SUARA MERDEKA
 
INDEKS WACANA Selasa, 13 Nopember 2007

Sejak awal kebijakan konversi energi dari minyak tanah ke gas elpiji sudah menimbulkan pro dan kontra. Maklumlah ini menyangkut banyak faktor mulai dari soal kebiasaan hingga masalah kemampuan ekonomi masyarakat kecil. Akhirnya bisa dipahami karena memang kebijakan itu mempunyai tujuan yang baik.

Setelah geger kekerasan di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), kini peristiwa serupa -- yang ditengarai telah berlangsung lama -- meletup di sebuah SMA di Jakarta. Bahkan kekerasan itu membentuk pengelompokan yang terorganisasi, berjaringan, dengan aksi penyiksaan dan pemalakan.

BELAKANGAN ini wacana merger kembali mencuat, setelah beberapa pemilik bank teradang oleh aturan kepemilikan tunggal perbankan (single presence policy/ SPP). Padahal, mereka diharuskan memasukkan rencana bisnis atas bank-bank miliknya sampai batas waktu akhir Desember 2007 ini. Jadilah mereka "terpaksa" melakukan konsolidasi atas bank-bank miliknya; atau kalaupun tidak,

UNDANG-Undang Dasar 1945 menetapkan bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Namun sudah sejauh manakah perkembangan pembangunan kesehatan di Indonesia? Bagaimana keadaan derajat kesehatan rakyat Indonesia?

TULISAN Benni Setiawan berjudul "Sarjana, Kembalilah ke Desa" (SM, 20 Oktober 2007, hlm 6)cukup ideal. Sejalan dengan itu, muncul pertanyaan "Untuk apa para sarjana kembali ke desanya?"Kalau tujuannya hanya untuk membantu rakyat menjadi melek huruf, tentunya dapat dilakukan oleh siapa pun juga yang bersemangat untuk itu,

Pada 5 Oktober 2007, saya mengirimkan surat Kilat Khusus lewat kantor Pos Pusat Semarang ke saudara di Desa Kewayuhan, Pejagoan, Kebumen. Tetapi entah mengapa sampai tanggal 18 Oktober 2007 surat belum juga sampai. Tanggal 22 Oktober saya konfirmasi ke customer service di kantor Pos Semarang dengan membawa resi.

  Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA