logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 05 Nopember 2007 NASIONAL
Line

Amuk Massa, 16 Warga Timika Ditangkap

  • 500 Orang Mengungsi

TIMIKA- Sebanyak 16 warga sipil ditangkap polisi di sekitar kawasan Timika Indah, Timika, Papua menyusul memanasnya situasi di wilayah itu akibat amuk massa yang membakar rumah-rumah warga.

Enambelas warga sipil itu ditangkap saat aparat menyisir kawasan di belakang lapangan Timika Indah. Salah seorang di antara mereka ditangkap ketika sedang berupaya merampas senjata milik anggota Polres Mimika, namun bisa digagalkan.

Namun, Wakapolda Papua Brigjen Pol Andi Lolo semalam berjanji akan melepaskan 16 warga yang ditahan di Polsek Mimika Baru. Pelepasan para tahanan itu dilakukan sesaat setelah pembacaan tuntutan agar seluruh pasukan baik TNI maupun Brimob dan polisi segera ditarik.

Andi Lolo mengatakan dengan dilepaskannya para tahanan dan penarikan pasukan, maka kasus tersebut dianggap selesai. "Kami sudah meminta mereka untuk tidak membakar rumah warga," tandasnya.

Akibat amuk massa yang pecah sejak Sabtu (3/11) pagi, tercatat 16 rumah warga, empat sepeda motor, dan sebuah mobil dibakar. Kapolda Papua Irjen Pol Max Donald saat dikonfirmasi menjelaskan, AKP Yance Ikomau meninggal setelah bergulat dengan Kapolsek Mimika Baru AKP Yowan. Namun meninggalnya Yance bukan akibat dibunuh Yowan. "Tidak benar itu. Masak polisi mau bunuh polisi," ujarnya mengenai kabar beredar yang menyebutkan Yance meninggal akibat dibunuh Yowan.

Menurutnya, kisah itu diawali masalah internal. "Anak almarhum kena razia polisi karena minum-minum dengan temannya. Kemudian ditegur oleh AKP Yowan. Anak almarhum pulang, bapaknya marah," kata Max.

Yance kemudian datang bersama istri dan anaknya ke Mapolsek. "Almarhum memukul anggota dengan rotan. Lalu ribut juga dengan Yowan sampai bergulat dan jatuh. Kemudian dilerai oleh istri masing-masing," terangnya.

Ditokohkan

Setelah dilerai, lanjut dia, Yowan masuk ke rumahnya di lingkungan Mapolsek. Sementara Yance naik mobil. "Tapi sebelum masuk mobil, dia terjatuh. Dia segera dibawa ke rumah sakit. Dalam perjalanan dia meninggal. Penyebab kematian tidak diketahui karena keluarga menolak diotopsi," ujarnya.

Yance, menurut dia, termasuk orang yang ditokohkan suku Paniai. "Tapi dia bukan kepala suku, hanya ditokohkan," jelas Max.

Mendengar meninggalnya Yance, lanjut dia, warga langsung emosi tanpa tahu penyebabnya. "Warga main serbu saja, memblokade jalan."

Kerusuhan yang pecah di Timika akhirnya mereda setelah digelar perdamaian dengan acara bakar batu di Lapangan Timika Indah pada Minggu sore pukul 16.30 WIT.

Mengungsi

Akibat amuk massa tersebut, sekitar 500 pengungsi dari berbagai lokasi sekitar Timika memadati halaman pangkalan udara Timika.

Tujuh tenda dengan berbagai ukuran telah dibentangkan anggota TNI baik dari TNI AD maupun AU untuk menampung pengungsi yang sebagian besar terdiri atas anak-anak dan perempuan. Mereka nampak memadati tenda-tenda.

Salah seorang pengungsi, Ny Ida mengatakan ia bersama anak-anaknya sengaja mengungsi untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan mengingat rumah tetangga mereka dibakar massa.

Saat ini, Kota Timika dan sekitarnya relatif aman walaupun jenazah AKP Yance Ikopouw dan Derek Gobay masih disemayamkan di atas podium lapangan Timika Indah.(dtc,ant-60)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA