logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 09 Nopember 2007 SALA
Line

Gonjang-ganjing KSP di Solo (1)

Terkecoh Iming-iming Bunga Tinggi

  • Oleh Subakti A Sidik

Beberapa minggu terakhir, media massa gencar memberitakan penyelewengan, pada sejumlah koperasi simpan pinjam (KSP) di Solo. Koperasi - koperasi yang ditengarai melakukan praktik mirip perbankan itu, beberapa tahun terakhir, memang bermunculan, bak cendawan di musim hujan. Bagaimana pengelolaannya, bentuk penyelewengan dan apa akibatnya bagi masyarakat, berikut laporannya.

SEORANG pemilik usaha susu di Solo mengaku tertarik mendepositokan uangnya di koperasi simpan pinjam (KSP), karena bunganya tinggi. Dibandingkan bunga bank, bunga koperasi itu memang jauh lebih tinggi. Bunga deposito di bank, sekarangi rata - rata 9%/ tahun. Koperasi ini pasang bunga 36 %/ tahun.

Bukan main. Selisihnya 27, %. Siapa tak tergiur ? Bagi pemodal yang hanya berpikir keuntungan, tentu tak menyia - nyiakan kesempatan ini. Akhirnya, mereka kehilangan uangnya. ''Uang saya Rp 50 juta lenyap,'' kata Joko sedih.

Tanpa sepengetahuan dia, istrinya menyimpan uang di KSP. Koperasi itu, sekarang sedang dilaporkan ke polisi, karena pengelolanya kabur. Ia tak tahu, kapan uangnya akan kembali. Menurut Joko, istrinya sangat senang, karena setiap bulan menerima bunga tinggi. Dari Rp 50 juta yang diinvestasikan, tiap bulan terima bunga sebesar Rp 2.250.000. Kalau dalam setahun, ia akan terima bunga Rp 27 juta. Itu berarti uang Rp 50 juta dalam setahun berkembang jadi Rp 77 juta.

Bayangkan kalau didepositokan di bank. Setahun, uang Rp 50 juta hanya menjadi Rp 54,5 juta.Kalau dua tahun, tiga tahun ? Tinggal hitung. Pemilik uang tiduran, uang terus berkembang dan berkembang. Sayangnya, angan - angan tak menjadi kenyataan.

Bunga Pertama

Istri Joko hanya terima bunga bulan pertama dan kedua. Bulan ketiga, pengelolanya kabur. Tak untung, malah buntung. Kehilangan uangnya Rp 45.500.000. Selain istrinya, puluhan korban lain di Kota Solo, mengalami hal yang sama. Mencuatnya kasus dugaan penggelapan dana masyarakat dan penyimpangan pengelolaan koperasi di Surakarta, menurut dosen pascasarjana magister manajemen Unisri, Drs Suharno MM merupakan cerminan fenomena puncak gunung es.

Di permukaan, yang mencuat hanya beberapa kasus. Namun di balik itu, banyak terjadi penyimpangan, operasionalisasi, penyalahgunaan, penipuan dan lain-lain. Ia berpendapat, sudah saatnya carut marut perkoperasian yang merugikan rakyat di wilayah ini ditertibkan. Jika tidak, korban akan terus bertambah. (42)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA