logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 13 Nopember 2007 WACANA
Line

Surat Pembaca

Pelayanan Pos

Pada 5 Oktober 2007, saya mengirimkan surat Kilat Khusus lewat kantor Pos Pusat Semarang ke saudara di Desa Kewayuhan, Pejagoan, Kebumen. Tetapi entah mengapa sampai tanggal 18 Oktober 2007 surat belum juga sampai. Tanggal 22 Oktober saya konfirmasi ke customer service di kantor Pos Semarang dengan membawa resi.

Jawabannya, surat sudah sampai di kantor Pos Kebumen 8 Oktober, diterima perangkat Kelurahan Pejagoan. Kemudian saya hubungi saudara di Kebumen agar menanyakan ke perangkat desa tersebut. Setelah dicari ternyata surat tidak ditemukan. Saya konfirmasi lagi ke kantor Pos Semarang tapi jawabnya tetap sama.

Kalau surat hilang, saya harus minta pertanggunganjawab siapa. Masak harus ke perangkat desa, mana tanggung jawab kantor pos pengirim. Petugasnya mengatakan tanggung jawab kantor pos pengirim hanya sampai pada kantor pos penerima. Padahal surat belum sampai pada alamat yang dituju. Kok hanya sebatas itu pelayanannya, apa tidak ada solusi lain.

Saya kecewa. Saat tanya kenapa surat tidak langsung diantar petugas pos penerima, padahal jaraknya ke alamat tersebut hanya 50 m, dijawab setiap wilayah kantor pos ada PKD (Pos Keliling Desa). Jadi tanggung jawab pos hanya sampai kelurahan tersebut. Apakah ini keteledoran saya, kantor pos atau perangkat desa, terserah yang menilai.

Saran kepada Pos Indonesia, sebaiknya lebih mengutamakan pelayanan surat sampai ke alamat bukan di kantor kelurahan. Kalau memang alamat yang dituju memungkinkan petugas bisa mengantar langsung Jalan sampai ke pelosok dapat dilewati motor sehingga tidak ada alasan lagi keterlambatan surat. Itu alasannya klasik.

Juga sebaiknya jangan menggunakan kantor kelurahan sebagai akhir tanggung jawab surat yang harus diantar. Terbukti banyak surat numpuk di kelurahan karena kelalaian perangkat desanya.

Muchtarul MC

Jl Musi I Blok C/1 Bugangan, Semarang

Kecewa Nokia

Aku beli Nokia 3110 tipe baru di counter ternama di Purwokerto dengan garansi. Sampai di rumah bisa aktif, tapi hari berikutnya sudah tak bisa ngisi. Aku bawa ke tokonya tapi jawaban begitu luwes: "Maaf Mas tolong dicek dulu ke dealer resmi "Nokia Care" barangkali ada gangguan atau palsu.

Ternyata setelah dicek teknisi bilang: "Maaf ada kerusakan dan harus dikirim ke Jakarta nunggu sampai 15 minggu". Sungguh di luar kewajaran jawaban tersebut. Saya marah, ndongkol dan kecewa kenapa beli barang baru dan bersegel serta bermerk tapi ternyata rusak. Ada apa ini semua. Jangan-jangan barang bekas masuk kardus.

Yanto

Tipar RT 2/RW 3 Rawalo, Banyumas

***

Soal Donor Darah

Menanggapi tulisan Sdr Sobirin di Surat Pembaca 15 Oktober 2007 tentang donor darah, saya punya pengalaman menarik. Selama ini setiap makan telur baik telur goreng, asin atau rebus dapat dipastikan tiga hari kemudian menderita penyakit bisul (udunen-Jawa). Repotnya bisul tidak hanya satu tapi terkadang tiga sekaligus bersarang di pantat, di bawah hidung dan di dagu.

Bulan Oktaber 2006 saya ikut donor darah. Meski tidak rutin tiga bulan sekali tapi hasilnya hingga saat ini dapat saya rasakan. Sebab setelah ikut donor darah selama setahun dan meski sehari terkadang (karena hobi) makan sampai lima butir telur, tidak pernah sekali pun menderita bisul. Banyak manfaat yang saya rasakan, selain fit, tubuh pun akan terjaga dari penyakit.

Hari Yudhotomo

Gentan Kidul RT 2/RW 4 Boja, Kendal

***

Menawar Harga

Dalam situasi harga terus melambung seperti saat ini, diperlukan kepintaran menawar. Pada mulanya saya tidak percaya. Beberapa orang mengatakan, barang dagangan di pasar Tumenggungan Kebumen, selain bahan makanan pokok; biasanya juga ada barang dagangannya yang ditawarkan 3 atau 4 kali harga umum.

