| Sabtu, 03 Nopember 2007 | WACANA |
Surat PembacaArogansi SekolahInstitusi sekolah/pendidikan di mana pun, entah di negara liberal atau sosialis selalu mengusung filsafat dasar yang sama yakni sebagai agen perubahan demi terbentuknya masyarakat tak berdaya menjadi berdaya. Dari masyarakat terbelakang (jahiliyah) menjadi maju dan beradab. Namun fungsi sosial seperti itu kita rasakan makin menjauh di negeri ini. Alih-alih menjadi agen perubahan, yang terjadi justru institusi sekolah makin banyak memakan korban. Kasus terakhir merenggut Eve Natalia Chrisna (15) siswi SMP yang bunuh diri karena tak mampu membayar SPP. Saya benar-benar gemas dan ikut merasa sakit hati dengan sistem pendidikan di negeri ini. Hal ini karena pendidikan menjadi "neraka" bagi rakyat miskin. Mereka yang terpinggirkan tidak diberi pertolongan tetapi justru makin diasingkan dan dihina. Padahal sampai kapan pun pendidikan tidak akan pernah berhasil jika hanya melayani golongan kaya, sementara kaum miskin dibiarkan berjuang dengan caranya sendiri. Pendidikan seharusnya untuk semua baik bagi orang kaya maupun kaum papa karena hal ini dijamin oleh konstitusi. Hanya dengan pemerataan pendidikan yang berkualitas negara ini akan mampu mengejar ketertinggalan dari bangsa lain. Pendidikan berkualitas memang mahal sebab harus didukung SDM dan fasilitas yang memadai. Karena itu uang negara jangan dikorupsi terus. Sektor pendidikan harus lebih mendapatkan dana cukup. Para guru juga harus mau terus-menerus meningkatkan ilmunya dengan cara lebih banyak membaca, menulis, mengarang buku dan bereksperimen. Mereka tidak boleh puas hanya mengajar sesuai target kurikulum. Kurikulum memang penting tetapi yang jauh lebih utama adalah menumbuhkan kreativitas tiada batas. Saya ingin mengajukan pertanyaan kepada kantor Dinas Pendidikan, apakah bisa dibenarkan tindakan sekolah negeri yang mengancam siswanya tidak boleh mengikuti ulangan atau orang tua tidak bisa mengambil raport. Hal ini hanya mereka belum bisa membayar SPI atau SPP. Bila mendapat ancaman demikian, bagaimana seharusnya tindakan atau sikap orang tua. Saya lihat soal SPI dan SPP menjadi alat penekan yang efektif. Di sisi lain apakah cara penekanan ini tidak menyalahi hukum dan tidak bertentangan dengan UU Sistem Pendidikan Nasional. Pihak sekolah bertindak seperti debt collector garang, padahal seharusnya merupakan institusi sosial yang mencarikan jalan keluar secara adil dan bijaksana. Mohon LSM yang bergerak di bidang pendidikan bisa memberi penerangan, apa hak dan kuwajiban masyarakat atas pendidikan. Negara yang gagal dalam menjalankan politik pendidikan, akhirnya harus ditanggung 100 persen oleh rakyatnya. Ini tidak adil. Suprayitno (081325736405) Jl Tlogomukti Tmr I/878, Semarang Keraton Mini Dalam Semarang Pesona Asia beberapa waktu lalu tersirat oleh penggagasnya bahwa Semarang bisa "menggiurkan" orang Asia atau mereka mau berkunjung ke kota ini. Ada apa di Kota Semarang, ternyata belum banyak yang bisa dijual atau menarik. Kalau ada, masih belum cukup. Untuk itu sebagai warga Jateng, saya usul agar Kota Semarang benar-benar jadi SPA sbb: Ada 104 keraton yang tersebar di Nusantara. Di Semarang kan banyak pengusaha kaya. Coba kumpulkan, bersatu ngumpulkan modal. Lalu beli tanah 200 hektare, buat maket mini keraton tersebut, buat keratonnya juga lengkap dengan perajuritnya. Ini baru bisa dijual kepada para turis dari Asia, karena bisa lihat budaya peninggalan bangsa. Bukankah Jateng adalah "Indonesia mini"?. Andai biaya pembebasan tanah dan kalkulasi pembuatan maket mini kraton bisa dihitung, maka dengan dana APBD dan yayasan para pengusaha, sungguh ini merupakan proyek ekonomi yang menguntungkan. Tentu turis domestik maupun luar negeri akan banyak yang berdatangan. Semuanya nanti akan berpengaruh pada pedagang kecil dan lapangan kerja. Ato S Prapto Gg Parkit II Citarum, Pemalang *** Car Free Day Di Semarang kota, secara ilmiah belum jelas seberapa jauh derajad polusi udara baik dari motor, mobil pribadi, mobil angkutan, truk dan bus. Tetapi yang jelas ada ribuan motor, ratusan mobil, truk dan bus yang lalu lalang di dalam dan hal ini jelas menyebabkan udara yang kita hirup setiap hari pasti tercemar polusi. Pak Wali, bagaimana kalau di kota ada Car Free Day setiap minggu 1 x yang diberlakukan di beberapa jalan yang sering dilalui alat transportasi tersebut seperti Jl Bojong, Jl Pandanaran, Jl A Yani. Car Free Day (hari bebas mobil/motor/truk/bus) di Jakarta sudah dilaksanakan dan dipatuhi pemilik kendaraan bermotor. Akibatnya adanya hari bebas kendaraan bermotor, muncul ribuan sepeda ontel dan orang jalan kaki. Ini justru olahraga yang menyehatkan badan. Mungkin di Semarang bisa dilaksanakan setiap hari Minggu. Mohon Pak Wali membahas bersama instansi terkait. Semoga masyarakat setuju usul saya ini, agar polusi udara yang kita hirup menjadi berkurang demi kesehatan bersama. Moeljono HP Jl Banteng Utara VII/1, Semarang *** Buang Air Kecil Islam datang dengan membawa peraturan yang semuanya demi kemaslahatan umat. Di antaranya soal menghilangkan najis, Islam menyariatkan agar umatnya melakukan istinja' (cebok dengan air) dan istijmar (membersihkan kotoran dengan batu), lalu menerangkan cara melakukannya sehingga tercapai kebersihan yang dimaksud. Sebagian orang menganggap enteng masalah menghilangkan najis. Akibatnya badan dan bajunya masih kotor. Dengan begitu, shalatnya menjadi tidak sah. Rasulullah SAW mengabarkan, perbuatan tersebut salah satu sebab dari azab kubur. Ibnu Abbas RA berkata: "Suatu kali Rasulullah SAW melewati kebun di antara kebun-kebun di Madinah. Tiba-tiba beliau mendengar suara dua orang yang sedang disiksa di dalam kuburnya''. Lalu Nabi SAW bersabda: "Keduanya diazab, tetapi tidak karena masalah besar (dalam anggapan keduanya) lalu bersabda benar (dalam riwayat lain: Sesungguhnya ia masalah besar) salah satunya tidak meletakkan sesuatu untuk melindungi diri dari percikan dan yang satu lagi suka mengadu domba". (Fathul Bari: 1/317). Bahkan Nabi SAW mengabarkan: "Kebanyakan azab kubur disebabkan oleh buang air kecil". (Shahibul Jami': 1213). Termasuk tidak cebok setelah buang air kecil adalah orang yang menyudahi hajatnya dengan tergesa-gesa sebelum kencingnya habis atau sengaja kencing dalam posisi tertentu atau di suatu tempat yang menjadikan percikan air kencing itu mengenainya. Atau sengaja meninggalkan istinja' dan istijmar tidak teliti dalam melakukannya. Beberapa kamar kecil hanya dilengkapi dengan bejana air kencing permanen yang menempel di tembok dalam ruangan terbuka. Setiap yang kencing dengan tanpa malu berdiri dengan disaksikan orang yang lalu-lalang keluar-masuk kamar mandi. Selesai kencing ia mengangkat pakaiannya dan mengenakannya dalam keadaan najis. Orang tersebut telah melakukan dua perkara yang diharamkan. Pertama dia tidak menjaga auratnya dari penglihatan manusia dan kedua, tidak cebok dan membersihkan diri dari kencingnya. Ady Prasetyo (08156598840) Perumda 5 RT 3/RW 3 Jati, Kudus *** Hukuman bagi Koruptor Tanpa bermaksud melecehkan lembaga hukum/penegak hukum yang ada, saya usul ala Kerajaan Inggris dalam menangani/me-ngatasi kejahatan di negaranya yaitu membuang para pelakunya ke pulau terpencil. Tetapi itu dulu. Sekarang kita mengenal negara Australia yang dulu tempat penampungan para penjahat. Apakah pemerintah kita akan meniru langkah serupa yaitu mengirim para koruptor ke daerah perbatasan.Tentu saja hal ini dilakukan setelah harta jarahannya disita oleh negara. Setiba di sana nanti diharapkan para penjahat tersebut bisa membangun kota perbatasan (border town) dan peradaban baru. Lepasnya P Sipadan dan Ligitan adalah tamparan bagi Indonesia karena pemerintah tidak meniru jejak Inggris. Memang para koruptor sudah menjadi sampah masyarakat tetapi harap diingat, sampah pun bisa berguna jika tahu cara pengolahannya. Apalagi para koruptor yang umumnya terdiri dari para pejabat baik di pusat maupun daerah dan pengusaha berprestasi. Ken Mustajib Gg Mawar 335 Pegulon, Kendal *** JPO Kab Semarang Kurang Dimanfaatkan JPO (Jembatan Penyeberangan Orang) dibangun dengan maksud baik. Namun sedikit orang yang mau memanfaatkan. Padahal cerita tentang penyeberang jalan yang tertabrak kendaraan bermotor terus berlanjut serta investasi yang dikeluarkan tidak sedikit. Apalagi begitu ada kecelakaan, pemkab lagi yang disalahkan. Pembangunannya di titik-titik tertentu, pasti sudah melalui kajian matang. Dari kajian volume arus menyeberang bolak-balik, perbandingan ideal tinggi maksimal mobil dengan tinggi mininum jembatan, volume kepadatan kendaraan bermotor yang lalu lalang sampai masalah ketertiban dan kerapihan kota. Saya melihat JPO di Kabupaten Semarang mulai depan masjid Istiqomah sampai depan Pasar Projo Ambarawa rata-rata kurang memenuhi asas manfaat bagi keselamatan penyeberang dan kelancaran arus lalu lintas. Dari sekian itu hanya yang di depan PT Apac Inti Corpora saja dimanfaatkan secara maksimal. Setiap hari ribuan karyawan menggunakan jasa jembatan yang dibangun murni oleh pabrik tekstil terbesar di Asia tersebut. Memang yang memanfaatkan sebagian besar karyawan namun sebenarnya juga diperuntukkan juga bagi masyarakat umum. Khusus terhadap karyawan, menyeberang melalui JPO merupakan keharusan. Bagi yang melanggar akan kena sanksi tegas sesuai peraturan perusahaan yang didukung serikat pekerjanya. Perusahaan membangun dengan dana tidak sedikit, semata demi keselamatan pengguna (tidak hanya untuk karyawan). Sebelum dibangun, sering terjadi kecelakaan yang menelan korban tewas dan luka apalagi pada saat turun hujan. Hal ini karena topografi geografis jalan raya depan perusahaan ini menurun panjang dan tajam serta berbelok hingga membuat gampang kendaraan selip atau tiba-tiba rem blong. Tentang JPO mangkrak, Kota Semarang juga mengalami. Dari 21 buah terdiri atas bangunan 6 beton dan 15 besi, rata-rata pemanfaatannya kurang optimal. Hal itu terutama karena masih lemahnya budaya tertib dan menghargai keselamatan diri sendiri serta orang lain di kalangan masyarakat. Pagar besi atau BRC yang sengaja dibangun di tengah pulau jalan dalam banyak yang dijahili. Padahal keberadaan pagar tersebut untuk menghalau penyeberang di bawah dan menggiring mereka memanfaatkan JPO. Bisa jadi tiadanya sanksi tegas turut menyuburkan praktik penyimpangan ini. JPO yang mangkrak karena jarang dilalui orang justru rawan kriminalitas seperti penodongan dan pemalakan. Akibatnya sarana tersebut akan makin tidak termanfaatkan terutama pada malam hari. Karenanya jembatan penyeberangan yang ada harus dioptimalkan. Eman-eman bila mangkrak. Noer Rofiq Jl Wamena V/228-229, Ungaran *** Tentang Print World Menindaklanjuti tulisan berjudul ''Kecewa Print World'' 30 Oktober 2007, ternyata komplain saya mendapat tanggapan baik dari Print World lewat Sdr Arif Fafli Ikhsan. Beliau melakukan klarifikasi dan menjelaskan permasalahnya secara baik dan bisa saya pahami. Hal ini menunjukkan perusahaan tersebut dapat menjaga nama baik dan kualitas pelayanannya. Dengan ini permasalahnya selesai. Elly Rosita Handayani Jl Bukit Permata Puri F6/9, Semarang *** Soal Bank Mandiri Ungaran Berkenaan dengan kekecewaan saya yang dimuat di Surat Pembaca 24 Oktober 2007, hari itu juga pihak Bank Mandiri Cabang Ungaran telah datang dan menjelaskan permasalahannya dengan baik. Saya gembira mendapat perhatian dan bisa memahami/menerima pejelasan tersebut. Dengan demikian permasalahannya saya anggap selesai. Suwito Genuk Karanglo RT 6/RW 2, Semarang *** Hikmah Sakit Sakit; siapa pun orangnya pasti tidak menghendaki. Kesehatan adalah harta yang tak ternilai, namun ada sebagian orang yang masih mengagungkan "nilai materi duniawi". Itulah realita kehidupan dunia ini. "Sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan Innalillahi wa inna ilaihi raaji'uun (QS Al Baqarah: 155-156). Ada saatnya sehat bagi seseorang namun tidak disyukuri, sehingga mengantarkan orang tersebut ke lembah maksiat. Ada orang yang sakit menjadi hina karena tidak sabar. Perjuangan untuk menjalani rasa sakit insya Allah dicatat sebagai jihad fii sabilillah. Logika mengatakan bahwa nikmat sehat tidak mungkin diukur dengan "fasilitas duniawi" yang membuat kita terpuruk dalam jurang kenistaan. Oleh sebab itu hikmah sakit harus kita renungkan dan harus dihayati dengan nurani bersih. Contoh, bila terserang sariawan bibir terasa tak enak, makan pun tak enak. Bandingkan dengan sakit yang lebih parah lagi. Maka harus bersyukur. Bersabar dalam menafakuri hikmah sakit dapat pula berarti bersabar menjalani proses sakit yang kita alami. Salah satu hikmah sakit adalah gugurnya dosa bagaikan berjatuhannya daun-daun pepohonan, sehingga kita bisa mereguk kesempatan untuk bermuhasabah, introspeksi diri, terutama terhadap kesalahan yang pernah diperbuat atau yang pernah kita lakukan. Wisnu Widjaja Jl Sindoro I/16 Panggung, Tegal *** Perjuangan '45 Muliakan perjuangan 1945 demi persatuan bangsa dan NKRI tercinta. Keprihatinan mendalam atas duka memilukan akibat bentrokan aparat dalam hal ini TNI AD dan Polri memang memalukan. Padahal kita di ambang di kerangka penegakan supremasi hukum demi tercapainya keadilan menuju masyarakat makmur, sejahtera, aman dan tenteram. Penyelewengan yang terjadi selalu kian tak beradab akibat lepas kontrol tanggung jawab diri pribadi dalam mendapatkan wewenang sebagai panutan masyarakat. Bentrok mulut, fisik, senjata dan juga bentrok warisan politik yang tak kunjung usai yang ujungnya tak cukup mengena demi kesejahteraan rakyat kebanyakan. Terbukti masih banyaknya kemiskinan dan keterbelakangan dalam pendidikan yang makin mahal. Terlebih parah adalah penurunan akhlak, budi pekerti di dalam bidang sosial politik yang mengakibatkan pudarnya rasa persatuan, kesatuan bangsa, sosial dan gotong royong. Siapakah yang bersalah ataukah sistem pendidikan yang salah. Juga penerimaan siswa kurang mengacu pada tingkat kesadaran tinggi. Adakah sistem pendidikan dan kelulusan berpredikat jujur. Terbukti masih banyak pejabat dan oknum yang korupsi. Kepada para pemimpin bersiaplah dengan iman. Jangan tinggalkan sumpah jabatan. Saya berharap dalam era penegakan supremasi hukum diawali dari pribadi masing-masing. Yang bersalah harus tindak tegas, baik oknum TNI maupun Polri. Kembali ke jati diri sebagai pengayom masyarakat yang majemuk demi keamanan bangsa dan negara. Atau mereka sudah terjajah idealisme oleh kapitalisme, liberalisme dan radikalisme. Waspadailah, jangan diperbudak oleh keangkaramurkaan kesenangan sesaat dan kenikmatan mematikan. Apakah reformasi sudah tercapai dalam kehidupan kita. Bukankah kita makin bertambah miskin. Mari bercermin pada perjuangan 1945. Pemberontakan terjadi di mana-mana, kelaparan, penderitaan dan sebagainya. Jadikan tekad '45 sebagai tonggak sejarah perjuangan tanpa pamrih kecuali hanya satu kata, Merdeka. Namun sayang masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Isilah kemerdekaan dengan kebersamaan dalam pembangunan negara. Dengan bentrokan apa yang dicari. Mestinya malah mengamankan NKRI. Kembalilah pada rasa bhinneka tunggal ika, tanamkan rasa persatuan dan jangan lengah. R Puji Prapto Ujiatmo Lambur RT 1/RW I Mrebet, Purbalingga |