logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 09 Nopember 2007 OLAHRAGA
Line

Atmosfer Stadion Jatidiri Pindah

  • Oleh Budi Winarto dan Achiar M Permana

YEL-YEL dan nyanyian yang dilantunkan para suporter PSIS, mengubah atmosfer Balai Kota menjadi seperti Stadion Jatidiri saat pasukan "Mahesa Jenar" menjalani laga tandang. Dipandu oleh Kirun, dirigen master Panser Biru, para suporter yang berdandan laiknya menonton tim kesayangannya, menghadirkan gegap gempita pertandingan di kompleks Balai Kota.

Para suporter yang tergabung dalam Panser Biru dan Snex, meneriakkan yel-yel dan menyanyikan lagu-lagu yang acap mereka kumandangkan ketika tim pujaannya bertanding. Namun, syairnya dipelesetkan untuk menyalurkan aspirasi mereka.

"Katanya bola itu rusuh/ katanya bola tak bermutu/ apa pun yang terjadi/ kita slalu di sini/ mendukung bola negeri ini// Politik berkelahi/ saling caci maki/ bagi kami Dewan itu...," begitu salah satu syair yang mereka nyanyikan.

Lagu yang biasanya untuk membuat mental tim lawan down itu, digunakan untuk mengecam anggota DPRD Kota Semarang. Mereka memang datang untuk berdemo, merespons penolakan DPRD Kota Semarang atas usulan tambahan dana Rp 3,1 miliar pada PSIS dalam APBD Perubahan 2007.

"Kami tidak rela jika PSIS sebagai tim kebanggaan warga Semarang berhenti di tengah kompetisi. Dewan harus meninjau keputusan yang menolak tambahan dana dari APBD perubahan," ungkap Ketua Snex Edy Purwanto di sela-sela aksi. Suara dia kadang-kadang tenggelam oleh gegap gempita yel-yel dan nyanyian para suporter. Terlebih, yel-yel dan nyanyian itu ditingkahi tetabuhan, seperti halnya saat pertandingan.

Konvoi

Sambil berdiri di atas jok sepeda motor, dirigen master Kirun terus memimpin rekan-rekannya menyanyikan lagu-lagu yang biasa dipakai memotivasi pemain. Sambil menyanyi, dia menggerak-ge-rakkan tangannya ke kanan dan ke kiri yang diikuti suporter lainnya. Dalam aksi tersebut, banyak suporter yang mencoreng-moreng wajahnya dengan warna biru, identitas PSIS.

Aksi itu dimulai sekitar pukul 10.30. Mereka sebelumnya berkumpul di samping Kantor DPRD Jateng, Jl Menteri Supeno. Massa kemudian berkonvoi dengan kendaraan menuju Balai Kota melalui Jl Pandanaran, Tugu Muda, dan Jl Pemuda.

Mereka tidak bisa langsung masuk ke halaman Balai Kota. Satpol PP dan aparat Kepolisian mengadang dan menutup pintu gerbang. Peserta aksi menggelar yel-yel dan nyanyian di depan pintu tersebut. Orasi dari pengurus Panser Biru dan Snex dilakukan di atas mobil untuk membakar semangat suporter.

"Dewan sebagai salah satu elemen masyarakat Kota Semarang harus punya komitmen untuk mendukung PSIS. Mereka jangan hanya berdiam diri menyikapi masalah kekurangan dana tim. Namun, juga harus turut terlibat aktif dalam mencari solusi," tutur Ketua Umum Panser Biru Irawan Yuwono.

Saling dorong di depan pintu gerbang antara Satpol PP dan suporter yang ingin masuk menemui dewan pun terjadi. Negosiasi yang dilakukan pengurus Panser Biru dan Snex kepada aparat kepolisian dan Satpol PP, akhirnya menemukan titik temu. Anggota Dewan bersedia menemui perwakilan suporter yang jumlahnya tidak lebih dari 10 orang.

Pertemuan dilakukan di ruang pimpinan DPRD. Dialog yang dipimpin Ketua DPRD Sriyono itu berlangsung dalam suasana yang cair, diwarnai ger-geran. Hasilnya? Dialog boleh saja ger-geran, tapi "skor akhir" tetap mengecewakan para suporter. Soalnya, DPRD menyatakan, penolakan mereka atas tambahan dana Rp 3,1 miliar untuk PSIS sudah final. (22)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA