| Senin, 12 Nopember 2007 | NASIONAL |
Anjlok Dominasi Kecelakaan KAHINGGA saat ini kereta api masih menjadi salah satu moda transportasi darat yang diandalkan masyarakat Indonesia. Selain tarif terjangkau untuk penumpang kelas ekonomi, menjadi pilihan karena terhindar dari kemacetan. Meski demikian, faktor keselamatan dan keamanan transportasi tersebut tetap mutlak menjadi perhatian, mengingat kecelakaan kereta api di tanah air kerap menelan korban jiwa. Menurut data Direktorat Jenderal Perkeretaapian Dephub, kecelakaan yang terjadi di kereta api disebabkan oleh empat hal, yakni kereta api dan kereta api, banjir atau longsor, kereta api dengan kendaraan (bus, truk, dan mobil), serta anjlok atau terguling. Dari beberapa penyebab itu, dari tahun ke tahun, yang mendominasi adalah akibat anjlok atau terguling. Tren tersebut meningkat dari angka 69 kali pada 2002 menjadi 80 kali atau naik 13,8 persen pada tahun 2003 dan naik 12,2 persen pada 2004. Jika dilihat dari tahun 2002 hingga sekarang, angka kecelakaan tertinggi yang disebabkan oleh anjlok atau terguling adalah pada 2004 yakni 91 kali. Namun pada 2005 angka itu dapat ditekan hingga turun 27,4 persen dan naik kembali 4,3 persen pada 2006. Dari kejadian anjlok dan terguling itu, bukan hanya menimpa kereta penumpang saja namun kereta pengangkut barang dan peti kemas. Salah satunya adalah anjloknya KA 1404 pada Juli 2003 yang membawa BBM Pertamina seberat 885 ton. Jika melihat data pada 2007 (Januari hingga awal November), angka kecelakaan relatif sedikit. Namun itu karena angkanya belum diaudit. Selama 2007, dari 17 kejadian kereta anjlok, sebagian besar menimpa KA penumpang. Contohnya pada April, ada 3 jenis kereta penumpang anjlok di tempat berlainan, yakni KA Argo Lawu jurusan Solo-Gambir yang anjlok di daerah Purwokerto, KA Serayu jurusan Kroya-Senen anjlok dan terguling sedalam 30 meter di daerah Garut, dan KA Tawang Jaya jurusan Jakarta-Semarang yang anjlok di Surodadi, Kabupaten Tegal. Selain anjlok dan terguling, kecelakaan antara kereta api dan kendaraan lain (bus, truk, dan mobil) juga sering terjadi. Ini biasanya disebabkan oleh perlintasan palang pintu kereta yang rusak, kelalaian penjaga, serta ketidaktertiban pengendara. Namun jumlah kecelakaan akibat tabrakan dengan kendaraan semakin menurun. Jika pada 2002 ada 58 kejadian, pada 2004 menurun 48,2 persen, dan menurun 50 persen pada 2005. Faktor alam juga memengaruhi penyebab kecelakaan pada moda transportasi cepat ini, yakni longsor dan banjir. Dari data 2002 hingga 2007, kecelakaan akibat longsor paling banyak terjadi pada 2002 yakni 12 kali dan menurun 41,2 persen pada 2003. Sedang pada 2007, sudah ada 2 kali kecelakaan akibat longsor, salah satunya KA Citrajaya jurusan Jakarta-Kroya yang terguling di Kampung Salam Desa Sukamaju, Kecamatan Kersamanah, Kabupaten Garut. Kejadiannya April lalu akibat tanah di bawah bantalan rel longsor. Menurut Dephub, dari beberapa jenis kasus kecelakaan itu, dalam kurun waktu 2003-2006, tercatat korban luka ringan 318 orang, luka berat 347 orang, dan meninggal 238 orang. Sedangakan dari Januari hingga Oktober 2007, jumlah korban meninggal ada 10 orang dan 154 orang luka berat dan ringan. Sudah Tua Jika dilihat data kecelakaan tersebut, setidaknya kita perlu perhatian terhadap kasus anjlok serta tergulingnya kereta api di beberapa wilayah. Salah satu contoh kasus yang telah diselidiki oleh KNKT adalah peristiwa anjloknya KA 1404 yang mengangkut barang. Dari temuan tim penyidik, gerbong anjlok antara lain disebabkan kondisi bantalan sudah lapuk bahkan hancur, sehingga tidak berfungsi makasimal. Tim mencatat bahwa tahun pemasangan bantalan di petak tempat kejadian (Stasiun Walikukun-Kedunggalar, Kabupaten Ngawi) adalah dari tahun 1971-2002. Padahal menurut peraturan, pembaharuan bantalan dilakukan 5 persen per tahun untuk bantalan kayu jati atau 7,5-10 persen per tahun untuk kayu Kalimantan. Selain itu, baut pengikat plat jepit besi sambungan rel tidak terpasang dengan jumlah yang lengkap, seharusnya 6 buah namun hanya terpasang 4. Di sisi lain, kondisi roda KKW 04 sudah aus. Data Dephub juga menyebutkan, sekitar 68 persen lokomotif yang dimiliki PT KA berusia sangat tua. Kenyataan tersebut menjadi salah satu penyebab seringnya terjadi kecelakaan kereta api. Kondisi gerbong dan rangkaian KA yang ada saat ini berusia 20-45 tahun. Dari total 341 unit lokomotif, sebanyak 233 unit (68%) berusia 20-40 tahun dan 109 unit (32%) di atas 40 tahun. Sedangkan dari total 1275 kereta, 863 kereta berumur 20-40 tahun, 412 unit di atas 40 tahun. Gerbong yang berusia 20-40 tahun sebanyak 3552 dan di atas 40 tahun berjumlah 1887. Adapun untuk kereta rel disel, usia 20-40 tahun sebanyak 65 unit dan kereta rel listrik (KRL) usia 20-40 tahun sebanyak 366 unit. Karena itu, kebijakan untuk lebih mengutamakan pembenahan di bidang perkeretaapian dan keselamatan bagi penumpang perlu ditinjau ulang. Sebab jika tidak, nyawa manusia yang akan menjadi taruhannya. (Dani/Pusdok SM-46) |