logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 12 Nopember 2007 NASIONAL
Line

250 Tahun Pura Mangkunegaran

Gempita Seni dalam Semangat Sambernyawa


MELAWAN KOMPENI: RM Said menunggang kuda memimpin pertempuran melawan kompeni Belanda, pada dramatari ''Adeging Praja Mangkunegaran'' dalam rangka puncak peringatan 250 tahun Pura Mangkunegaran, Solo, semalam. (57)

DI halaman Pura Mangkunegaran, Minggu (11/11) malam, bayangan tentang sosok Raden Mas Said muncul kembali. Terkadang dia terlihat begitu jelas saat mengenakan pakaian rakyat dengan warna kebesaraan pareanom (paduan hijau kuning). Namun di sisi lain, dia hadir begitu samar ketika caping lebih banyak menutupi mukanya.

Ya, dalam kancah pertempuran melawan kompeni Belanda, pendiri Pura Mangkunegaran yang kemudian bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunagoro I itu memang menjadi sosok sentral. Bersama ratusan prajurit, sepak terjangnya dalam melawan penjajah seperti hendak mentahbiskan julukannya, Pangeran Sambernyawa.

Kurang lebih selama dua jam, semangat perjuangan Pangeran Sambernyawa semalam coba digali kembali. Namun kali ini dengan menggunakan pendekatan karya seni. Dengan sebuah dramatari kolosal bertajuk ''Adeging Praja Mangkunegaran''.

Karya ini melibatkan ratusan seniman dari ISI Surakarta, SMKN 8 Surakarta, serta seniman dari komunitas yang lain.

Maka, halaman di dekat Pendapa Ageng yang sejak sore sudah terlihat begitu hiruk oleh kedatangan masyarakat dari berbagai kalangan, semakin terasa gempita oleh pertunjukkan dramatari tersebut. Sejarah perjuangan Pangeran Sambernyawa selama kurang lebih 16 tahun, kemudian coba diungkap melalui hal ikhwal tentang estetika tari.

Itulah puncak dari rangkaian peringatan 250 tahun Pura Mangkunegaran.

Diselenggarakan sejak awal tahun 2007 lalu, dramatari kolosal tersebut kemudian memuncaki seluruh rangkaian acara. Maka, tak salah kiranya jika sepak terjang dari Raden Mas Said dijadikan sebagai tema sentral dalam karya ini, termasuk tiga perang besarnya dalam melawan penjajahan, pertempuran di Sitakepyak Rembang, Desa Kesatriyan, dan terakhir benteng Belanda di Keraton Yogyakarta (Babad Tutur dan Babad Lalampahan).

Di Balik Sambernyawa

Sejarah berdirinya Pura Mangkunegaran pada 17 Maret 1757 memang tak bisa dilepaskan dari Pangeran Sambernyawa. Banyak referensi sejarah yang telah mencatat sepak terjangnya, termasuk bagaimana kemudian dia sampai mendapatkan julukan yang nggegirisi tersebut.

Namun dibalik kehebatan keprajuritan Raden Mas Said, boleh jadi banyak yang masih belum tahu tentang kapasitas dia yang juga sebagai seorang ahli sastra. Lihat saja dengan tiga karya besarnya yakni tari Bedaya Anglirmendhung, Bedaya Diradameta, dan Bedaya Sukopratomo. Juga dengan serat Tripama yang penuh filosofi itu.

''Banyak hal yang bisa diteladani dari sosok Pangeran Sambernyawa. Dan, itu untuk dilestarikan. Satu di antaranya adalah berkenaan dengan kiprahnya dalam bidang budaya,'' ujar Ir Agus Harya Sudarmadja, Ketua Panitia Peringatan 250 Tahun Pura Mangkunegaran.

Dari alasan itulah yang kemudian menjadikan Pura Mangkunegaran semalam benar-benar terasa sebagai sumber budaya. Bukan saja terlihat dari dramatari tersebut, namun karya-karya seni yang lain, mulai dari Langendriyan, wayang orang, wayang topeng, wayang kulit, dan bahkan juga hadrah. Sekadar catatan, seluruh pertunjukkan kesenian yang ditampilkan semalam adalah juga hasil dari perkembangan kebudayaan Pura Mangkunegaran sejak didirikan.

Akhirnya pergelaran semalam diakhiri dengan pembacaan wasiat dari Pangeran Sambernyawa yang lebih dikenal dengan sebutan Tri Dharma, yakni rumangsa handarbeni, wajib melu hangrungkebi, dan mulat sarira hangrasawani. Wasiat tersebut dirasa masih cukup relevan untuk menjaga eksistensi dari Pura Mangkunegaran.

Seperti yang pernah diungkapkan oleh KRMT Supriyanto Waluyo, Bupati Mandrapura, kebaradaan Pura Mangkunegaran sekarang tak akan bisa dilepaskan dari masyarakat pendukungnya. Mayarakat pendukung itu termasuk dengan 300 abdi dalem, separuh di antaranya setiap hari berada di lingkungan istana, yang selalu menyokong kehidupan pura.

''Ketika otoritas wilayah tinggal dalam batas budaya, sejak adanya swapraja, tentu masyarakat pendukung sangat berarti dalam kelangsungan kehidupan istana ini,'' tandasnya.

Ketika pertunjukan seni silih berganti hadir, ribuan masyarakat terus memadati pendapa dan halaman. Bahkan yang berada di dalam pendapa harus dengan konsekuensi membayar tiket seharga Rp 300 ribu-Rp 6 juta untuk setiap kursi. Di antara KGPAA Mangkunagoro IX ada Kasad Jendral Djoko Santoso, Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, dan Menteri SDM Purnomo Jusgiantoro. (Sri Wahjoedi, Setyo Wiyono, Wisnu Kisawa-46)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA