| Kamis, 15 Nopember 2007 | MURIA |
WORO WORODana PI Blok Cepu SiapBLORA - PT Blora Patragas Hulu (BPH), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang dibentuk dalam rangka turut serta mengelola participating interest (PI) Blok Cepu menyatakan telah menyiapkan dana jika sewaktu-waktu diminta operator minyak dan gas (migas) Blok Cepu. Hanya hingga kini ExxonMobil dan Pertamina selaku operator lapangan migas Blok Cepu belum meminta dana tersebut. "Untuk dana penyertaan modal PI, sudah tidak ada masalah. Kapan pun diminta kami sudah siap," ujar Direktur Utama (Dirut) PT BPH A Noveri SE, kemarin. Dia menyatakan, konsorsium BUMD PI Blok Cepu saat ini tengah berkumpul di Jakarta. Perwakilan BUMD Blora, Bojonegoro serta BUMD Jateng dan Jatim tengah mengikuti pelatihan pengelolaan bidang perminyakan. Menurutnya, hingga kini kebutuhan biaya eksplorasi yang dituangkan dalam plan of development (PoD) lapangan migas Blok Cepu belum dipastikan. Namun diperkirakan jumlahnya sekitar Rp 25 triliun. Dari jumlah itu dana yang harus disetorkan PT PBH Rp 589 miliar. (H18-36) Depo Batu Putih Diprotes PATI - Keinginan memindahkan depo batu putih di Desa Sirahan, Kecamatan Cluwak, Pati, hasil penambangan di Gunung Truwili dan Blingoh, Kecamatan Keling Jepara disampaikan pengurus Koperasi Serba Usaha (KSU) Panca Marga Pati. Bahkan, dalam kesempatan rapat bersama tokoh masyarakat Sirahan, semalam, mereka minta bantuan warga ikut mencarikan calon lokasi baru. Dalam pertemuan di kediaman Ketua RT 8 RW 4, Desa Sirahan, Sodri, pengurus koperasi H Suharso meminta waktu sebulan kepada warga untuk mencari lokasi baru. Sebelumnya, KSU juga menawarkan untuk memenuhi janji yang belum dipenuhi, yaitu menyediakan air untuk membersihkan ceceran batu putih di jalan raya. Selain itu, pihaknya juga akan menutup muatan dalam truk pengangkut dengan terpal. Namun, tawaran itu tetap ditolak warga. Pasalnya, selain menimbulkan polusi lingkungan, keberadaan depo di Sirahan juga menyebabkan saluran irigasi tersumbat. (H49-19) Tersangka Tahap II Diperiksa KUDUS - Kejaksaan Negeri (Kejari) Kudus akan memeriksa tersangka kasus dugaan korupsi APBD 2002-2004 tahap II mulai pekan depan. Mereka yang diperiksa tersebut merupakan anggota panitia rumah tangga (PRT) dan panitia anggaran (Panggar) DPRD periode 1999-2004."Kami akan melakukan pemeriksaan terhadap tersangka mulai pekan," ujar Kajari Kudus Sulijati SH melalui Kasi Pidsus Sukarman SH. Rabu (14/11). Dia menyebutkan, penanganan kasus dugaan korupsi tahap II ini sudah berlangsung empat pekan. Selain menghadirkan saksi dari eksekutif dan legislatif, pihaknya juga sudah mendengarkan keterangan dari pelapor dan tersangka tahap I. "Besok pagi (hari ini-Red), kami akan meminta keterangan dari saksi ahli," ujarnya.(H8-36) JTIC Kembangkan Pariwisata JEPARA - Pembentukan Jepara Tourism Information Center (JTIC) yang masih satu kompleks dengan Dinas Pariwisata (Disparta) bertujuan untuk mengembangkan kegiatan pariwisata di Kabupaten Jepara. Peranan informasi dalam pengembangan sebuah pembangunan, khususnya berkaitan dengan sisi promosi yang relatif lebih dominan. Hal itulah yang mendasari pembentukannya. Pendapat itu disampaikan Ketua JTIC Syamsul Arifin SE, Rabu (14/11). Lembaga yang beberapa waktu lalu terbentuk itu akan melakukan beberapa program yang mengarah pada pembangunan Jepara secara menyeluruh, bukan hanya dari sektor pariwisata. "Awal 2008 action plan membuat website dan mengharapkan peran serta masyarakat untuk mewujudkan Jepara sebagai salah satu kota tujuan wisata." JTIC juga akan membentuk sebuah badan usaha untuk mendongkrak laju pertumbuhan ekonomi secara makro dan mikro. (J4-69) Petani Masih Kesulitan Air REMBANG - Para petani di Rembang saat memasuki masa tanam pertama masih kesulitan air. Sejumlah saluran irigasi kering sehingga belum ada air yang mengalir ke sawah. "Kami sudah membuat persemaian padi tetapi belum ditanam di sawah. Masalahnya cuma satu, airnya belum mencukupi," ujar petani asal Sumber, Sugiono (58), yang dibenarkan petani lainnya, Tarmudi (48) dan Lestari (54). Hal senada diungkapkan Muhamad Toha, petani penggarap dari Desa Tegaldowo, Kecamatan Gunem. Dia sudah telanjur mencabut persemaian padi dan menanam di sawahnya. Namun, hingga kini belum bisa mendapat air dari saluran irigasi. Para petani di sepanjang saluran irigasi Embung Banyukuwung, Sumber juga belum mendapatkan air untuk pengairan sawah. Hal itu terjadi karena debit air embung itu menyusut hingga titik terendah. Akibatnya, air belum dapat mengalir ke saluran irigasi.(jl-69) |