Kenyataannya, memang benar. Ketika saya berbelanja di dua kios berbeda 17 Oktober 2007, barang yang dibeli dan harga yang disepakati benar-benar mengejutkan. Betapa tidak. Harga sepasang sandal jepit merek Mutika buatan Tasik seharga Rp 7.500, sebelumnya ditawarkan Rp 27.500. Untuk harga satu frame kacamata merek Monaco Italia style hanya Rp13.000. Harga yang ditawarkan Rp 45.000.

Bagaimana harga barang yang lainnya, jawabnya sama saja. Oleh sebab itu, jika berbelanja di pasar Tumenggungan Kebumen, konsumen seyogianya mampu berpikir kritis, matematis dan berprinsip ekonomis. Jika tidak, bahkan bergaya bos dan gengsi maka akan kejeblos. Artinya barang yang dibeli jadi mahal.

Mengingat kondisi tersebut maka pandai-pandailah menawar. Bila perlu lakukan studi banding dengan pedagang di lingkungannya. Kemudian belanjakan uang sesuai kebutuhan. Selamat Berbelanja.

Darmadim MPd

Muktisari RT 3/RW 3, Kebumen

***

Penjahit Wedung

Surat pembaca saya beberapa waktu lalu tentang betonisasi di Demak mendapat tanggapan positif dari Bapak Mas'udi di Ngawen Wedung Demak sebagai pengusaha jasa penggergajian log kayu. Beliau mengharap masalah jalan bergelombang dan berlobang di beberapa wilayah sudah saatnya teratasi.

Hal itu mengingat rakyat sudah cukup sabar menghadapi persoalan tersebut. Tentu semua berharap rakyat jangan sampai acuh terhadap perkembangan desanya, meski sudah sekian generasi yang lari ke kota-kota besar seperti Semarang, Surabaya, Jakarta bahkan luar Jawa.

Lewat suratnya beliau juga titip pesan agar Pemkab Demak juga memperhatikan sektor lain misal, sarana dan prasarana fisik dan nonfisik bidang pendidikan di desa terpencil misal SD Babalan, Tambak, Ngawen. Bahkan ada guru yang harus jalan kaki karena akses jalannya rusak parah.

Saya masih ingat, dulu Kecamatan Wedung adalah sentra industri perahu karena paklik saya punya usaha bikin perahu. Tapi menurut informasi Pak Mas'udi, sekarang tinggal jejaknya saja bahkan ironisnya tempo hari kalau butuh perahu, Pemkab Demak harus pesan ke Tegal. Padahal Demak adalah kota pesisir pantai utara.

Mungkin ada baiknya Pemkab melibatkan lebih intens Ikatan Keluarga Wedung (Ikawe) guna pembangunan sosial, ekonomi, pendidikan khususnya di daerah Wedung. Meski sudah tidak sedikit yang pengusaha Wedung yang berhasil di berbagai kota memberi sesuatu kepada daerahnya.

Mudah-mudahan mereka seperti para pengusaha sukses Wonogiri di tanah rantau yang berhasil membangun daerah asalnya sehingga Wonogiri tidak lagi terkenal sebagai daerah minus dan terbelakang.

Noor Rofiq

Jl Wamena V/228-229, Ungaran

***

Pinjaman Kupedes

di BRI Nanggulan

Pada 26 April 2007 saya sebagai pelaku usaha ekonomi lemah mengambil Kupedes (Kredit Umum Pedesaan) sebesar Rp 15 juta dengan rincian: cicilan pokok Rp 625 ribu dan bunga Rp 300 ribu/bulan selama 24 bulan di BRI Unit Nanggulan Salatiga (fotokopi terlampir).

Pertimbangannya, BRI adalah bank pemerintah yang tidak mengutamakan keuntungan semata, tapi membantu rakyat kecil di pedesaan dan pengusaha ekonomi lemah. Pada waktu itu saya tidak diberi salinan Surat Perjanjiannya. Baru setelah saya meminta dengan agak memaksa surat tersebut diberikan.

Setelah berjalan 5 bulan, saya melihat ada BPR (Bank Perkreditan Rakyat) yang memberikan bunga pinjaman lebih rendah yaitu sebesar 0,9%/bulan hingga saya putuskan untuk menutup sisa pinjaman di BRI.

Tetapi saya terkejut ketika diberitahu petugas bank bahwa untuk menutup sisa pinjaman dikenai bunga 1+3.

