| Minggu, 04 Nopember 2007 | NASIONAL |
Pengikut Al Qiyadah Menolak TobatSEMARANG- Puluhan jamaah Al Qiyadah Al Islamiyah Semarang menolak ajakan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Semarang untuk tobat dan mengucapkan kalimat syahadat. Termasuk pimpinan jamaah, Muhammad Jauhani alias Davis Lois Barnabas (23). Dari 52 pengikut ajaran Al Qidayah yang datang ke Mapolwiltabes Semarang, Sabtu (3/11) siang, hanya seorang yang menyambutnya dengan sukarela untuk tobat. Empat lainnya, akhirnya menyetujui ajakan untuk tobat dan membaca syahadat, setelah dipaksa oleh keluarga yang mendampingi selama digelarnya acara. Ke-52 pengikut ajaran pimpinan Ahmad Mushaddeq itu, kemarin memang sengaja dikumpulkan di aula Mapolwiltabes, sehari setelah mereka menyerahkan diri dan meminta perlindungan polisi. Pertemuan tersebut fasilitasi oleh Polwiltabes Semarang, yang diwakili Kasat Intelkam AKBP Wahyudi didampingi Wakasat Reskrim Kompol Y Budi Sarwono, serta dipandu Ketua MUI Semarang KH Abdul Karim Asslawy dan Kepala Depag Semarang Drs H Agus Sholeh MAg. Sehari sebelum pertemuan, puluhan pengikut Al Qiyadah itu mengatakan tak keberatan untuk bertobat dan membaca kalimat syahadat untuk kembali masuk Islam. Namun, entah kenapa, saat KH Abdul Karim Asslawy meminta yang ingin bertobat untuk angkat tangan dan maju ke depan, tak seluruhnya mematuhi. Bahkan beberapa di antaranya terlihat cuek. Hanya Hendratnanto (21) mahasiswa asal Pati yang berdiri dan maju ke depan untuk selanjutnya membaca kalimat syahadat dengan dipandu KH Abdul Karim Asslawy. Usai mengucap syahadat, dia tak kuasa menahan tangis dan langsung memeluk kedua orang tuanya. Tak berapa lama, empat rekannya, Arif Kurniawan, Fitriyo, Yusuf Efendi, Rizki Maulana, juga mengikuti apa yang dilakukan Hendra. Akan tetapi, itu dilakukan setelah orang tua membujuk agar mereka mau tobat dan membaca syahadat. "Saya ikut menjadi jamaah Al Qiyadah pada pertengah September 2006. Namun, sejak akhir Mei 2007 saya sudah tidak aktif lagi, karena secara pribadi sudah tidak sesuai dengan ajarannya. Keputusan saya untuk tobat dan kembali masuk Islam tanpa paksaan dari siapa pun," ungkap Hendra dengan terbata-bata. Ditengarai, menolaknya puluhan pengikut Al Qiyadah untuk tobat itu, dikarenakan pimpinan mereka, Muhammad Jauhani, enggan menuruti ajakan KH Abdul Karim Asslawy dan Drs H Agus Sholeh MAg yang sebelumnya memberi siraman rohani dan pembekalan agama Islam yang sesuai Alquran dan hadis. Tegang Namun, Jauhani justru berdalih masalah keyakinan tidak bisa dipaksakan dan hal itu merupakan hak asasi setiap manusia. Bahkan, dia sempat terlibat perdebatan yang nyaris memancing ketegangan dengan seorang tokoh agama yang hadir. "Secara organisasi, saya memang sudah keluar. Al Qiyadah Semarang sudah bubar, tapi secaya akidah saya tetap percaya," ujar Jauhani. Dia juga memaparkan ajaran Al Qiyadah Al Islamiyah yang diyakininya. Bahkan salah seorang jamaah, kemudian maju ke depan dan berujar, "Masalah keyakinan itu tidak bisa dibeli dengan apa pun." Karena tak ingin terlibat debat yang tak berkesudahan, AKBP Wahyudi kembali menawarkan pada jamaah, siapa yang tobat agar maju ke depan. Akan tetapi, tawaran tersebut tak mendapat respons. Sedangkan Jauhani digelandang keluar ruangan untuk diperiksa secara intensif oleh penyidik Unit Harda Polwiltabes Semarang. "Untuk sementara, dia (Jauhani-red) masih kita periksa sebagai saksi," kata Kompol Y Budi Sarwono. (H21,D12-11) |