| Minggu, 04 Nopember 2007 | NASIONAL |
Merajut Kerja Sama Antarnegara (3-habis)Membangun dengan ''Melihat Bayangan di Piring Bubur"TAHUN 1990, selagi Indonesia belum menjalin hubungan diplomatik, saya pernah mendapat tugas jurnalistik ke China melalui Hong Kong. Waktu itu jumlah penduduk negeri tirai bambu 1,1 miliar. Tapi sekarang, sebagaimana grafik population boom yang diekspose China Daily, penduduk China tahun 2007 menjadi 1,7 miliar. Secara makro pertumbuhan ekonominya 11,5 persen, cadangan devisanya 1,4 triliun dolar AS, atau lebih tinggi dari Jepang (1,3 triliun dolar AS). Laju pembangunan di China dan Hong Kong berlangsung pesat. Bandara Hong Kong misalnya, telah masuk 10 airport besar di dunia. Renovasi besar-besaran pada Hongkong International Airport (HIA) dilakukan tahun 1997. ''Menghabiskan 170 miliar dolar AS,'' kata Raymon, warga asal Manado Indonesia yang telah 16 tahun menetap di sana. Dalam upaya merajut kerja sama dengan negara luar, China juga membangun sejumlah lintas batas darat. Salah satu dari empat lintas batas jalur darat yang baru, dibuat dengan membangun jembatan sepanjang 5,6 kilometer di atas laut. ''Ini baru bulan lalu diresmikan Presiden China,'' kata Raymon, pemandu tim kecil Pemkab Wonogiri pimpinan Bupati Begug Poernomosidi. Wonogiri diundang ke Nanning Guangxi China, terkait rencana China akan membangun kawasan industri di Wonogiri. ''Ini merupakan peluang emas bagi Wonogiri,'' tandas Bupati Begug didampingi Presiden Indonesia China Small & Medium International Trade (Icsmit), Gunako Tjipto. Totalitas China yang memiliki 27 provinsi, terus membangun fasilitas baru dan menyempurnakan sarana-prasana yang telah ada. Terlebih menghadapi kepercayaan dunia yang menetapkan Beijing sebagai ajang Olimpiade Ke -29 tahun 2008. Kemajuan China dicapai dengan kesungguhan totalitas. Ini erat dengan falsafah "melihat bayangan di piring bubur". Falsafah ini mengajarkan, untuk membangun diperlukan langkah efektif, sistem efisien, hemat dan fokus, jujur dan introspeksi diri. Ketika banyak air yang dicampurkan, menjadikan hemat karena jumlah buburnya yang encer semakin banyak. Makin banyak air dalam bubur, semakin jelas untuk melihat bayangan sendiri berkaca di permukaan bubur saat dituang di piring. Makanan pokok China tidak tergantung beras seperti Indonesia, melainkan memanfaatkan semua potensi bahan pangan yang ada. Ubi jalar, bentul dan jagung rebus, jus kedelai dan jus jagung, aneka sayuran serta buah lokal, ikut dijadikan menu baku di hotel-hotel berbintang. Harga beras kualitas baik di supermarket Kota Nanning per kilogram 1,8 sampai 2 Yuan, atau sekitar Rp 2 ribu sampai Rp 2,5 ribu. Ini setengahnya dengan harga beras di Indonesia yang untuk seukuran itu sekitar Rp5.500,-(Bambang Pur-11) |