logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 05 Nopember 2007 NASIONAL
Line

Kelud Masuk Fase Letusan Besar

  • Magma Mengeras Jadi Penyumbat

KEDIRI- Kapan Gunung Kelud meletus? Pusat Vulkanologi dan Migitasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung tak bisa menentukan secara pasti. Yang terlihat sekarang adalah Kelud masuk fase letusan besar. Dasarnya, telah terjadi letusan kecil yang berupa munculnya asap hitam pekat dan asap putih dari puncak Kelud pada Minggu (4/11).

Kepala PVMBG Bandung, Surono kepada wartawan di Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar, Kediri menyatakan, melihat indikasi vulkanik dan tektonik yang muncul seharusnya telah terjadi letusan pada Sabtu (3/11).

"Sekarang Kelud menyiapkan energi untuk meletus lebih besar," katanya kepada wartawan. Kondisi kritis sejak Sabtu sampai Minggu merupakan yang ketiga. Informasi yang dihimpun Suara Merdeka dari Surabaya, kemarin petang, menyebutkan, masa kritis pertama Kelud terjadi pada 17 Oktober dan kedua pada 20 Oktober. Pada kondisi kritis pertama dan kedua tak terjadi letusan. Namun, masa kritis ketiga sejak Sabtu berlangsung sangat ekstrim.

Air kawah di danau Kelud pada kedalaman lebih 15 meter mencapai 60 derajat celcius lebih. Sedang kemarin siang, di kedalaman 15 meter lebih, air kawah bersuhu 74,8 derajat celcius. Di kedalaman 10 meter hanya 62 derajat celcius dan di permukaan mencapai 68,4 derajat celcius.

Surono mengatakan, keluarnya asap hitam dari Kelud menunjukkan adanya energi yang pelan-pelan ditransfer ke udara, sehingga memungkinkan terjadi penurunan tekanan. "Adanya sumbatan lava terlalu kuat yang berada di kawah Kelud yang kemungkinan menyebabkan gunung ini tak kunjung meletus. Namun ada tekanan simpan di bawah air kawah, sehingga bisa menimbulkan letusan lebih besar nantinya," jelasnya.

Asap Berbahaya

Asap hitam yang keluar dari Kelud sangat berbahaya bagi manusia. Sebab, asap hitam itu mengandung belerang, gas CO2, dan bahan kimia lainnya. Mengenai hujan abu di Kecamatan Ngancar, Kediri, dia menyatakan, pihaknya belum mengetahui apakah abu itu berasal dari Kelud atau bukan. "Semuanya akan kami teliti," ujarnya.

Turunnya hujan abu di Kecamatan Ngancar terasa setelah Kelud mengeluarkan asap putih pascaasap hitam mengepul dari gunung itu. Sementara itu, dari Surabaya diperoleh informasi jika Kelud benar-benar meletus, lahan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X seluas 1.000 hektare di kawasan gunung itu terancam tak bisa dipanen. Lahan itu berada di Blitar seluas 600 hektare dan di Kecamatan Ngancar, Kediri seluas 400 hektare.

Kemungkinan besar kerugian yang dialami PTPN X adalah Rp 20 miliar. "Jika tanaman di lahan dekat Kelud itu tak bisa ditebang, ya kerugiannya sebesar itu (Rp 20 miliar)," kata Dirut PTPN X Adi Prasongko.

Vulkanolog Mas Atje Purbawinata di Bandung menyatakan, karakteristik gunung api semacam Kelud memang membutuhkan pencermatan yang lebih intensif. Untuk itu, dia meminta masyarakat dapat bersikap bijak. Jika mereka tidak mengantisipasinya, biaya yang harus dibayarkan akan sangat mahal.

Dituturkan, Kelud memiliki sistem yang berbeda dibandingkan kawah gunung lainnya yang kebanyakan bersifat terbuka, pipa magma tersambungkan kawah "biasa". Kawah Gunung Kelud sendiri berupa danau. Di bawahnya, besar kemungkinan terdapat crypto dome, magma mengeras yang menjadi sumbat.

Menurut Mas Atje, adanya dua faktor tersebut bisa jadi sebagai penyebab sulitnya Kelud meletus karena bersifat meredam. Satu hal yang diingatkan adalah perubahan temperature yang sangat cepat pada air danau kawah. (G14,dwi-60)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA