logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 05 Nopember 2007 WACANA
Line

Sekolah Kejuruan Vs Dinamika Global

  • Oleh JC Tukiman Taruna

DEWASA ini di berbagai provinsi sedang digalakkan penambahan jumlah sekolah menengah kejuruan (SMK), bahkan kalau mungkin perbandingannya dengan sekolah menengah atas (SMA) menjadi 70:30. Ada banyak reaksi berkait dengan perbandingan itu, antara lain (a) siapkah dunia usaha kita menampung semakin banyaknya lulusan SMK?, dan (b) bagaimana profil mahasiswa perguruan tinggi ke depan bila mahasiswanya terdiri atas sebagian kecil lulusan SMA? Benarkah SMK "menjawab" tantangan global, khususnya tentang ketersediaan tenaga terampil?

Dinamika Global

Dinamika atau pun tuntutan global seringkali "menjebak", dan tidak mustahil penambahan jumlah SMK itu dipandang sebagai salah satu jawaban mujarab atas tuntutan tersebut. Menurut Malcolm Waters (dalam HAR Tilaar, 1997, Pengembangan Sumber Daya Manusia dalam Era Globalisasi), debat tentang proses globalisasi dapat dirumuskan dalam tiga kemungkinan. Pertama, pendapat yang menyebutkan bahwa globalisasi itu sudah muncul sejak manusia hidup di bumi ini. Kedua, proses globalisasi lahir sejalan dengan modernisasi yang mulai dikenal dalam peradaban Barat yang sejalan dengan kapitalisme. Ketiga, proses globalisasi merupakan fenomena baru yang berkaitan dengan pascaindustri, pascamodern, ataupun disorganisasi kapitalisme.

Proses globalisasi rasanya dapat juga disebut dengan dinamika global yang pasti bergerak dan memengaruhi arena ekonomi, politik, dan budaya. Misalnya di arena ekonomi, dinamika global berpengaruh terhadap regulasi sosial dalam produksi, pertukaran barang, distribusi, konsumsi, dan pelayanan. Dalam arena politik, dinamika global pasti berkait erat dengan kekuasaan; dan di arena budaya, dinamika global terekspresi misalnya lewat simbol-simbol, kepercayaan, selera, dan nilai.

Dinamika global ditinjau dari sisi sumber penyebabnya (seperti dikatakan Rosenau (ibid, hal 18 st), meliputi (a) dinamika global terjadi oleh karena dinamika teknologi yang mengurangi jarak global serta gerakan ataupun ide-ide manusia yang serba cepat; (b) dinamika global karena muncul masalah-masalah baru di bumi ini, seperti lingkungan dan kependiudukan, (c) dinamika global muncul karena mundur/ ketidakmampuan negara memecahkan masalahnya secara nasional, misalnya soal efek rumah kaca, menipisnya lapisan ozon, merebaknya HIV/AIDS, flu burung, dan narkoba; (d) dinamika global karena muncul dan menguatnya sub-sub kelompok seperti LSM, organisasi internasional seperti Green Peace, dan (e) dinamika global sebagai akibat dari meningkatnya keahlian. pendidikan, profesionalitas, keberdayaan, donasi, dan solidaritas.

Jawaban Tepatkah?

Melihat hal-hal yang terurai tersebut, jelaslah bahwa penambahan jumlah SMK tidak berkait langsung dengan akan terjawabnya tuntutan dinamika global. Pada sisi yang lain, penyelenggaraan SMK tidaklah murah, mudah, dan sertamerta meningkatkan kualitas pendidikan.

Dalam kesempatan ikut serta menyeleksi proposal yang diajukan oleh 17 SMK di Provinsi Jateng, ada tiga simpulan yang saya tarik berkait dengan keberadaan SMK. Pertama, SMK dapat disebut baik kalau memiliki kelengkapan jumlah alat praktik sehingga setiap siswa benar-benar 60% dari alokasi pembelajarannya untuk praktik. Namun melengkapi alat praktik amatlah mahal. Menambah satu tempat uji kompetensi (TUK) mekanika automotif saja, sebuah SMK di Semarang membutuhkan Rp 1.814.400.000.

Contoh lain, sebuah SMK Farming, dengan jumlah siswa hanya 76 orang dan berkeinginan mengembangkan agropeternakan sapi, membutuhkan fasilitas pendukung (kandang, tempat menginap siswa) dengan baiaya sebesar Rp 856.151.000.

Kedua, delapan dari 17 SMK yang diseleksi itu termasuk kategori sekolah negeri berstandar internasional (SNBI); namun hanya kurang dari 10% tenaga pendidiknya benar-benar berstandar internasional (penguasaan bahasa, materi pembelajaran, dll). Artinya, SNBI masih sebatas simbol saja, belum benar-benar terintegrasi ke dalam seluruh proses dan penyelenggaraan pendidikan di SMK yang bersangkutan.

Ketiga, pemilihan kompetensi di sejumlah SMK mengesankan "asal beda" saja dari SMK lainnya, sehingga mutu penyelenggaraan SMK tidaklah mudah membandingkannya. Sebuah SMK di Kota Semarang, misalnya, menjadikan perhotelan sebagai keunggulannya. Dalam proposal disebutkan akan membangun delapan kamar untuk TUK seharga Rp 1.812.500. Ketika ditanya "Siapa yang akan menginap di hotel sekecil (namun mewah, katanya) itu?" Kepala sekolah menjawab: "Yah kalau ada tamu sekolah yang bersedia menginap." Sementara itu, fakta menyebutkan bahwa pada 2007 saja ada sekurangnya lima hotel berbintang menambah jumlah hotel-hotel berbintang yang telah ada di kota Semarang. Jadi simpulannya, rumus 70:30 perlu ditinjau lagi. (68) - JC Tukiman Taruna, anggota Dewan Pendidikan Provinsi Jateng, bekerja di UNICEF Jawa Tengah.


HexWeb XT DEMO from HexMac International

Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA