melihat anaknya," katanya.

Dia pun tak mengetahui penyebab mengapa ayahnya mengalami perubahan perilaku seperti itu. Sosok ibunya, kata dia, sangat tabah menjalani kehidupan rumah tangga bersama ayahnya yang dikenal ringan tangan itu.

Menurutnya, ibunya hampir tak pernah mengeluh meski seringkali dimarihi dan dipukul bapaknya. ''Ibu sangat sabar dan tabah, hampir tak pernah mengeluh meski mendapatkan perlakuan yang kasar dari bapak," katanya.

Yani memiliki seorang kakak, yaitu Yanti (25) tinggal di Kalimantan dan sudah memiliki dua anak. Kakaknya juga sudah diberitahu peristiwa yang menimpa ibunya itu.

Juragan Tahu

Secara ekonomi, kedua orang tuanya dinilai lumayan, karena memiliki pabrik tahu yang mempekerjakan dua orang. Namun, setelah perilaku ayahnya berubah usaha itu dikelola ibunya. Perilaku ringan tangan Jimin juga diakui kakak kandungnya, Muhrinah (60). Selain itu, adiknya itu juga pemabuk berat. Memag, kata dia, sebagai juragan tahu pendapatannya lumayan, namun dia menyayangkan sebagian penghasilannya digunakan untuk membeli minum-minuman keras.

''Samakin tua bukannya semakin sadar tapi makin menjadi. Namun, dalam satu tahun terakhir ini ada iktikad baik untuk berubah dan bertobat, sehingga lebih menyendiri di dalam kamar," katanya.

Namun, semenjak menyendiri perilakunya justru berubah, seringkali marah kepada saudaranya dan takut ketika terlihat orang lain, apalagi polisi. Akhirnya yang menjadi sasaran kemarahan tersangka adalah Iyuk, istrinya. ''Sayang kemarahan itu harus berakhir tragis. Apakah kemarahan itu disulut oleh pelayanan istri yang masih kurang, saya tak tahu. Keduanya sudah tak seranjang," katanya.

Kecintaan tersangka yang mendalam kepada istrinya, juga terungkap dalam beberapa tulisan atau catatan Jimin yang ditemukan polisi di lokasi kejadian. Kertas putih bergaris itu sebagian sudah terkena bercak darah, namun tulisan gedhlik berbahasa jawa itu masih bisa dibaca. Tulisan itu antara lain, ''Kula nindake niki saking trisnanipun dateng bojo kulo (saya melakukan seperti itu karena kecintaan saya terhadap istri saya-red)".

Catatan itu diduga polisi ditulis tersangka seusai membunuh istrinya. Selain itu, tulisan tersangka lainnya, tertanggal 5 November. ''Iyuk Manut Jimin. Salat kudu rampung. Lungo kudu pamit. Kudu jujur (Iyuk tunduk kepada Jimin. Salat harus selesai. Pergi harus pamitan. Harus Jujur-red)". Selain itu juga tertulis sebuah doa dengan tulisan gedhlik, ''Lhakhaula walaakuwata billlah".

Ketiga catatan Jimin itu ditulis terpisah, satu tulisan ditulis di kertas bergaris dan lainnya ditulis di kertas gambar atau disobek dari lipatan buku gambar. Semua tulisan itu kini menjadi barang bukti.

Menurut salah seorang anggota polisi yang melakukan olah TKP dari semua tulisan itu sebagai ungkapan kecintaan pelaku kepada korban. Kemungkinan juga bisa diartikan kecurigaan tersangka kepada korban yang keluar tak berpamitan.''Semua masih menjadi misteri yang belum terungkap," katanya.(Sholahuddin al-Ahmed-77)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA