| Kamis, 08 Nopember 2007 | NASIONAL |
Kehidupan Warga Banyumas di Daerah Banjir (2-Habis)Tidak Ngode, Pilih Nyanyi di Rumah
E ujan gerimis aje Ikan teri diasinin E jangan menangis aje Yang pergi jangan dipikirin... LANTUNAN lagu ''Hujan Gerimis'' yang dipopulerkan duet Benyamin Sueb dan Ida Royani tahun 1970-an itu, sayup-sayup terdengar dari rumah yang letaknya di bawah tanggul Kali Gatel. Petikan gitar bertuliskan ''pengamen jalanan'', mampu mengalahkan suara rintik hujan yang turun di pagi itu. Keluarga Lasiyem (40), warga RT 04 RW III, Desa Nusawungu, Kecamatan Nusawungu Cilacap, pagi itu memilih menyanyi dan main gitar bersama anak dan menantunya. Anak dan menantunya hari itu tidak berangkat ngode (cari uang) karena cuaca yang buruk. Halaman belakang rumah mereka sudah tergenang air. Tanggul sungai di depan rumah sudah mulai terkoyak, menampakkan karung berisi pasir yang sudah pada jebol. Kalau terjadi apa-apa, mereka dalam kondisi berkumpul dan tidak tercerai berai. Janda Lasiyem adalah salah satu dari 18 keluarga yang tinggal di sepanjang dasar tanggul berketinggian 3 meter. Jika tanggul bobol, maka 18 KK yang terdiri atas 70 - 90 orang itu menjadi korban pertama yang tersapu banjir. Tetapi karena mereka sudah akrab dengan banjir yang selalu terjadi setiap tahun, bencana itu malah dianggap sebagai rahmat. Mereka memaknai banjir bukan sebagai musibah, melainkan bantuan yang bakal membanjiri desa mereka. ''Pak saweg ngontrol banjir napa. Kapan bantuane dugi? (Pak sedang memeriksa banjir. Kapan bantuan datang)?'' tanya perempuan bercucu satu itu. Mereka malah minta difoto dekat tanggul biar bupati tahu kondisi warganya yang berada di ujung timur Cilacap itu. Musim Tanam Terhambat Kecamatan Nusawungu merupakan salah satu dari sejumlah kecamatan di Kabupaten Cilacap yang menjadi daerah langganan banjir. Kecamatan lainnya adalah Kroya, Sidareja, Kawunganten, Majenang dan Karangpucung. Banjir saat ini juga melanda Desa Sikampuh, Kecamatan Adipala. Sawah penduduk tergenang air setinggi 30 - 40 sentimeter, petani setempat terpaksa menunda menanam padi pada musim penghujan ini. Padahal, sawah mereka baru selesai dicangkul dan diolah. Akibat genangan air tersebut, sawah sulit dicangkul. Menurut petani Suwarjo (47), banjir telah menggenangi belasan hektare lahan sawah mereka. Karena hujan tak kunjung mereda, dia khawatir bencana banjir di penghujung 2007 ini bakal lebih besar dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Dia menambahkan, kalau hujan terus turun, daerah lain yang menjadi langganan banjir di Kabupaten Cilacap juga akan terendam. Ini menyebabkan masa tanam 2007 ini petani tidak dapat menanam padi tepat waktu dan terhambat sampai air surut. Di Desa Mujur Kroya, genangan air di sawah, tinggal berapa centimeter di bawah halaman permukiman penduduk. Bahkan banjir juga merendam tower listrik tegangan tinggi yang cukup membahayakan jika terjadi kebocoran arus listrik. Badan Meteorologi dan Geofisika memperkirakan awal musim hujan di wilayah eks Karesidenan Banyumas mulai berlangsung November ini. Curah hujan diperkirakan bervariasi 200-600 milimeter. Menghadapi musim banjir ini, Satlak PBA Cilacap telah menyiapkan ribuan karung pasir yang siap didrop ke daerah rawan bencana. Selain itu Pemkab juga menyiapkan puluhan ton beras yang siap didistribusikan ke daerah bencana. ''Pokoknya kami siap menghadapi bencana banjir maupun longsor yang selalu terjadi pada musim hujan,'' ujar Sekda Soeprihono. Dinas PU juga menyiapkan alat berat jika sewaktu-waktu dibutuhkan. (Didi Wahyu, Gading Satrio Pinandito-60) | ||||