logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 13 Nopember 2007 BUDAYA
Line

Cinta Itu soal Pilihan

SEKARANG saatnya kembali ke dunia nyata, yakni drama." Kira-kira seperti itulah jawaban Sony Gaokasak, sutradara film Tentang Cinta ketika diminta mengungkapkan alasan mengapa dia tidak getol membuat film hantu-hantuan yang kini tengah mengepung kita.

Rupanya, sutradara muda itu enggan terpancing membuat film yang dianggapnya keluar dari logika. "Masalahnya, cuma bagaimana mencari genre drama yang pas saja," tandasnya.

Drama yang dia maksud adalah cinta, cinta sepasang anak remaja. Lantas, apa menariknya film yang kemarin diputar serentak di seluruh gedung bioskop di Indonesia itu? Bukankah film dengan tema cinta juga sudah banyak?

Jawabannya sederhana. Ya itu tadi, kembali ke dunia nyata. Kalau ditanya perbedaan filmnya dibanding dengan film cinta lainnya, niscaya Sony akan bilang temanya sederhana, alurnya tidak njlimet, dan penonton diajak untuk merasakan feel-nya. "Karena, esensi film yang ditawarkan, bukan tidak mungkin pernah dialami sebagian dari kita."

Itu saja? Tidak, masih ada beberapa alasan lainnya. Yakni pemainnya. Tidak dimungkiri, nama Vino G Sebastian, Sheila Marcia Joseph, Fedi Nuril, dan Hayria Faturrahman adalah pesona bagi anak muda sekarang. Vino, misalnya, akting aktor muda bertampang tampan itu kian memantik perhatian setelah bermain prima dalam Badai Pasti Berlalu besutan Teddy Soeriaatmadja.

Sementara Sheila, boleh dikata bukanlah bintang baru di dunia layar lebar. Parasnya yang rupawan acap nongol hampir setiap hari di layar kaca, membintangi sederet sinetron remaja. Dia juga pernah terlibat penggarapan film Ekskul (2006) dan Hantu Jeruk Purut (2006).

Dipaksa Menangis

Dalam Tentang Cinta, Sheila laik diacungi jempol membawakan karakter tokoh Sheren, cewek yang saban hari sedih lantaran ditinggal mati tunangannya, Ray (Fedi Nuril). Sedangkan Hayria Faturrahman, bolehlah kita apresiasi sebagai bintang debutan. "Saya harus minta izin orang tua sebelum menerima tawaran. Sebab rambut saya kan dicukur plontos," ungkap Hayria saat menggelar jumpa fans dan nonton bareng di E-Plaza Semarang, belum lama ini.

Dalam acara yang digagas Indosat itu, Sheila Marcia mengaku berkali ulang dipaksa menangis. Banyak adegan yang dilakoninya dengan cucuran air mata. "Saya diwanti-wanti agar tak bosan-bosan menangis dan sedih. Untungnya saat syuting saya bisa menempatkan diri jadi Sheren," kata dia.

Sepertinya, Sony ingin mengajak penonton untuk menjelajahi visual yang indah di lokasi pengambilan gambar. Nyaris,seluruh adegan dibuat di tengah hamparan danau nan tenang, hutan hijau, hawa pegunungan, dan keasrian suasana pedesaan. Ini menjadi tengarai, dia tidak hanya sekadar menyodorkan pesan dari tema, tapi juga keartistikan sebuah film dibuat. (Fahmi Z Mardizansyah-45)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA