logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 12 Nopember 2007 NASIONAL
Line

BUDAYA JAWA

Does Cabaret dari Suriname (1)

Guyon Parikena, Goyang Memesona


SM/Achiar MP DOES CABARET: Penampilan kocak Does Cabaret dari Suriname yang mengusung Lelakone Wong Sangka Ndjawa pada malam pembukaan Festival Cak Durasim (FCD) VIII 2007. (57)

Real Poerwo (RP) Cabaret, atau yang lebih populer dengan sebutan Does Cabaret, merupakan salah satu di antara sedikit kesenian Jawa yang eksis di Suriname. Does Cabaret menjadi penampil yang paling menarik antusiasme penonton pada Festival Cak Durasim (FCD) VIII di Taman Budaya Jawa Timur (TBJT), yang dibuka Sabtu (10/11) malam lalu. Berikut laporan wartawan Suara Merdeka Achiar M Permana.

TERUS terang, saya penasaran betul melihat pertunjukan Does Cabaret secara langsung. Sebab, sebelum ini saya hanya melihat aksi panggung kabaret dari Suriname itu dari rekaman DVD. Itu pun rekaman lawas yang dibuat sekitar tahun 1992, pada masa-masa awal grup tersebut.

Rekaman itu dihadiahkan oleh Salimin Ardjooetomo, yang populer dengan sebutan Captain Does, pemimpin sekaligus sutradara kabaret itu. Hadiah itu saya peroleh ketika bertemu Pak Does, pada Kongres Bahasa Jawa (KBJ) IV di Semarang, tahun lalu. Ketika itu, Captain Does mengikuti kongres bersama empat peserta dari Suriname lainnya.

Rasa penasaran saya terbayar sudah pada pertunjukan Does Cabaret di Gedung Cak Durasim, Taman Budaya Jawa Timur (TBJT) Jl Gentengkali, Surabaya, Sabtu (10/11) malam. Kelompok ''Loedroek van Suriname'' itu tampil pada malam pembukaan Festival Cak Durasim (FCD) VIII 2007, yang akan berlangsung selama sepekan, hingga Sabtu (17/11) mendatang.

Ternyata tak hanya saya yang penasaran. Lebih dari 1.000-an penonton rela berdesak-desakan untuk melihat penampilan ''sedulur sinarawedi'' dari tanah seberang itu. Bayangkan, Gedung Cak Durasim yang berkapasitas 600-an tempat duduk, diisi lebih dari seribuan penonton. Akibatnya, sebagian mereka harus rela duduk di lantai, bahkan hingga mepet ke panggung pertunjukan.

Banyaknya penonton itu jelas kondisi yang mencengangkan, termasuk bagi penyelenggara. Kepala TBJT Pribadi Agus Santoso mengaku surprise atas antusiasme penonton, yang tidak lazim untuk ukuran pertunjukan teater. Mantan Dubes RI Suriname, Suparmin Sanjoyo, yang ada di tengah-tengah penonton, juga tak mengira penonton sampai seheboh itu.

Pemberitaan gencar dan juga publikasi gegap gempita mengenai kehadiran Does Cabaret dari Suriname agaknya berhasil memancing keingintahuan masyarakat Surabaya dan sekitarnya. Terlebih lagi, siang hari sebelum pertunjukan, panitia menggelar wara-wara tentang pertunjukan itu dengan naik truk, berkeliling kota Surabaya.

Does Cabaret boleh dibilang sebagai primadona Festival Cak Durasim 2007. Bayangkan, dua kali pentas, dua kali pula Gedung Cak Durasim, TBJT, yang menjadi tempat pertunjukan, dijejali penonton. Pentas pertama pada malam pembukaan, sedangkan pentas kedua dengan lakon One People, One Nation, One Destination yang dimainkan untuk pelajar, Minggu (11/11).

Ger-geran

Tapi, kerepotan menonton dengan berjejal-jejal terbayar oleh sajian menarik dari Does Cabaret. Sejak awal, mereka telah berhasil membetot perhatian penonton lewat tarian yang dibawakan Argyll Legiran Ardjooetomo dan Soelijanto Wongsosemito.

Kedua penari itu, terlebih Soelijanto yang tampil cantik dan lenjeh, benar-benar menggemaskan bagi penonton. Sesekali dia menggoyang badannya dengan gaya ngebor mirip Inul Daratista, pada kali lain menggetar-getarkan badannya seperti cacing kepanasan.

Seperti ludruk dan juga sejumlah teater tradisional di Jawa, Does Cabaret memang menggunakan pemain semuanya lelaki. Peran-peran perempuan juga dimainkan lelaki dengan gaya yang genit menggoda. Jika saja diundang menjadi bintang tamu pada kabaret itu, Tessy jelas menemukan saingannya.

Sesudah itu, kisah Lelakone Wong Sangka Njawa pun mengalir lancar. Lewat lakon itu, Does Cabaret mengusung cerita sederhana, kisah kehidupan keseharian orang Jawa di Suriname.

''Biasane, lakon iki dimainna setaun pisan, ngepasi pengetan tumekane wong sangka tanah Njawa (Biasanya lakon ini dipentaskan setahun sekali, pada saat peringatan kedatangan orang dari Jawa),'' katanya.

Dalam lakon itu diceritakan, Makne Susi khawatir atas pergaulan anaknya, Susi (Soelijanto Wongsosemito) yang cenderung bebas dengan Joni (Amatirsat). Kemudian dia mendesak Joni untuk segera melamar Susi. Sederhana banget, kan?

Dengan plot cerita yang sederhana itu, para pemain mengembangkannya di panggung. Mereka membumbuinya dengan lagu-lagu dan guyonan-guyonan ringan. Sebab, sejak awal Captain Does mengakui, kabaret yang dibawakan lebih mengedepankan hiburan. Humor yang ringan dan memantik tawa, walaupun tanpa kehilangan pesan yang bermakna. Guyon parikena.

Terlebih lagi, penonton sama sekali tidak memiliki kendala bahasa dalam pertunjukan yang dimainkan para seniman keturunan Jawa itu. Pertunjukan disampaikan dengan bahasa Jawa ngoko, yang egaliter dan sangat mudah dipahami siapa saja. Sesekali, para pemain melontarkan kosakata atau dialek khas Surabaya, yang sontak disambut penonton dengan tawa ria

Dibandingkan DVD yang dihadiahkan pada saya setahun lalu, pentas Does Cabaret terlihat sudah banyak berubah. Pengadeganan terlihat lebih tertata, konsep penyutradaraan juga lebih mengena. Selain itu, kehadiran wajah-wajah baru, semacam Argyll Legiran dan Soelijanto memberikan kesegaran tampilan. (46)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA