logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 08 Nopember 2007 NASIONAL
Line

SBY Siapkan Solusi Cespleng

  • Harga Minyak Capai 99 Dolar AS Per Barel
  • Tidak Ada Opsi Kenaikan Harga BBM

JAKARTA-Kenaikan harga minyak mentah dunia sudah melambung mendekati 100 dolar per barel, namun tak membuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bingung. Presiden menyatakan, pemerintah tidak akan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) terkait dengan kenaikan harga minyak mentah dunia saat ini. Pemerintah akan mencari solusi yang tidak membebani masyarakat.

''Tidak ada opsi (menaikkan harga BBM-red) itu, karena kita mencari solusi lain yang cespleng,'' kata Presiden seusai melantik Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL), di Istana Negara, Rabu (7/11).

Cara cespleng dimaksud, kata Yudhoyono, adalah cara yang paling tidak akan mengurangi beban masyarakat banyak. Yaitu, melakukan hal-hal bersifat domestik yang tidak sampai mengguncangkan perekonomian rakyat banyak.

''Langkah itulah yang sedang kita lakukan, jika harga minyak dunia naik terus dan akan lebih tinggi lagi. Akan dijelaskan kepada publik bahwa harus diambil langkah signifikan. Sekarang sedang kita olah,'' katanya.

Presiden juga mengaku bahwa dirinya, Wapres, dan para menteri terkait sudah menyiapkan opsi menyangkut kabijakan yang terkait dengan kemampuan APBN.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro menyampaikan, meski harga minyak mentah di pasar internasional sedang tinggi dan menambah subsidi minyak dan listrik, pemerintah belum akan menaikkan tarif dasar listrik.

Pemerintah mempertimbangkan besarnya biaya sosial (social cost) yang akan terjadi jika pemerintah mengambil tindakan untuk menaikkan tarif dasar listrik (TDL). "Social cost besar untuk menaikkan TDL. Kemarin, kami rapat kabinet terbatas sampai jam 12 malam untuk membahas kenaikan subsidi listrik.

Masalahnya, bagaimana kami menjawab tantangan ini," ujarnya.

Ia mengatakan subsidi BBM di APBN 2007 diperkirakan melonjak menjadi Rp 91 triliun dari Rp 55,6 triliun. Sementara subsidi listrik juga membengkak menjadi sekitar Rp 50 triliun dari sebelumnya Rp 32,44 triliun.

Menko Perekonomian Boediono di Kantor Kementerian Perekonomian, Lapangan Banteng, Jakarta Pusat mengatakan kenaikan harga minyak mentah dipastikan akan memukul industri manufaktur dalam negeri, baik besar maupun kecil. ''Pemerintah pun akan memfokuskan perhatian pada sektor ini.''

Anggota Komisi VII DPR (bidang energi dan sumberdaya mineral), Alvin Lie, menilai pemerintah panik dan tidak siap melakukan pembatasan BBM bersubsidi. Sebab, sejak kenaikan harga BBM pada tahun 2005 hingga kini, tidak ada langkah riil untuk membenahi distribusi BBM bersubsidi. ''Langkah yang dilakukan pemerintah seperti orang panik dan kaget. Kalau lagi kepepet, karena harga minyak mentah naik, baru muncul pemikiran seperti ini. Tapi kalau harga minyak mentah dunia turun, pemerintah pasti adem ayem,'' katanya kepada Suara Merdeka.

Pemerintah, kata dia, juga tidak memiliki visi. Padahal DPR sudah mendesak pemerintah untuk melakukan pembatasan BBM bersubsidi sejak kenaikan harga BBM tahun 2005. DPR juga mendesak agar pemerintah membenahi mekanisme distribusi BBM bersubsidi.

''Pemerintah memberi subsidi BBM tapi tanpa pernah tahu siapa yang menerima dan berapa banyak yang memanfaatkan. Misalnya, premium yang saat ini dijual bebas. Bahkan mobil diplomat pun tidak dilarang membelinya. Begitu juga dengan minyak tanah yang dijual bebas,'' kritiknya.

Padahal, lanjutnya, seharusnya pemerintah memberikan subsidi hanya kepada orang-orang yang masuk dalam kategori miskin. Tapi, sejak tahun 2005 pemerintah justru tenang-tenang saja. ''Tidak pernah ada perbaikan dalam menata distribusi subsidi. Setelah harga minyak naik, pemerintah baru kalang kabut,'' tukasnya.

Sementara itu, Menko Perekonomian Boediono menyatakan pelambatan ekonomi global akibat naiknya harga minyak mentah dan kasus subprime mortgage (kredit perumahan macet) di AS tidak berpengaruh langsung.

''Pengaruhnya tidak langsung kepada ekspor karena untuk beberapa komoditi cukup baik termasuk energi, harganya masih baik. Kalau harga minyak masih naik, harga sawit, karet, dan batu bara juga naik, itu semua ekspor kita,'' katanya.

Namun, dia mengakui, beberapa komoditi manufaktur akan terkena dampak pelambatan ekonomi global tersebut. Untuk itu, pemerintah akan melakukan antisipasi terhadap sektor manufaktur dengan memfasilitasi pelaku usaha terkait konversi energi biaya tinggi.

Capai 99 Dolar AS

Harga minyak melambung sampai 99 dolar AS per barel akibat melemahnya dolar dan kecemasan pasar mengenai suplai menjelang musim dingin.

Lonjakan harga minyak tersebut hampir menyamai rekor pada 1980 yang mencapai 101,70 dolar lantaran dipicu perang Irak-Iran. Namun faktor lain penyebab harga melambung kali ini adalah permintaan yang terus meningkat, terutama karena pertumbuhan pesat ekonomi China dan peningkatan permintaan energi di Amerika Serikat.

Analis mengatakan, hanya soal waktu saja harga minya akan menembus rekor tertinggi. ''Tak lama lagi kita bakal melihat harga minyak mencapai lebih dari 100 dolar per barel,'' kata Kevin Norrish dari Barclays Capital.

Harga minyak Light Amerika naik 1,55 dolar pada pukul 09.55 GMT (16.55 WIB) menjadi 98,25 dolar per barel. Bahkan beberapa saat sebelumnya, harga sempat menyentuh angka 98,62 dolar. Minyak Brent London juga mengalami lonjakan harga dari 94,89 dolar menjadi 95,19 dolar per barel.

Momentum kenaikan harga minyak itu terjadi setelah nilai dolar AS terperosok ke titik terendahnya terhadap euro. Selain itu, laporan mingguan tentang stok minyak AS menunjukkan ada pengurangan 900.000 barel pekan lalu karena terjadi gangguan di terminal Teluk Meksiko.

Badan Informasi Energi Amerika juga memperkirakan ada risiko pada suplai minyak menjelang musim dingin. Lembaga itu menyatakan, stok di negara-negara industri akan berkurang sekitar 20 juta barel pada akhir tahun ini. Padahal, permintaan terus meningkat.

Organisasi negara-negara pengekspor minyak (OPEC) telah sepakat untuk menambah produksi 500.000 barel per hari mulai 1 November. Namun OPEC tidak bersedia memperbesar lagi ekspornya. Organisasi itu menyatakan, lonjakan harga minyak akhir-akhir ini disebabkan oleh ulah spekulan dan faktor geopolitik.(F4, H28,J10,rtr-48,33,ben)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA