| Senin, 12 Nopember 2007 | NASIONAL |
''Amanah Kok Dinggo Keroyokan''
ACARA Haul Ke-5 Almagfurlah KH Mc Amin Sholeh di Bangri, Jepara, Sabtu (10/11) malam, berlangsung gayeng. Selain dihadiri ribuan orang dari berbagai pelosok, sejumlah tokoh juga datang. Mereka di antaranya KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), KH A Mustofa Bisri (Gus Mus), KH Sya'roni Ahmadi (Kudus), Gubernur Ali Mufiz, Bupati Jepara Hendro Martojo, serta Ketua Dewan Syuro dan Tanfidz DPW PKB Jateng KH Hayatun Abdullah Hadziq dan Gus Yusuf Khudlori. Sebagai sahibul bait, Hj Aizzah Amin Sholeh bersama tujuh putra-putrinya, di antaranya KH Nuruddin Amin (Ketua PCNU Jepara). Perjuangan Kiai Amin Sholeh patut dijadikan teladan. PNS Depag Jepara itu pernah duduk sebagai Rais Syuriah PWNU Jateng tiga periode berturut-turut hingga wafat tahun 2002 di usia 71 tahun dan ketua MUI Jateng. Ketawadukan dan tanggung jawabnya dikenang Ali Mufiz. ''Saya kenal beliau sejak 1990. Ketawadukan dan tanggung jawabnya luar biasa. Dia juga sangat perhatian terhadap pendidikan,'' tutur Ali Mufiz. Dia teringat Kiai Amin saat menghadiri acara di Kodam IV/Diponegoro. ''Beliau tidak berkenan duduk di depan, meski seorang tokoh. Beliau tidak menduduki kursi kecuali kursi itu untuknya. Gus Dur pun mengakui sifat-sifat terpuji Kiai Amin, dan menyatakan sedikit orang yang bisa memegang tanggung jawab seperti ulama tersebut. Kiai Amin yang lahir di Tayu, Pati, kini meninggalkan madrasah, mulai MI, MTs, dan MA Hasyim Asyari di Bangsri yang kini memiliki 2.000 murid. Gus Mus yang naik kursi di bagian paling akhir, menyebut Kiai Amin sangat kuat dalam memegang prinsip dan tetap bijaksana. Dalam pembahasan suatu masalah, dengan senior pun sangat berani. ''Dia (Kiai Amin) tenang, hujjah nya kuat, prinsipnya teguh, dan tetap demokratis. Nek wong saiki, nyekel prinsip, tapi nganggo ngotot, mekso-mekso,'' seloroh dia. Ia lantas mblejeti karakter kemanusiaan. Ada yang rendah hati, rendah diri, dan tinggi hati. Dua yang terakhir dianggap negatif. ''Wong niku asline seneng karo awake dewe. Buktine, seneng nontoni fotone dewe nang album. Ono maneh wong ngregani awake dewe sak pol-pole. Sampai awake diregani dewe iso dadi bupati, gubernur, presiden, malah sampe dadi nabi,'' tuturnya mencontohkan karakter tinggi hati. Kepemimpinan pun jadi rebutan, tanpa terlebih dulu mengukur diri. ''Judeg tenan, wong amanah kok dinggo keroyokan. Huebat tenan. Wong kok kendele koyo ngono,'' lanjutnya. Fenomena keroyokan amanah itu juga tersirat dalam sabda Rasul sebagaimana dikutip Gus Mus, yakni Allah itu kalau hendak mencabut ilmu, maka dicabutlah nyawa orang alim. Dengan hilangnya si alim, (ironisnya) orang lantas menjadikan orang bodoh sebagai pemimpin. Kalau berfatwa tanpa ilmu, sesat dan menyesatkan. Naudzubillah....(Muhammadun Sanomae-62) | ||||