logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 14 Nopember 2007 WACANA
Line

Pesona NU dalam Pilgub

  • Oleh Amirudin

SELALU saja dalam pemilihan kepala daerah (pilkada), Nahdlatul Ulama (NU) menjadi perhatian serius bagi para bakal calon (balon). Hampir semua balon mengakui NU memag fantastis, sebab tak ada satu organisasi kemasyarakatan (ormas) pun yang memiliki kapital politik sebesar organisasi itu. Bisa dibayangkan bila balon berhasil menguasainya.

Dilihat dari jumlah anggotanya, berdasarkan survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang dilakukan berulang-ulang, sekitar 35% dari seluruh pemilih pemilihan umum (pemilu) mengidentifikasikan diri sebagai keluarga besar NU. Angka itu sangat jauh dibandingkan dengan ormas nomor dua, Muhammadiyah yang hanya berkisar 6-10 persen; Jawa Tengah termasuk penyokong warga NU terbesar di antara besaran angka persentase tersebut.

Itu berarti, siapa yang mampu menguasai NU potensial menguasai 35% dari suara pemilih. Dalam pertarungan politik, jelas angka itu sangat berarti. Tinggal mencari tambahan 16%, seorang kandidat yang didukung komunitas NU akan terpilih menjadi gubernur.

Aspek Kuantitas

Sementara itu dalam pemilihan gubernur (pilgub) langsung, aspek kuantitas suara jauh lebih penting daripada sisi kualitasnya. Siapa pun yang didukung oleh kuantitas suara yang lebih besar, akan lebih kuat. Tak peduli dengan kualitas dukungannya.

Hal lain yang membuat NU mahal secara politik adalah jaringannya. Kehadiran NU dalam sejarah jelas jauh lebih tua dari partai politik mana pun. NU termasuk ormas yang paling tua, yang kini masih tegar berdiri dan beroperasi. Tradisi silahturahmi antarjaringan NU yang hingga kini terbina, tentu termasuk yang paling mengakar. NU juga hadir di seluruh pelosok Tanah Air, walau lebih terkonsentrasi di Jawa.

Untuk dunia politik, jaringan yang solid di seluruh teritori seperti itu sangat bernilai jual. Sementara itu semua partai yang ikut dalam pemilu belum tentu dapat mengembangkan jaringan politik yang bersifat kultural dan emosional seperti ormas tersebut. Jika partai atau politikus itu dapat tersambung dengan jaringan NU, ia akan menjadi kekuatan politik mahadahsyat yang mendapatkan dukungan grass root.

Hubungan antara pemimpin lokal NU dan komunitas lokalnya juga memiliki pertautan khusus. Hubungan kiai dan santri terjalin saqngat emosional dan dalam dibandingkan dengan hubungan antara ketua umum partai dan anggota partai, misalnya. Kiai lokal dengan mudah menjadi representasi komunitas lokal NU. Dengan menguasai kiai lokal, komunitas lokal NU juga sedikit banyak akan terbawa.

Mobilisasi Politik

Fenomena itu membuat NU makin memiliki daya pesona secara politik. Jika komunitas NU terlalu mengambang -walau jumlahnya jutaan-, politikus dan partai politik (parpol) memang akan kesulitan "menggalinya". Namun dengan adanya kejelasan peran para kiai lokal, mobilisasi politik akan jauh lebih mudah dilakukan. Pada tataran itu, NU menjadi makin tinggi nilai kapital politiknya.

Sejarah NU makin mengentalkan pula daya tarik politiknya. Sejak reformasi, siapa pun yang menguasai organisasi itu segera akan menjadi figur politik terpenting. Gus Dur yang pernah menjadi Ketua Umum PBNU, tercatat sebagai Presiden RI yang pertama di era reformasi. Hasyim Muzadi yang juga pernah menjadi Ketua Umum PBNU, pernah menjadi calon wakil presiden, sebuah jabatan yang juga diperebutkan. Hanya, nasib Hasyim tak semulus Gus Dur dalam perolehan jabatan politik.

Dengan catatan sejarah seperti itu, nuansa politik NU semakin bersinar. Itulah sebabnya, politikus dan parpol yang cerdas pasti akan melihat NU sebagai emas yang berkilau. Mungkin tokoh dan elite NU itu sendiri yang tertarik untuk menjadi pejabat publik, seperti dalam kisah Gus Dur dan Hasyim Muzadi dengan memanfaatkan kapital politik yang dimiliki NU.

Niat terlibat politik praktis itu, tentu dilandasi dengan semangat mulia dalam kerangka membawa kesejahteraan lebih jauh bagi komunitas NU. Karena itu NU terus didorong menjadi kapital yang sangat berarti dalam transaksi politik.

Jika elite NU tak tergoda, tentu politikus dan parpol-parpollah yang akan terus menggoda. Politikus atau parpol tentu menginginkan kemenangan dalam pilgub. Jika mereka mampu menggandeng pimpinan NU, kemenangan politik itu diprediksi jauh lebih mudah untuk diraihnya.

Sementara itu politikus dan partai politik lain umumnya menguasai semua cara untuk menggoda. Aneka iming-iming berupa bantuan dan atau jabatan publik bagi elite tertentu di NU segera disodorkan.

Tetapi yang terlupakan, godaan itu sering menampakan diri ibarat "kilauan mata ular". Ia sungguh menarik karena berkilau, namun sekali didekati kalau tidak hati-hati dapat membawa kita masuk ke dalam mulut ular itu.

Demikianlah, kapital politik NU memang terlalu menggoda, dan pilgub sudah ada di depan mata. Dalam konteks itu, warga NU tentu berharap, NU tetap beruntung dengan pesona politik yang dimilikinya, sekalipun dalam permainan politik selalu saja harus menyisakan cerita suka dan duka.(68)

- Amirudin, ketua Mapilu PWI Jateng


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA