| Senin, 05 Nopember 2007 | RAGAM |
Sagu, Pengganti Beras Bergizi TinggiTANAMAN sagu sangat potensial untuk dikembangkan sebagai bahan pangan alternatif bagi masyarakat Indonesia selain padi. Pasalnya, sagu menghasilkan pati kering sebagai bahan pangan sumber karbohidrat. Indonesia memiliki areal tanaman sagu terbesar di dunia, sekitar 1.128 juta hektare atau 51,3 persen dari 2.291 juta hektar areal sagu dunia. Sekitar 90 persen areal tanaman ini terdapat di Papua dan Maluku. Tak mengherankan jika sagu merupakan makanan pokok masyarakat Papua, seperti halnya beras di daerah lain. Di Papua terdapat sekitar 20 jenis sagu, dengan warna tepung beragam, mulai dari merah, cokelat, kuning, putih, abu-abu, hingga kehitaman. Yang paling disukai penduduk Papua adalah sagu putih. Meski beragam jenis, hanya dua spesies yang memiliki nilai ekonomi tinggi di Indonesia, yakni jenis berduri (Metroxylon rumphii Mart) dan tak berduri (Metroxylon sagu Rottb). Pengolahan Tanaman sagu umumnya dipanen setelah berumur 10-12 tahun, yakni sebelum berbunga. Pada saat itulah kandungan patinya paling tinggi. Pohon ditebang dengan kapak / gergaji, yang jaraknya dekat dengan permukaan tanah. Batang sagu lantas dipotong-potong dengan ukuran 75 cm, sekadar memudahkan pengangkutan ke tempat pemrosesan. Untuk mendapatkan kualitas terbaik, potongan batang harus segera diproses. Mula-mula batang sagu dibuang kulit luarnya dengan menggunakan kapak. Bagian daging batangnya dibelah selebar 10-15 cm, agar mudah dipegang saat pemarutan. Hasil parutan batang sagu lalu dicampur air, diaduk, serta diremas-remas, untuk melepas bagian pati dari serat batang. Bagian pati akan larut dalam air pencuci, kemudian disaring. Hasil saringan ini didiamkan hingga memisah menjadi bagian cair (berwarna merah) dan endapan pati (berwarna putih). Cairan merah dibuang, dan diganti dengan air baru. Proses itu dilakukan beberapa kali, sehingga diperoleh pati sagu yang putih bersih. Selanjutnya, pati dijemur selama beberapa hari sampai diperoleh tepung sagu kering dan tahan untuk disimpan lama. Tepung sagu dapat diolah menjadi sinoli (karu-karu), bagea, sagu mutiara, dan sagu lempeng. Sinoli terbuat dari tepung sagu segar yang diremas-remas, kemudian disangrai sehingga berbentuk butiran atau gumpalan tak beraturan. Sagu lempeng merupakan jenis makanan yang dibuat dengan cara dibakar di dalam forna (cetakan dari batu / tanah liat), sehingga menghasilkan lempengan kering berwarna cokelat. Nilai Gizi Berdasarkan nilai gizinya, tepung sagu memiliki beberapa kelebihan ketimbang tepung dari tanaman umbi atau serelia. Menurut Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Departemen Pertanian, tanaman sagu mengandung pati tidak tercerna yang penting bagi kesehatan pencernaan. Oleh sebab itu, sagu baik digunakan sebagai bahan baku pembuatan mi. Sebab mi berbahan tepung sagu lebih sehat daripada mi dari terigu. Menurut peneliti ahli dari Universitas Kochi Jepang, Yoshinori Yamamoto, beberapa varitas sagu di sekitar Danau Sentani, Papua, mempunyai kadar pati tinggi. Sagu juga dapat dimanfaatkan sebagai komoditas pengganti beras yang bernilai gizi tinggi. Indonesia memiliki modal penting untuk mengembangkan industri pengolahan sagu. Selain sebagai bahan pangan, pati sagu juga bisa digunakan sebagai bahan baku pada industri kosmetik dan plastik yang ramah lingkungan. (Istolia Wahyu Wardani-32) |