logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 14 Nopember 2007 MURIA
Line

SDN Sirahan 01, Dulu Terkenal Kini Nyaris Terkenang

SALAH satu cikal bakal pendidikan umum di Kecamatan Cluwak, SDN Sirahan 01, kini kondisi bangunannya memprihatinkan. Sekolah yang dulunya bernama Sekolah Rakyat (SR) Mojo itu, diperkirakan dibangun sebelum 1945.

Seiring perkembangannya, sekitar 1976 ada penambahan ruang kelas sehingga beralih nama menjadi SDN Sirahan. Saat itu, tidak hanya dimanfaatkan warga desa setempat, namun masyarakat di lima desa sekitar juga menyekolahkan anak-anaknya di SD tersebut.

Karena kurang mendapat perhatian, dalam kurun waktu puluhan tahun, lima ruang kelas kondisinya rusak berat. Hampir semua atap ruangan lapuk, sehingga pada musim hujan bocor. Belum lagi, sebagian temboknya juga telah retak.

Ruangan yang cukup parah kerusakannya, dipergunakan untuk belajar mengajar kelas V dan VI. Sedangkan kelas I dan II terpaksa menempati satu ruangan yang disekat papan karena jumlah hanya lima.

Kepala SDN Sirahan 01 Sadani mengaku, tidak bisa berbuat banyak dengan keadaan tersebut. Sejak dirinya bertugas dua tahun lalu, kondisinya sudah seperti itu.

"Tahun kemarin, kami sudah mengajukan bantuan ke pemerintah tetapi belum mendapatkannya. Rencananya, kami akan tetap mengajukan tahun depan," ujar dia saat dihubungi, kemarin.

Upaya yang bisa dilakukan, lanjut dia, hanya nyulami (mengganti) genteng pecah. Demikian pula dengan tembok yang retak ditambal sekenanya.

Keadaan yang demikian parahnya membuat masyarakat sekitar enggan menyekolahkan anaknya di SD tersebut. Kini murid yang tersisa tinggal 56 anak. Kelas I sebanyak 11 anak, kelas II (7), kelas III (11), kelas IV (8), kelas V (10), dan kelas VI (9 anak).

Wedi Ketiban

Bekas ketua komite sekolah itu, Ahmad Masruri mengaku pernah menanyakan kepada sejumlah masyarakat kenapa tidak tertarik mendaftarkan anaknya ke SDN Sirahan 01.

Rata-rata mereka mengkhawatirkan keselamatan anaknya. "Wedi ketiban kentheng," ucap Masruri menirukan jawaban warga sekitar.

Saat itu, ahli terapi hipnotis ini juga berusaha menghimpun dana dari para alumnus. Karena kekuatan mereka terbatas, hanya menarget Rp 10 juta.

"Minimal untuk menempel bagian-bagian yang membahayakan keselamatan siswa. Sebab tanpa perhatian dari masyarakat, makin tua usia gedung, makin takut orang tua menyekolahkan anaknya ke situ," jelasnya.

Upaya itu karena dirinya merasa eman, jika SD yang menjadi sejarah pendidikan di Cluwak bagian barat harus tutup karena gedungnya tidak aman.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Pati Sarpan menyatakan, pemberian bantuan untuk fisik dan media pembelajaran serta perpustakaan dari DAK berlangsung bertahap. "Jika masih ada SD yang rusak parah tapi belum mendapat jatah, kemungkinan bisa mendapatkan pada tahun berikutnya." (M Noor Efendi-54)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA