| Senin, 12 Nopember 2007 | NASIONAL |
Sultan Dapat Gelar Datuk PengayomYOGYAKARTA- Keteladanan Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai pengayom rakyat diakui oleh masyarakat adat Palembang. Pekan lalu dia menerima gelar kehormatan adat Sumatera Selatan sebagai Datuk Pengayom Seri Wanua. Upacara pemberian gelar berlangsung dalam Upacara Penabalan Gelar Kehormatan yang berlangsung meriah dan khidmat di Griya Agung, Palembang, Sumatera Selatan, Sabtu (10/11). Malam harinya diteruskan dengan Pagelaran Wayang Kulit semalam suntuk oleh Ki Dalang Entus Susmono dengan lakon ''Gatotkaca Wisudo''. Penabalan gelar ditandai dengan pemasangan Tanjak (ikat kepala) dan Selendang oleh Ketua Umum Dewan Pembinaan Adat Istiadat Sumatera Selatan, Prof Dr H Mahyuddin NS, SpOG, dilanjutkan pemasangan keris pusaka kebesaran oleh Sri Sultan Ir RMH Iskandar Mahmud Badarudin. Upacara kirab penyambutan mengawali pemberian tanda tersebut, Sultan HB X beserta Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas diarak dengan perlengkapan gelar serta iring-iringan kesenian tradisional. Gendhing Sriwijaya Sebelum pemasangan Tanjak dan Selendang kebesaran, pagelaran tari Gendhing Sriwijaya, sebagai simbol kebesaran dan keagungan kerajaan Sriwijaya masa lalu dimainkan. ''Menyandang gelar kehormatan, membawa kewajiban untuk lebih peduli mengembangkan budaya-budaya nusantara serta terus menjujung tinggi prinsip kebersamaan dalam adat melayu duduk sama rendah, tegak sama tinggi,'' ujar Sultan usai menerima gelar. Dia menggambarkan almarhum Sri Sultan Hamengku Buwono IX semasa hidupnya selalu berpesan agar dia memperhatikan dan belajar tentang kearifan masyarakat dengan memperlakukan sama semua orang tanpa membeda-bedakan. Sebagai pewaris tahta yang wajib mendengarkan denyut nadi hati rakyat, dia mengungkapkan penghargaan itu akan mengingatkan dan meneguhkan tekad pengabdian ''Tahta Bagi Kesejahteraan Sosial Budaya Rakyat''. Peristiwa budaya tersebut mengingatkan kembali hubungan historis antara wangsa Syailendra dari Sriwijaya dan wangsa Sanjaya dari Mataram Kuno yang berhasil membangun Candi Borobudur. Kedekatan hubungan kekerabatan Palembang -Mataram juga terlihat pada nama-nama yang tertera dalam sejarah Kerajaan Palembang yang berasal dari Jawa. (D19-77) |