| Senin, 12 Nopember 2007 | NASIONAL |
PLTN Dipaksakan, Gus Dur Boyongan ke JeparaJEPARA- Ketidaksetujuan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) atas rencana pembangunan PLTN Muria di pantai utara Jepara, kembali dipertegas saat dia menghadiri acara haul ke-5 Almaghfurlah KH Mc Amin Sholeh di halaman MTs Hasyim Asy'ari, Bangsri, Jepara, Sabtu (10/11) malam. Dia siap untuk pindah tempat tinggal dan boyongan ke Jepara bila rencana itu terus dipaksakan. ''Nek dipeksakke pemerintah, kulo mboten bade leren-leren demo. Nek perlu kulo pindah teng Jepara (kalau dipaksakan pemerintah saya tidak berhenti demo. Kalau perlu saya pindah ke Jepara),'' tandas dia. Gus Dur menjadi salah satu pembicara dalam acara haul tersebut dan tampil kali pertama di hadapan ribuan hadirin. Selain Gus Dur, yang naik podium adalah Gubernur Jateng Ali Mufiz, KH Mustofa Bisri (Gus Mus), serta Bupati Jepara Hendro Martojo. Namun saat Gus Dur naik podium, Gus Mus belum hadir. Acara itu juga dihadiri Ketua Dewan Syuro PKB Jateng KH Hayatun Abdullah Hadziq dan Ketua Dewan tanfidz DPW PKB Jateng Gus Yusuf Chudlori. Gus Dur sebelumnya menyampaikan keteladanan KH Mc Amin Sholeh yang kini meninggalkan tujuh putra-putri, di antaranya KH Nuruddin Amin (Ketua PCNU Jepara). Dia juga menyebut masih ada garis keturunan antara dirinya dengan KH Amin Sholeh yang pernah menjadi Rais Syuriah PWNU Jateng dan Ketua MUI Jateng itu. Di tengah-tengah ceramah Gus Dur menyatakan, tetap akan konsisten menolak rencana megaproyek tersebut. Dia mengakui saat menjadi presiden pernah akan memberikan lampu hijau terhadap rencana tersebut. Namun setelah mendapatkan pertimbangan dari tim peneliti geologi bahwa Jawa rawan gempa, dia langsung menolak rencana itu. ''Jawa rawan gempa. Jangan dikasih nuklir,'' katanya. Haul tersebut juga dihadiri masyarakat dari Desa Balong, Kecamatan Kembang, yang pernah diwacanakan sebagai calon lokasi PLTN Muria. Mereka datang mengikuti haul tersebut. Sampai saat ini upaya penentangan masih dilakukan warga. Masyarakat juga mengikuti berbagai pelatihan untuk pemberdayaan, terutama dari kalangan perempuan. ''Menghadapi situasi yang fluktuatif akan menyulitkan perlawanan rakyat yang anti-PLTN. Perlawanan berbasis feminis juga perlu digalang,'' kata Aqidatul Awami, koordinator pendidikan politik perempuan dari UII Yogyakarta yang juga hadir dalam haul. Dia berbaur bersama masyarakat dalam upaya pemberdayaan tersebut. Juru bicara Koalisi Rakyat Tolak PLTN (Kraton) Darul Hasyim Fath mengatakan, niat pemerintah untuk membangun PLTN masih tinggi. Itu terindikasi dari masih adanya upaya memengaruhi warga untuk menerima rencana tersebut. (H15-46) |