Artinya, 1 untuk bunga bulan yang sedang berjalan ditambah bunga untuk 3 bulan ke depan. Padahal di perjanjian tidak disebutkan hal seperti itu. Karena saya awam dan tidak tahu seluk-beluk perbankan dan minta keringanan pun ditolak, akhirnya dengan terpaksa saya bayar juga sisa pinjaman beserta bunganya 1+3.

Seperti inikah peranan BRI dalam membantu rakyat kecil di pedesaan dan pengusaha ekonomi lemah? Bagi saya hal ini bukannya membantu tapi justru memberatkan, karena selain bunga tinggi juga ada tambahan bunga 3 bulan ke depan. Adakah LBH bersedia memberi dukungan dan bisakah hal ini dipersoalkan. Mohon tanggapan BI selaku pengawas perbankan.

Waspodo Y Artono (081390860646)

Ujung-ujung RT 1/RW 5 Pabelan,

Kab Semarang

***

Perpanjangan SIM

di Satlantas Kendal

Saya bingung ketika SIM habis masa berlakunya bertepatan dengan Hari Raya Lebaran. Bayangan akan kena denda besar ketika SIM tidak segera diperbarui masa izin berlakunya telah berada di pelupuk mata. Namun kebingungan tersebut segera sirna ketika seorang teman memberitahu pelayanan SIM di Satlantas Polres Kendal buka di hari ke-4 sesudah Lebaran.

Segera saya mengurus perpanjangan demi mematuhi peraturan dan menghindari tilang. Pelayanan di bagian SIM terasa mudah dan cepat. Saya tinggal minta berkas di Loket I, diisi lalu membayar administrasi, cek kesehatan, antre 5 menit lalu foto dan beres. Nggak lama, hanya butuh waktu sekitar 20 menit.

Pekerjaan di rumah pun tidak terganggu. Selain cepat, yang perlu diacungi jempol adalah keramahan dan kesabaran para petugasnya. Senyum dan sapaan hangat namun tanpa kehilangan kewibawaan sangat terasa di lokasi pembuatan SIM Polres Kendal. Kinerja yang cepat, rapi dan ramah itu semoga tetap dipertahankan dan ditingkatkan.

Bambang Widodo

Cepiring RT 7/RW 1, Kendal

***

Mohon Bantuan Studi

Mulai tahun akademik 2007/2008 saya studi lanjut S2. Saya guru dengan status tidak tetap/honorer, sedikit demi sedikit menabung untuk meraih cita-cita meningkatkan profesionalitas. Tapi tabungan saya belum mencukupi. Karena itu saya akan menjual mobil Daihatsu Hijet 1000 tahun 1986 yang kondisinya cukup baik untuk biaya kuliah.

Niko (0817467157)

Perum Condong Catur Sleman, Yogyakarta

Kesiapan PLN

Sejak voltage PLN berubah dari 120 volt menjadi 220 volt, listrik di Semarang kok sering mati terutama kalau ada petir atau hujan. Meski hujan tidak begitu deras, listrik mati bahkan satu malam bisa 2 kali matinya. Kiranya para teknisi PLN harus siap siaga termasuk alat sensitif yang perlu diganti untuk menghadapi musim hujan sekarang ini. Musim hujan biasanya berjalan sampai enam bulan dan dengan kesiapan PLN tersebut diharapkan tidak akan ada byar-pet mati. Dengan demikian akan menimbulkan kenyamanan bagi masyarakat

Moeljono HP

Jl Banteng Utara VII/1, Semarang

***

Korban Kecelakaan

Indonesia beberapa bulan lalu kehilangan salah satu tokoh komedinya, Taufik Savalas akibat kecelakaan di jalan raya. Bagi kita mungkin hat itu sudah dlpupus sebagai nasib. Tetapi ketika Paus Benediktus XVI beberapa bulan lalu mengeluarkan panduan bagi u8783mat Katolik agar mampu mengendalikan diri saat berkendaraan, hal itu menunjukkan betapa seriusnya masalah tersebut.

Bahkan PBB juga meluncurkan kampanye yang mengedepankan fakta bahwa ribuan remaja kehilangan nyawa atau cacat akibat terjadinya kecelakaan. Bagaimana menyikapi itu semua. Di Amerika ketika merebak kecelakaan akibat pengemudi mabuk, kaum ibu yang kehilangan anak atau suami membentuk organisasi MADD (Mother Against Drunk Driving).

Mereka berkampanye agar hal buruk itu tidak dialami keluarga Iain. Keluarga Adrian dan Bill Nelson dari New York (Reader's Digest, 5/2007) mengadakan acara lomba lari keluarga tahunan, Alec's Run untuk menyadarkan masyarakat agar hal buruk yang mereka alami tidak lagi terjadi.

