logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 12 Nopember 2007 WACANA
Line

Surat Pembaca

Agen Elpiji 3 Kg

Program konversi minyak tanah ke elpiji meski dengan berat hati, saya sebagai pangkalan elpiji tetap melaksanakan sesuai aturan dari agen, Pertarnina dan Pemda. Tapi untuk distribusinya di lapangan sangat menyakitkan dan mematikan saya sebagai pangkalan. Betapa tidak, agen yang seharusnya hanya sebagai distribusi malah harus ikut jualan ke toko yang notabene menjadi subpangkalan.

Bahkan ada agen elpiji 12 kg yang ikut-iktuan iualan 3 kg. Seharusnya pihak Pertamina mempertahankan jalur distribusi 3 kg seperti minyak tanah yaitu Pertamina - agen - pangkalan - konsulen. Agen boleh saja jualan asal harganya sesuai dengan BET bukan malah di bawah HET sehingga menyebabkan pangkalan tidak laku.

Padahal sebagian besar pangkalan adalah rakyat kecil yang berwiraswasta. Juga untuk agen 12 kg jangan ikut-ikutan jualan. Agen 3 kg awalnya agen minyak tanah yang sudah diangkat, demikian juga pangkalan. Tolong Pertamina dan agen kompak dan membuat aturan seperti minyak tanah sehingga semuanya berjalan dengan baik.

Mungkin agen 12 kg yang ikut-ikutan jualan 3 kg ingin merusak pasar dan agen Kg yang jualan adalah agen minyak tanah yang dulu tidak punyai jadwal pengiriman pasti sehingga waktu ada konversi menjadi kelabakan. Saya beruntung berada di bawah naungan agen yang tertib. Tapi dengan adanya agen 12 kg ikut-ikutan jualan, saya merasa dimatikan. Mari mendukung program ini dan jangan saling perang harga.

Supriyanto

Jl Mugas Brt VII/15, Semarang

Pergelaran Dagelan

Saat ini kondisi masyarakat dan negara seperti "pergelaran agung dagelan" massal. Sulit membedakan antara yang waras dan edan, mana pahlawan dan mana penghianat. Namun semoga falsafah Jawa becik ketitik sing ala ketara tetap berlaku abadi. Karenanya saya tak setuju dengan gagasan Pak Sudjarwo dalam tulisan "Rakyat Berotak".

Ketidaksetujuan saya dengan alasan seakan rakyat digiring pada paradigma fatalistik yaitu menganggap setiap kejadian tidak bisa dihindari. Betul memang, saat ini bangsa dan negara sedang remuk luar dalam. Analoginya seperti sebuah pilar yang luarnya tampak mulus dan kokoh namun sejatinya kondisi di dalamnya rapuh.

Menurut Pak Djarwo, solusinya rakyat harus berotak. Perlu diketahui, berotak saja tanpa memiliki iman akan berbahaya dan kacau. Iman merupakan pilar berdirinya bangunan moral yang sejati. Tanpa iman atau hanya menggunakan otak atau kecerdasan saja maka bangunan akan berupa kerajaan angkara murka.

Pertanyaan, iman seperti apa yang akan dikembangkan bersama dalam membangun bangsa ini. Apakah akan menggunakan iman agama tertentu saja atau iman universal. Iman adalah pondasi kepercayaan yang paling hakiki dalam hati sanubari seseorang. Iman universal menurut saya adalah humanisme atau kemanusiaan yang adil dan beradab.

Kalau individu menjunjung tinggi dan mengamalkan, saya kira hidup ini akan aman, damai, sejahtera dan mulia di mana pun berada. Wujud nyata dari kemanusiaan yang adil dan beradab bisa dimulai dari aja njiwit yen ora gelem dijiwit. Memang sederhana tapi sulit dilakasanakan.

Sebab pada dasarnya orang adalah makhluk serakah, tak pernah merasa puas, mudah bosan, sombong, adigang, adigung, adiguna, sok menang, sok pinter dan maunya benar sendiri. Orang adalah gudangnya kesombongan, baik karena agama, prestasi, kecerdasan/pengetahuan, kekayaan, kekuasaan atau bahkan karena kebodohan dan kemiskinannya. Aneh ya, miskin dan bodoh kok sombong.

Padahal orang sombong sebenarnya sedang menuju pada titik kehancuran. Kesombongan akan membuat lupa bahwa esensi hidup sebenarnya ibarat cakra manggilingan. Hukum abadi dari siklus alam adalah kabeh samubarang bakal rusak menawa wis tekan titi wancine.

Nah, sebelum segalanya menjadi rusak, mari berbagi pengetahuan untuk kehidupan yang lebih baik, bukan malah mempercepat proses kerusakannya. Proses rusaknya alam dan bangsa ini akan makin cepat bila sebagian besar rakyat berotak tapi meninggalkan iman. Karena itu mari bersama belajar hidup sejati sebagai manusia.

Suprayitno (081325736405)

Jl Tlogomukti Tmr I/878, Semarang

***

Nilai 4 dan Turis Jepang

Ada nilai empat di rapor SMP untuk pelajaran Administrasi ketika saya duduk di klas 1 SMP Negeri 1 Wonogiri tahun 1967. Rapor saya merah karena ketahuan mencontek. Sejak kejadian memalukan itu saya mengubah kebiasaan belajar. Semua mata pelajaran hari itu, begitu sampai di rumah segera saya ubah dalam bentuk tanya-jawab. Semuanya tertulis.

Dengan menulis maka apa yang diajarkan guru dan segala hal yang saya baca dari buku pelajaran, otomatis menjadi milik saya. Kalau hanya mendengarkan atau membaca saja daya lengketnya di ingatan terbatas. Dengan menuliskan, info baru akan lebih lama tergores dalam otak bahkan terus teringat.

Untuk mampu menyalakan api menulis, sebuah bloknot dan bollpoin selalu menemani ke mana pun saya pergi. Ketika menemui hal yang menarik di jalanan, di koran, buku atau munculnya gagasan, langsung ditulis.

Seperti saya tulis di kolom ini beberapa waktu lalu, Harry Davis Wakil Direktur Program MBA di Sekolah Bisnis Universitas Chicago Amerika mengatakan, para turis Jepang juga membawa bloknot ketika keliling dunia. Mereka mencatat hal khusus yang menarik. Juga melakukan tindak intelijen secara legal yaitu mengumpulkan data.

Pelbagai data diolah dan dijadikan pertimbangan untuk menghasilkan produk yang bisa diekspor. Itulah cara Jepang menguasai ekonomi dunia. Menurut Harry Davis, kebiasaan model turis Jepang itu harus dimiliki setiap insan yang produktif, utamanya dalam mengembangkan dan mengasah keterampilan melakukan observasi.

Kepada mahasiswanya, dia menganjurkan membawa bloknot sepanjang waktu. Dengan demikian mereka setiap saat dapat menulis dan mengawetkan hasil observasi dan ide yang bermanfaat bagi pekerjaan atau pun kehidupan pribadinya.

Kalangan wartawan sudah terbiasa melakukan hal tersebut dan kini bisa diadopsi sebagai bagian gaya hidup produktif kita sehari-hari. Kepada sesama kaum epistoholik, saya anjurkan melakukan hal tersebut. Apa pun profesinya pasti bisa pula memperoleh manfaat dari anjuran ini.

Bambang Haryanto (081329306300)

Jl Kajen Timur 72, Wonogiri

***

Penipuan terhadap

Orang Tua Mahasiswa

Orang tua akan bangga memiliki anak berstatus mahasiswa. Namun orang tua yang anaknya kos di kota lain, kini saatnya waspada terhadap berbagai bentuk penipuan. Salah satu modus operandinya menggunakan penyadapan atau pencurian pulsa yang dikombinasikan dengan berita kecelakaan.

Penipu kali pertama akan menghubungi mahasiswa yang akan dijadikan korban dengan mengaku sebagai petugas kepolisian atau operator telepon seluler. Dia berusaha menyuruh calon korban untuk mematikan ponselnya selama sehari penuh. Alasannya ponsel tersebut akan disadap atau dicuri pulsanya oleh orang lain.

Setelah itu penipu akan menghubungi orang tuanya dan memberitahu bahwa anaknya kecelakaan serta harus segera dioperasi. Orang tua diminta mentransfer sejumlah uang ke rekening yang sudah disiapkan oleh penipunya. Orang tua yang berusaha menghubungi tentu kebingungan karena ponsel anaknya tidak aktif.

Saya menyarankan orang tua yang mengalami hal seperti itu segera mencatat nomor ponsel teman dekat anaknya yang dapat dipercaya. Begitu juga si mahasiswa seharusnya tidak sembarangan memberikan nomor ponselnya kepada orang yang belum dikenalnya. Berita tentang penipuan sudah sedemikian banyak, kita tidak perlu menambahnya lagi menjadi korban berikutnya.

MT Ardiansyah

Jl H Syatori 3103/XI Kauman, Brebes.

***

Mohon Pekerjaan

Kakak saya laki-laki, 28 tahun 1ulusan SMK mampu mengoperasikan komputer. Berpengalaman dalam mengoperasikan windows, linux, aplikasi office dan bisa service komputer (CPU). Bagi para dermawan yang berniat membantu kakak, dapat hubungi saya di 085 225 446 299.

M Musyafa'ah

Kedungjangan RT2/RW 3 Mijen, Semarang

***

Aturan Dua Spion

Tanggal 1 November lalu diperlakukan Bulan Tertib Lalu lintas (BTL) yaitu diberlakukannya motor menggunakan dua spion. Hal ini membuat saya bertanya apakah instruksi ini sebagai aturan atau anjuran. Kalau aturan, bersifat wajib dan dapat dikenai hukuman sedang anjuran bersifat sunah (tidak dikenai sanksi bila tidak dilakukan).

Untuk itu saya sebagai warga Semarang yang taat hukum ingin menanyakan kepada aparat yaitu penggunaan dua spion sebagai apa. Kalau sebagai aturan, tolong jelaskan dasar hukumnya. Apakah UU No 14 tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dan Peraturan Pelaksanan UU Lalu lintas dan Angkutan Jalan No 44 tahun 1993 Tentang Kendaraan dan Pengemudi sudah ada perubahan(revisi)?

Sebab dalam pasal 72 ayat 3 PP No 44 Tahun 1993 disebutkan "kaca spion motor sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berjumlah sekurang-kurangnya satu buah". Sepengetahuan saya kedudukan UU lebih tinggi dari pada Perda atau instruksi. Kalau sebagai anjuran, apakah harus ada penilangan sebab tidak ada dasar hukumnya.

Saran, sebaiknya saat orang mengurus surat motor/mobil dan SIM, kantor Samsat, Satlantas dan Dishub juga melampirkan fotokopi UU mengenai peraturan lalin. Hal ini agar masyarakat tidak merasa resah dan rugi karena benar-benar tahu aturan baku.

Seputro Fajar R

Jl Kenconowungu Tng 58, Semarang

***

Bapak Kartunis

Kartun selain berupa gambar lucu juga bisa dalam bentuk banyak dimensi. Ajang pamer ini pernah saya ikuti tahun 1994 bertajuk : "Kartun Multi Dimensi-Primitif 2000". Semua kartun berupa benda, bukan gambar. Misal replika Piala Dunia sepak bola yang di atasnya penuh balutan luka dan tertera Indonesia World Cup 1994.

Kejayaan gambar kartun dulu seolah masih di pelupuk mata. Ketika banyak kartunis anyar permunculan bak jamur kaki di musim hujan, agenda pameran seolah tak menyisakan ruang gedung. Kegiatan ini mendominasi di STM Pembangunan, gedung PWI GOR Simpanglima, Wisma Pancasila dan lainnya.

Tiap kota di Jateng membentuk grup untuk meramaikan jagad humor ini. Ada Secac, Kokkang, Terkatung, Karung, Pakyo dan banyak lagi. Media membuka pintu lebar-lebar untuk rubrik ini. Jadilah kartunis berlimpah berkah dari hasil coretannya..

Namun seiring situasi dan kondisi Tanah Air yang makin "lucu" dari gambar kartun itu sendiri maka banyak media yang membatasi rubrik ini. Jadilah kartunis kolaps dan hasil karya tersimpan dalam hati dan menumpuk dalam laci. Tapi syukurlah, ada saja yang mengirimkan hasil karyanya ke luar negeri untuk memperebutkan ajang lomba.

Dapatlah disebut Jitet Koestana kartunis asli Semarang yang tercatat di Muri sebagai kartunis Indonesia yang banyak memenangkan lomba kartun internasional. Berkah itu juga datang pada Goenawan Pranyoto, Prie GS dan Joko Susilo kartunis otodidak yang sekarang bergabung di rubrik kartun Suara Merdeka.

Khusus Prie GS tercatat pribadi serba bisa. Dari ajang seminar sampai "isi kamar", Tulisannya mengenai peristiwa sehari-hari sangat gamblang yang orang lain tabu mengungkapkan. Sedang kartunis Koesnan Hoesi berhasil "meramaikan" Harian Sore Wawasan. Ada lagi Leak Koestiya yang mengomandani harian di Jawa Timur dan lainnya.

Suara Merdeka sebagai ajang pertama kartunis yang berhasil " mengotori " gambar kartun perannya tak mudah dihapus begitu saja. Media ini berhasil menebar " virus " kartun yang menular pada media lain di seluruh Indonesia.

" Kegaduhan " gambar kartun tak bisa dilupakan atas jasa kartunis senior GM Sudarta. Setelah " pensiun " dari Om Pasikon, kartunis yang suka mengenakan pakaian serba hitam ini berencana mengajar kartun di Cartoon Department Seika University Kyoto Jepang 2008. Kenapa mengajar di luar negeri. Bukankah di sini banyak kartunis yang masih butuh bimbingan?

Kartunis tidak hanya butuh orang lain terhibur atas karyanya. Namun juga mengharapkan "terhibur" atas jerih payahnya. Selamat mengajar "Bapak Kartunis Indonesia". Semoga tokoh kartun Om Pasikom, jasnya tidak tambal sulam lagi.

Agus Eko Santoso SE

Pondok R Patah Blok K1/21, Demak.

***

Tak Ada Sumpah Pemuda

di Kota Cilacap

Saya tidak membayangkan kehancuran jiwa masyarakat Cilacap akhir-akhir ini. Betapa tidak, tanggal 28 Oktober 2007 yang seharusnya ada peringatan Hari Sumpah Pemuda yang sangat bersejarah bagi persiapan terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia berlalu begitu saja.

Padahal seharusnya Pemkab memanfaatkan untuk membangkitkan semangat juang mempersatukan bangsa, khususnya masyarakat Cilacap baru saja melaksanakan pilkada. Momemtum yang penting itu ternyata berlalu begitu saja tanpa kegiatan pembinaan atau penggemblengan jiwa dan semangat kesadaran berbangsa dan bernegara.

Ketika saya menanyakan kepada RSPD Cilacap lewat telepon pada 27 Oktober 2007 pukul 09.45, mengapa belum ada siaran, imbauan atau perintah mengibarkan bendera Merah Putih sebagai tanda mengingatkan semangat persatuan bangsa, jawaban operatornya adalah belum ada perintah.

Kesempatan emas ini sebetulnya dapat dimanfaatkan Bapak Bupati terpilih untuk menyatukan kembali masyarakat yang saat pilkadal terpecah-belah. Meski begitu saya masih terobati dengan rasa bangga sebab ternyata warga perkotaan di daerah Tambakreja masih mengibarkan bendera Merah Putih satu tiang penuh.

Sedang di kelurahan Sidakaya, Tegalkamulyan, Tegalreja dan Cilacap masih banyak yang tertidur. Semoga hal ini dapat menjadi pembangkit semangat kesadaran berbangsa dan bernegara para pejabat yang digaji dengan uang pajak dari rakyat.

Drs Sutrasno

Jl Bakung 1945 Sidareja, Cilacap

***

Bagasi di Batavia Air

Saya 22 Mei 2007 naik pesawat Batavia Air dari Semarang ke Jakarta. Sampai di Bandara Soekarno- Hatta Jakarta, satu bagasi saya tidak ditemukan atau mungkin tertukar dengan bagasi penumpang lain. Hal ini dibuktikan pada saat itu ada satu bagasi yang tidak diambil pemiliknya. Saya pun melaporkan masalahnya kepada pihak Batavia Air.

Pada Surat Laporan Kehilangan Barang, mula-mula ditulis 'bagasi tertukar' namun kemudian dicoret diganti dengan "hilang" (fotokopi terlampir). Beberapa hari kemudian, saya minta kakak mengontak Batavia Air. Menurut staf yang menerima telepon, nama saya tidak ada didaftar penumpang. Tapi kakak membantahnya karena jelas nama saya tercantum dalam tiket (fotokopi tiket terlampir).

Akhirnya staf tersebut mengakui, tetapi soal bagasi yang hilang ganti ruginya belum bisa memutuskan. Seminggu kemudian saya menelepon, tetapi malah dipingpong tanpa kejelasan. Pada telepon terakhir, seorang staf mengatakan, pihak Batavia Air hanya mengganti senilai Rp 200.000. Dia bahkan dengan nada keras menyatakan tidak takut di-media-kan.

Jelas saya tidak terima karena nilai bagasi yang hilang jauh lebih besar dari ganti rugi yang ditawarkan. Saya juga merasa dilecehkan dan dirugikan oleh maskapai ini yang kurang 'mendidik' atau memang 'sengaja mendidik' staf bertindak tidak etis. Merasa tidak ada gunanya mengontak lagi, saya memutuskan lapor hal tersebut ke LP2K (Lembaga Pembinaan dan Perlindungan Konsumen).

Lembaga ini kemudian melayangkan surat ke Batavia Air tapi sampai saat ini pun mereka belum menanggapi (fotokopi surat LP2K terlampir). Saya menyayangkan sikap Batavia Air yang hanya mencari keuntungan semata tapi tidak peduli terhadap hak konsumennya. Saya berharap tidak ada lagi penumpang yang dirugikan seperti saya.

Irene Andriani

Jl Pringgadin Utara 6, Semarang


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA