| Jumat, 09 Nopember 2007 | KEDU & DIY |
Tidak Ada Larangan Duduk di MP Bookpoint
BIASANYA, ketika memasuki sebuah toko buku, yang terlihat hanyalah rak-rak penuh buku, berhimpitan satu sama lain, sehingga untuk lewat dua orang saja, rasanya sesak. Di atas atau bawah rak terdapat tulisan ''Dilarang Duduk'', mungkin maksudnya agar pengunjung tidak menghalangi lalu-lalang orang, namun bisa juga supaya tidak terlalu lama membaca dan akhirnya tak jadi beli. Kesan kaku dan tidak nyaman tersebut hampir terlihat di semua toko buku. Tapi kali ini ada nuansa lain di MP Bookpoint, toko buku yang berada di Jalan Kaliurang KM 6,8 Yogyakarta. Di sana tak ada tulisan ''Dilarang Duduk'', malah sebaliknya tersedia kursi-kursi untuk istirahat sembari membaca. Bahkan di sisi utara terdapat Rumah Kopi, tempat nongkrong yang menyatu dengan buku-buku. ''Pengunjung dapat melihat-lihat, membaca buku di sofa-sofa yang tersedia, ada pula fasilitas hotspot bagi pengguna internet, tapi laptopnya bawa sendiri. Bagi penikmat kopi, teh, ada ruangan tersendiri sambil merokok atau ngobrol bareng teman-temannya,'' papar Manajer MP Bookpoint Yogyakarta, Gangsar Sutrisno, di sela-sela obrolan ''Sembari Minum Kopi'' yang digagas Suluh Pratitasari dari Regol Jogja. Suasana nyaman, enjoy, sengaja dibangun dengan harapan pengunjung betah berada di sana. Tak ada keharusan dan keterpaksaan ''sudah baca harus beli''. Mereka dapat membaca teks lebih detail, dan kalau memang srek, barulah membeli. Sebaliknya, kalau merasa tidak ngeh dengan salah satu buku, bisa beralih ke buku lain atau hanya sekadar membaca saja. Di bagian lain toko tersebut ada pula meja kecil berisikan tumpukan buku anak-anak plus kursi. Interior ditata seperti ruang bermain, sehingga anak-anak pun betah membaca. Warna-warna ngejreng khas kesukaan anak-anak mendominasi ruangan yang berada di sisi barat. Kolam dan taman di sebelahnya membuat suasana benar-benar terasa nyaman. Mereka yang tak bisa meluangkan waktu pergi ke toko bisa memesan judul buku dan petugas akan mengantar sampai depan rumah. Layanan delivery layaknya makanan cepat saji ini memberi kesempatan orang-orang sibuk atau yang malas keluar karena panas, atau hujan. Pesan Buku Di teras depan dan belakang rumah terdapat gazebo dengan meja kursi dan asbak tentunya. Ini memang smoking area-nya MP Bookpoint agar tidak mengganggu pengunjung di dalam. Gangsar menyebutkan, di tempat tersebut pengunjung boleh memakai pula sebagai ajang diskusi, tukar pikiran berbagai komunitas. ''Siapa saja silahkan pakai, komunitas komik, film, musik, indie, yang ingin mendiskusikan topik-topik tertentu soal buku atau lainnya, silahkan saja, kami sangat terbuka,'' tandasnya. Dia memang ingin menciptakan toko buku alternatif dengan isi alternatif pula namun mendidik. Jadi bukan asal buku yang bisa masuk ke sana. Tema-tema berbau SARA, mendiskreditkan orang atau berbau klenik jangan harap mendapat tempat. Dia sengaja menyeleksi buku yang masuk agar semua orang bisa menjadi cerdas, rasional, melihat persoalan dengan jernih bukan emosi. ''Inilah keinginan kami membentuk komunitas plural yang cerdas, rasional, berpikir dengan logika tanpa melihat SARA atau unsur lainnya. Buku-buku di sini juga jauh dari hal-hal berbau kelompok tertentu,'' imbuh Salman Faridi, editor penerbit Bentang yang sekarang berbaur dengan Mizan. Keduanya berharap kehadiran MP Bookpoint menjadi pemacu anak-anak muda Yogyakarta atau siapa saja untuk membaca dan menulis. Mereka membuka diri bagi penulis-penulis perdana yang memiliki ide, gagasan orisinal dan ingin menerbitkan buku, misal novel, memoar, perjalanan dan lainnya. ''Potensi lokal memang harus diangkat, selama ini 60%-70% buku-buku kita hanyalah terjemahan, saduran dari negara lain, pengarang asing. Sudah saatnya naskah-naskah lokal memunculkan diri,'' ujar Salman. Nah, bagi yang ingin membeberkan ide dan gagasan dalam bentuk buku, main saja dulu ke sana, melihat buku, membaca, mendiskusikannya. Siapa tahu dari obrolan ringan muncul gagasan menarik. (24) |