Alec adalah anak balitanya yang tewas, tak sengaja terlindas mobil SUV (jenis mobil popular saat ini di dunia) saat dikeluarkan kakeknya dari garasi. Di negara yang berlabel kapitalistis itu warga yang kehilangan justru tergerak untuk memberi. Bagaimana dengan kita yang Pancasilais ini dalam menyikapi hat itu semua ?

Selamat jalan komedian Taufik Savalas. Semoga kepergianmu yang mendadak beberapa bulan lalu mewariskan niat dan perbuatan mulia bagi semua untuk melakukan sesuatu yang dipandu kesadaran bahwa berkendaraan di jalan raya atau di rumah mampu mendatangkan bahaya fatal bila kita tidak mematuhi aturan dan etika yang seharusnya.

Bambang Haryanto (081329306300)

Jl Kajen Timur 72, Wonogiri

***

SM, Koran Terbaik

Keberadaan harian Suara Merdeka yang berslogan "Perekat Komunitas Jawa Tengah" sangat berarti bagi masyarakat. Terbukti dengan diraihnya penghargaan sebagai surat kabar daerah terbaik di Indonesia. Perubahan format yang dilakukan serta penambahan kolom, saya rasa dapat diterima meski ketika awal terbit dengan format baru, membuat saya bingung.

Terutama pada kolom pendidikan yang notabene ditulis para insan pendidikan, sekarang berubah drastis. Juga pengurangan kolom yang sering digunakan untuk sambungan sangat berbeda dengan format dulu. Kolom pendidikan dulu lebih banyak. Terlebih ketika kolom Kampus dipersempit, padahal banyak diminati. Justru seharusnya diperbanyak.

Sebagai insan pendidikan saya sangat menikmati dan memperhatikan kolom Kampus. Mohon redaksi mempertimbangkan seandainya kolom yang berkaitan dengan dunia teknologi informasi dimunculkan setiap hari untuk menambah minat baca kawula muda yang sekarang gencar mencari pengetahuan tentang teknologi informasi.

Dwi Cahyo PU

Buko RT 2/RW 1 Wedung, Demak

-Terima kasih masukannya, kami pertimbangkan-Red

***

Moralitas Wong Cilik

Di harian ini beberapa waktu lalu ada berita kejahatan berupa pencurian sarana kereta api. Salah seorang pelaku yang mengatakan dia miskin dan tak punya pekerjaan sehingga terpaksa mencuri. Dengan kata lain, faktor hidup kekurangan mendorongnya berbuat kriminal. Sepintas berkesan memelas memang, namun hemat saya hal itu alasan klise dari seorang pemalas.

Mengapa demikian?. Buka mata, lihatlah sekeliling. Masih banyak wong cilik yang meski hidup kekurangan tetapi sama sekali tidak kehilangan harga dirinya. Mereka rela bekerja apa saja, bahkan memunguti sampah dan barang rongsokan dengan menepiskan pandangan menghina dari kebanyakan kita. Asal tahu saja, bisnis rongsokan dan sampah kering cukup menjanjikan.

Jadi ini soal moralitas dan etos kerja. Artinya, bagaimana meyakinkan kepada orang yang belum beruntung itu untuk tetap memperjuangkan hidupnya dalam bingkai niat, tujuan dan cara yang halal. Karena itu sifat pemalas dan meminta belas kasihan harus dikikis dari watak wong cilik. Pujangga terkenal Kahlil Gibran menulis dalam syairnya:

Kau bekerja agar bisa tetap melangkah seiring irama dan jiwa bumi

Sebab berpangku tangan menjadikan orang asing bagi musim

Dan melangkah keluar dari perarakan kehidupan yang berbaris dalam keagungan.

Dan dengan bangga menyerah menuju keabadian

Pabila engkau bekerja, kau adalah sepucuk seruling yang melaluinya hati yang membisikkan sang waktu menjelma lagu

Siapa dari kalian mau menjadi sebatang buluh, dungu dan bisu

Tatkala semesta raya serentak menyanyi bersama?

Harapan saya kepada wong cilik yang hidup berkekurangan, jangan berhenti bekerja. Karena sesungguhnya dengan menyibukkan diri dalam kerja (apa pun asalkan halal) sesungguhnya kita telah mencintai kehidupan yang dianugerahkan Tuhan. Salam hormat dan penghargaan saya kepada wong cilik yang tetap mempunyai harga diri dan gagah dalam kemiskinan.

Heru Mugiarso

Jl Bukit Kelapa Sawit IV/30, Semarang


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA