logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 11 Nopember 2007 NASIONAL
Line

Pahlawan Tongseng


SETELAH 1998 terjadi perubahan politik dan masyarakat sipil kembali menjadi nakhoda yang menentukan arah perjalanan perahu bernama Indonesia, mestinya kekuatan sipil lebih berbicara. Lebih kreatif mengambil peran dalam perubahan, termasuk memaknai hal-hal yang dimasa lalu tabu diutak-utik. Tapi sampai hari ini kok belum tampak usaha serius menfasir kembali arti pahlawan dan kepahlawan ya?

Sekarang sih rada lumayanlah. Masyarakat sedikit punya nyali. Biarpun oleh guru bangsa Gus Dur masih digolongkan berdemokrasi setingkat taman kanak-kanak, kita boleh bersyukur karena keberanian khalayak mengkritisi kebijakan publik seperti disiram pupuk organik. Tumbuh subur.

Kini, kerap disaksikan bagaimana para pamong resmi kewalahan menghadapi gugatan dan kritik khalayak. Betapa pun terkadang masih ada yang sekedar waton sulaya, waton ngamuk lantaran kepentingannya terganggu. Haruslah semua itu diartikan sebagai tabungan untuk membangun kehidupan yang lebih baik di masa depan. Lebih baik berkembang dengan sedikit belepotan, katimbang sama sekali macet menjadi bonsai.

Tambah usia, tapi tetap cebol dalam berdemokrasi. Nah, berhubung kemarin Hari Pahlawan, Mas Celathu yang selalu ge-er sebagai bagian dari kekuatan masyarakat sipil, rada bingung mengartikan ''pahlawan''. ''Rupanya pahlawan itu harus tega membunuh sesamanya ya?'' gugatnya dalam hati.

Soalnya, selama ini yang diketahui dari dongeng-dongeng masa lalu, yang namanya pahlawan itu adalah hanya mereka yang berbaring di pusara taman makam pahlawan. Di luar itu bukan ''pahlawan''.

Artinya, hanya mereka yang pernah angkat senjata dan mungkin pernah secara heroik membunuh lawan, yang bisa dipredikati pahlawan. Setiap acara pitulasan dan atau peringatan peristiwa 10 November di Surabaya, pastilah digambarkan dar-der-dor para pejuang fisik yang bertempur di medan laga.

Ada letusan senjata, ada api menyala, ada sehelai merah putih melingkar di jidat, ada pidato berkobar-kobar. Pendeknya segala hal yang beraroma peperangan akan meyebabkan lahirnya seorang pahlawan. Dan itu, tentu saja, hanya bisa dilakukan oleh mereka yang mengandalkan kekuatan fisik. Maka, siapa lagi kalau bukan tentara dan preman yang berhak menyandang gelar itu?

Soalnya sampai hari ini hanya merekalah yang diizinkan bersemayam di taman makam pahlawan atau diluhurkan menjadi nama-nama jalan. Sementara mereka yang berjuang dengan kecerdasan otak atau dengan ketulusan pengabdian mendandani dan menyelamatkan kehidupan, belum bisa dinobatkan sebagai pahlawan.

Karena itulah, keluarga mas Celathu rada pusing saat harus memperingati hari pahlawan. Mengibarkan bendera putih okelah. Tapi kalau harus membenarkan adanya pembunuhan terhadap manusia lain sebagai keluhuran sebuah tindakan yang musti dipahlawankan, ya nanti dulu.

Apakah itu bisa diterima akal sehat, kendati pun pembunuhan itu mengatasnamakan bela negara? Bukankah ajaran agama apa pun melarang keras terjadinya pembinasaan manusia?

Maka pagi itu, keluarga Celathu terpaksa bikin rapat dadakan untuk menentukan dengan cara apa mereka memperingati hari pahlawan. Mbakyu Celathu mengusulkan bikin tumpeng. Ini cara tradisional untuk menyatakan syukur.

''Saya setuju bikin tumpeng, asalkan lauk pendampingnya tongseng kambing,'' kata mas Celathu sambil menghembuskan asap rokok kesekian ratus kalinya.

''Ya nggak cocok. Paling klop kalau dengan sambal goreng dan sayur gudangan,'' kilah isterinya yang kemudian ditimpali Jeng Genit yang sok peduli kesehatan ayahnya, ''Bapak ki ngeyel, la wong kolesterolnya dhuwur kok yang maunya tongseng aja.''

