| Kamis, 08 Nopember 2007 | BANYUMAS |
Sepuluh Bulan Sekolah Beratap LangitBANJARNEGARA-Sudah sepuluh bulan ini anak-anak Dusun Tieng, Desa Batur, Kecamatan Batur belajar dengan atap langit. Awan putih dan kelabu menjadi pemandangan sehari-hari yang bisa dinikmati langsung dari ruang kelas mereka. Pasalnya, dua dari enam ruang kelas SDN Batur 5 sudah tak lagi beratap sehingga pandanganpun bebas lepas ke angkasa. Sutopo, Kepala SDN Batur 5 mengungkapkan angin puting beliung Februari lalu mengempaskan bangunan yang dibuat tahun 1971 itu. Tak ayal, atap asbes pada dua ruangan kelas beterbangan. Hingga kini belum ada dana untuk memperbaiki. Akibatnya, siswanya yang kini berjumlah 103 terdiri atas 58 laki-laki dan 45 perempuan harus sekolah bergantian. Kelas 1 dan 2 pagi, kelas 3 dan 4 sekolah siang, sedangkan kelas 5 dan 6 pagi sampai siang. Ruang kelas 5 terpaksa disekat jadi dua untuk kantor. Pada musim kemarau strategi tersebut cukup berhasil dan tak menemui kendala berarti, selain waswas kalau-kalau atap runtuh. Siswa pun bisa mengikuti proses belajar mengajar meski sulit konsentrasi. Tiga Kali Masalah sangat serius, kata Sutopo, ditemui ketika gerimis atau hujan datang. Jika demikian, transformasi ilmu di sekolah itu, khususnya di dua ruang kelas yang tak beratap terpaksa disetop. "Itu sudah berlangsung sejak Februari lalu. Pokoknya, kalau sudah mendung kami siap-siap berkemas. Selanjutnya siswa kami bubarkan daripada kehujanan di kelas atau atap ambruk," ungkapnya. Sekolah bukan tak pernah mengupayakan perbaikan. Bersama empat guru yang mengajar di sekolah tersebut sudah tiga kali ia mengajukan proposal permohonan bantuan ke lemkab melalui Dinas Pendidikan. Namun hingga kini ketika hujan turun setiap hari dari pagi hingga pagi lagi kabar mengenai permohonan bantuan itu tak kunjung datang. Terpaksa, sekolah misbar (gerimis terus bubar-Red) mereka lanjutkan ketimbang para siswa ketinggalan pelajaran.(H25-27) |