| Kamis, 15 Nopember 2007 | NASIONAL |
Ilmuwan Berhasil Kloning Monyet
NEW YORK - Para ilmuwan di Oregon menyatakan telah berhasil mewujudkan keinginan lamanya yaitu mengkloning embrio monyet dan mengekstrak sel induk dari binatang tersebut. Hal itu merupakan langkah besar untuk melakukan eksperimen serupa pada manusia. Namun riset tersebut belum dipubliksikan atau dikonfirmasi oleh ilmuwan lain. Jika benar, eksperimen itu memberikan harapan baru dalam bidang kloning. Keberhasilan kloning embrio monyet diharapkan membuka kemungkinan untuk menciptakan jaringan transplantasi yang secara genetika cocok dengan penerima organ cangkok. Karena, sel-sel induk bisa membentuk semua jenis jaringan, metode kloning organ cangkok mungkin bisa digunakan bagi penderita diabetes dan cedera syaraf tulang belakang tanpa khawatir lagi organ cangkok akan ditolak oleh tubuh pasien. Para ilmuwan telah bertahun-tahun berusaha mengkloning embrio monyet dan mengekstrak sel induknya karena binatang itu punya hubungan lebih dekat dengan manusia dibanding binatang lain. Sehingga apa yang bisa dilakukan pada monyet, diharapkan memberi petunjuk tentang cara melakukannya pada manusia. Keberhasilan itu telah dilaporkan awal tahun ini pada satu pertemuan ilmiah di Australia oleh Shoukhrat Mitalipov dari Pusat Riset Primata Nasional Oregon di Portland. Namun, ketika itu media nyaris tidak menyoroti. Eksperimen itu baru mendapat sorotan setelah harian London The Independent melaporkan Selasa lalu. Mitalipov belum bersedia diwawancarai. Namun ilmuwan lain, Jose Cibelli dari Michigan State University, Selasa lalu mengatakan dia mendengar presentasi Mitalipov itu pada pertemuan di Australia. ''Bagi saya, keberhasilan itu merupakan terobosan,'' kata Cibelli, yang mempelajari kloning dan sel induk. Prestasi itu menunjukkan ''kloning embrio monyet mungkin dilakukan''. Dalam kloning untuk mendapatkan sel induk, DNA binatang dewasa dimasukkan ke dalam telur yang belum dibuahi. Telur tersebut tumbuh menjadi embrio muda, dan sel induknya diekstrak. Sel-sel induk ini, dan jaringan yang berkembang, akan dicocokkan secara genetika dengan sumber DNA. Kontroversi Ide untuk melakukan eksperimen ini pada manusia menimbulkan kontroversi karena embrio-embrio itu harus dihancurkan untuk mendapatkan sel induk. Meski telah berhasil pada monyet, ''kami belum berpikir untuk menerapkan teknik ini pada manusia'', jelas Cibelli. "Hasil-hasil yang dilaporkan itu kurang efisien, sehingga membutuhkan banyak telur untuk menghasilkan sel induk, " lanjutnya. "Selain itu, prestasi tersebut menunjukkan monyet bisa digunakan untuk mempelajari potensi sel induk embrio yang dihasilkan lewat kloning," kata Cibelli. Kloning lebih dikenal untuk memproduksi bayi binatang bukannya sel induk, seperti domba Dolly. Namun, meski sementara orang menganggap perkembangan baru ini sebagai langkah maju untuk menghasilkan bayi manusia lewat kloning, kami menentangnya," jelasnya.(ap-niek-26) | ||||