| Kamis, 08 Nopember 2007 | KEDU & DIY |
Karnaval Festival Museum YogyakartaUpaya Dekatkan Masyarakat dengan Sejarah
BUKAN Yogyakarta namanya kalau tak ada ide kreatif yang muncul. Memang, kota ini dikenal gudangnya kreativitas dalam hal apa saja, terutama kesenian dan kebudayaan. Kali ini para ''miliarder'' unjuk gigi mengungkapkan gagasan kreatifnya. Siapa mereka? ''Sebutan miliarder memang pantas, bukan karena kami memegang uang bertumpuk-tumpuk tapi barang-barang yang kami kelola, rawat, dan amankan nilainya tak terhingga,'' seloroh Ketua Badan Musyawarah Museum (Barahmus) DIY KRT Thomas Haryonagoro ketika bersama teman-temannya membeberkan ide membuat Festival Museum Yogyakarta yang akan berlangsung 9-11 November di Benteng Vredeburg. Barahmus adalah sebuah organisasi nirlaba yang bergerak di bidang permuseuman. Dirintis dan dibentuk 21 Juli 1971 dalam sebuah pertemuan di Museum Dewantara Kirti Griya Tamansiswa Yogyakarta. Setelah melalui beberapa kali pembahasan akhirnya 7 Agustus 1971 secara de facto dan de jure berdirilah organisasi tersebut. Dulu, anggotanya hanya segelintir dan dalam perkembangannya hingga sekarang sudah 27 museum tergabung di dalamnya. Tugas mereka tidaklah ringan. Selama ini bahkan hingga kini, minat masyarakat untuk mencintai museum sangat rendah. Padahal di sejumlah negara, museum merupakan tempat favorit dan selalu dipenuhi pengunjung. Ya, mereka ingin mengetahui sejarah bangsa dan negaranya agar dapat lebih mengenal, memahami, dan mencintai negeri sendiri. ''Inilah yang harus dilakukan Barahmus, mendekatkan masyarakat dengan museum sehingga muncul kepedulian, kecintaan pada bangsa dan negara,'' tandas Thomas, pengelola Museum Ullen Sentalu yang berada di kawasan Kaliurang, Sleman. Kreatif, begitu ungkapnya. Pengelola museum memang harus banyak ide dan gagasan untuk menarik minat masyarakat. Berawal dari minat, baru kemudian melebar ke pengertian, pemahaman, dan kecintaan. Seandainya itu dapat dilakukan, niscaya museum tak pernah sepi. Salah satu ide kreatif Barahmus dibantu berbagai pihak yang terkait dan peduli dengan permuseuman, menggelar Festival Museum Yogyakarta (FMY). Acara tersebut dibarengi pula dengan Kemah Budaya Pramuka DIY. Ada banyak kegiatan di sana antara lain karnaval benda museum antik, langka, pemutaran film dokumenter sejarah, lomba cerdas cermat permuseuman, talk show, dan pameran. ''Baru kali ini dalam sejarah permuseuman kita keluarkan benda-benda bersejarah, langka, antik, agar masyarakat bisa langsung melihatnya dari dekat. Museum ingin hadir berdekatan dengan masyarakat dan inilah yang dapat kami lakukan,'' imbuh Ketua Panitia Festival Museum RM Doni Megananda. Barang Langka Beberapa barang langka yang bakal ikut dalam karnaval antara lain peluru kendali dan helikopter dari Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala, tombak Pangeran Diponegoro dari Museum Monumen Pangeran Diponegoro, wayang klithik ''aneh'' berasal dari Museum Wayang Kekayon dan masih banyak lagi. Benda tersebut juga dipamerkan di Benteng Vredeburg selama festival berlangsung. ''Menumbuhkan apresiasi masyarakat terhadap museum memang sangat sulit dan festival ini merupakan ajang pendekatan kami pada masyarakat. Tak kenal maka tak sayang, begitu orang bilang,'' timpal Kepala Museum Benteng Vredeburg Wahyu Indrasana. Karnaval FMY berlangsung pukul 14.00-17.30 berawal dari Taman Parkir Abubakar Ali melintasi Jl Malioboro dan berakhir di Vredeburg. Selama karnaval berlangsung, Jl Malioboro sampai ujung perempatan Kantor Pos Besar ditutup total. Ini untuk memberikan kesempatan bagi masyarakat yang menyaksikan dan agar lalu lintas tidak semrawut. (70) |