''Wah kalian nggak tahu ya? Tongseng juga ada hubungannya dengan kepahlawanan. Tongseng dan sate kambing kan mitosnya bisa meningkatkan vitalitas kejantanan. Jadi ya cocok untuk para pahlawan yang biasanya memang macho,'' kata mas Celathu berargumen sekenanya.

''Huusss, ngawur. Emang pahlawan cuma pria. Sorry ya, perempuan juga bisa jadi pahlawan,'' Mbakyu Celathu langsung sewot, menolak keras kaumnya didiskriminasi.

Dia langsung nyerocos, ''Begitulah lelaki, selalu ingin memonopoli. Mau menangnya sendiri. Seakan-akan yang punya peran dan mampu berjuang hanya kaumnya.''

Belum lagi perdebatan usai, dik Tomboy, anak perempuan mas Celathu yang selalu pakai jeans metel-metel memamerkan pipi bokongnya, unjuk usul. Dia pengin menghormati pahlawan dengan genjrang-genjreng musik rock. Alasannya, musik itu sangat dinamis dan membakar gairah. Biar pahlawan yang sudah bobok di kuburan tahu kalau kedinamisan para pahlawan masih menyertai anak-anak muda.

Begitulah, keluarga Celathu pada suka-suka hati melakukan penafsiran. Rupanya sekarang ini memang sangat longgar ruang tafsir itu. Sampai-sampai untuk memperingati pahlawan saja, mereka musti bertengkar dulu.

Padahal, semestinya ada cara gampang untuk mengenang. Berdoa. Gampang, gratis lagi. Lagipula, kata ahli agama, Tuhan sangat suka dimintai apapun lewat doa. Tapi, persoalannya memang bukan bagaimana cara memperingatinya melainkan bagaimana kepahlawan harus diartikan.

Apakah manusianya atau nilai-nilai yang diperjuangkan manusia? Jika kita bersepakat bahwa nilai-nilai dan semangat kepahlawan lebih penting, berarti kepahlawan jangan hanya dimonopoli tentara, preman atau mereka yang cuma mengandalkan kekuatan badaniah.

Jika pemaknaan begituan tidak segera dikoreksi, mas Celathu khawatir nantinya orang bisa terus-terusan salah kaprah mengartikan pahlawan.

Mereka yang bermimpi jadi pahlawan akan selalu merindukan datangnya perang, padahal menyelesaikan persoalan dengan menyelenggarakan peperangan sudah jadi mode yang kadaluwarsa. Sudah usang. Nggak zamannya lagi. Itu hanya lahir dari kumpulan makhluk yang menjunjung budaya kekerasan. Mana ada sih masyarakat sipil yang memuliakan kekerasan kecuali kecu, gali, preman, bromocorah, gentho, dan sebangsanya?

Mungkin karena itulah, tempo hari beberapa anak muda Bandung masih merasa perlu membaiat warga genknya dengan cara gebuk-gebukan. Kekerasan dijadikan cara berbahasa dan keharusan yang mesti dilewati.

Sekolah tinggi pamong praja yang mendidik calon camat juga setali tiga uang. Mendidik dengan tendangan dan jotosan. Kita seakan-akan lupa bahwa masyarakat sipil sudah berhasil mencatatkan prestasinya, yaitu menciptakan perdamaian di Aceh.

Dengan kelembutan sebuah persoalan gawat bisa terselesaikan dengan apik. Justru melalui dialog, melalui ketulusan yang bersumber dari keikhlasan hati nurani, Aceh yang sebelumnya hanya diwarnai dar-der-dor berhasil menyelamatkan diri tetap sebagai bagian dari NKRI.

Jika nilai kepahlawanan boleh dimaknai sebagai ikhtiar memuliakan kehidupan dengan kesediaan diri menjadi tumbalnya, maka siapa saja kelak boleh mendapatkan kapling di pusaranya para pahlawan. Bukan hanya para pembunuh yang terampil menggunakan bedil.

Guru, seniman, pengusaha, tukang becak, tukang pijat, wakil rakyat, bakul jamu, insinyur, tukang ojek, pelawak, dokter, penyair, dosen, wartawan, aparat hukum dan profesi apapun, kalian juga punya potensi jadi pahlawan.

''Khusus untuk aparat hukum, kalian akan jadi pahlawan, asalkan mulai hari ini kalian benar-benar kapok memperdagangkan pasal-pasal hukum,'' sergah mas Celathu buru-buru tanpa bermaksud bercanda. (46)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA