logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 03 Nopember 2007 WACANA
Line

Mengembangkan Televisi Edukasi

UNTUK mendukung kuliah online, Udinus mengembangkan televisi edukasi yang disiarkan melalui Televisi Kampus Udinus (TVKU). Masyarakat Semarang dan sekitarnya tentu sudah mengenal stasiun televisi ini, selain stasiun-stasiun lokal lainnya seperti TV Borobudur, Pro-TV, dan Cakra-TV. Namun TVKU jelas berbeda dari tiga stasiun lokal tersebut, terutama dari aspek tujuan dan tayangan programnya.

''Tujuannya tentu ingin nambah pinter mahasiswa kami sendiri. Namun kami juga mendorong publik untuk ikut belajar. Kami ingin masyarakat juga menikmati siaran kami," kata Rektor Dr Edi Noersasongko, saat menunggui syuting pembuatan materi kuliah di Gedung Dinus Tech.

Belajar dari pengalaman televisi pendidikan di masa lalu yang cenderung kering dan membosankan, Edi mendesain televisi edukasi didesain sedemikian rupa agar menarik. ''Bukan sekadar memindah papan tulis ke layar televisi. Namun berupa pembelajaran audiovisual yang mampu memantik minat orang untuk belajar''.

Untuk mengupas materi demokrasi, misalnya, dihadirkan narasumber seperti mantan rektor Unnes Dr AT Soegito SH MH. Kepakaran Soegito menjadi jaminan mutu materi yang montok, padat, dan berisi.

Kemudian diperkaya beragam ilustrasi grafis serta liputan yang berkait demokrasi. Misalnya suasana kampanye pemilu, sidang kasus korupsi, dan demonstrasi mahasiswa. Mahasiswa Udinus diwajibkan menonton, karena di akhir program ada penugasan yang harus dikumpulkan kepada dosen.

Atmosfir Kerja

Edi Noersasongko optimistis, televisi edukasi sanggup meningkatkan mutu pendidikan dalam arti luas. Bukan hanya memperluas akses pemirsa (mahasiswa dan masyarakat), tetapi juga pengembangan metodologi pendidikan yang menggunakan kecanggihan teknologi. ''Muara akhirnya, televisi edukasi dapat menjelma menjadi laboratorium pembelajaran ideal. Semua nuansa pengetahuan dipraktikkan di sana,'' tambahnya.

Dia memberi contoh, mahasiswa teknik mempraktikkan ilmu tentang pemancar. Di bidang multimedia, ada pembuatan program acara dan editing video. Ada lagi yang memelajari jurnalistik dengan menjadi wartawan, redaktur, dan editor. Juga menjadi presenter bahkan produser. Tak ketinggalan mahasiswa ekonomi bisa belajar akuntansi atau mencari iklan.

Pembelajaran ideal adalah membawa mahasiswa ke alam nyata. Televisi pendidikan menggembleng mahasiswa untuk belajar dalam atmosfir kerja. Ada perbedaan suasana belajar dengan bekerja. Saat belajar di kampus, mahasiswa boleh salah. Sedangkan dunia kerja tak menoleransi kekeliruan.

''Coba, saat siaran, presenternya keseleo lidah. Nanti ditertawakan pemirsa. Nah, inilah yang kami bangun. Membiasakan mahasiswa berada dalam atmosfir kerja, bukan hanya atmosfir belajar,'' tandas Edi Noersasongko. (Panji Satrio-32)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA