| Sabtu, 03 Nopember 2007 | WACANA |
Belajar Kreatif kepada Joger
BERBELANJA di Joger mungkin menjadi hal yang tidak terlewatkan bagi siapa pun yang berkunjung ke Bali. Senyum dan tertawa sendiri saat membaca kata-kata di sana, seolah menjadi ritual yang tidak terpisahkan ketika ''berjuang'' memilih-milih kaus. Tetapi pernahkah Anda membayangkan bagaimana kata ''aneh-aneh'' itu dibuat? Saya merasa beruntung ketika mengikuti kunjungan ke Bali bersama mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, beberapa waktu lalu. Saat itu, kami bertemu dengan sang kreator, Mr Joger. ''Good morning selamat pagi,'' sapa lelaki yang nama asliny Joseph Theodorus Wulianandi itu. Ia menerima kami tepat pukul 12.00, di aula samping belakang pabrik kata-kata yang saat itu penuh sesak oleh pengunjung. ''Lo, ini kan siang. Kok good morning,'' kata seorang mahasiswa. Eh, Pak Joger dengan santai menjawab, good morning artinya memang selamat pagi. ''Apakah nanti tidak lebih heran jika saya katakan good morning selamat siang, atau good morning selamat sore. Sebab good morning kan berarti selamat pagi,'' kata pria kelahiran Denpasar itu dengan enteng. Aula atau pendapa itu terlihat luas. Samping kiri berdinding kaca dengan balutan ukiran bali. Sementara di belakang Mr Joger, sejumlah kain panjang menggantung berisi tulisan khas Joger. Di antaranya tulisan ''Awas, orang yang tidak happy, biasanya tidak suka melihat atau mendengar orang lain happy - maka marilah bikin happy diri kita, justru dengan membuat orang lain juga haapy''. Virus Bahagia Joger seolah ingin menyebarkan virus kebahagiaan ini pada orang lain. Masih banyak kata unik lainnya. Sesaat kemudian, sepotong film tentang perjalanan dan seluk-beluk Joger diputar. ''Tim kreatif kami ada lima. Oknum pertama adalah word collector. Dialah yang mengumpulkan kata-kata. Kedua, editor yang merangkai kata jadi kalimat yang bermakna luas. Ketika petugas grafis yang mengatur tata letak tulisan,'' jelasnya. Oknum kreator keempat adalah petugas komposisi warna, dan terakhir kritikus. Pekerjaan terakhir ini, kata Joger, sangat diperlukan untuk mengkritisi kata-kata yang telah dikumpulkan, dirangkai, dan ditata agar tidak bertentangan dengan moral, etika, serta hukum. ''Kelima oknum ini amat kompak, tak pernah berantem, karena kelimanya adalah saya sendiri,'' sahutnya, sebelum pikiran kami selesai mencerna job description dari petugas-petugas kreatif itu. Pria yang pernah bersekolah di Hotel-Fachshule D.Speicer Jerman ini juga menjelaskan, dari hasil ''tim kreatif'' itu kini telah tercipta lebih dari 5.000 desain. Setiap hari selalu ada ide-ide baru. Ide berasal dari mana pun, apakah di jalan, guntingan koran, bahkan sandal pun bisa memunculkan ide. Dia juga mengaku bisa mendapatkan ide dari orang yang sedang berbincang-bincang dengannya. ''Misalnya saya bertanya kepada seseorang tentang pekerjaan, dia bilang susah. Ini juga jadi ide. Ada juga orang bilang, pengin yang kata-katanya sedikit. Maka saya buat kaos dengan tulisan 'SEDIKIT'. Anehnya, semua kata-kata yang diproduksi itu laku. Bingung saya,'' katanya terkekeh. Saking larisnya, dia pernah membatasi pembeli hanya boleh membeli maksimal 12 potong. Tokonya setiap hari dikunjungi ribuan orang, bahkan pernah dalam delapan jam dikunjungi 17 ribu pengunjung. ''Bagaimana cara memunculkan kreativitas itu,'' tanya mahasiswa. ''Memunculkan kreativitas? O tidak, kalau bisa justru membendungnya. Kreativitas ini sangat banyak mengalir. Kalau tidak dibendung justru pusing, bisa-bisa saya gila,'' katanya ngakak. Openmind Tetapi kemudian ia menjadi serius, dan mengatakan yang terpenting adalah openmind, juga sikap merdeka. Dari openmind, membuka wawasan seluas-luasnya, itulah maka ide akan muncul. Kata Joger, melalui kemerdekaan kita akan berani berbuat sesuatu, sehingga ide-ide yang muncul dapat tersalurkan. Joger juga aktif membagi ilmu tentang strategi manajemen dan marketing. Dia mengganggap semua karyawan adalah anggota keluarga. Meski dikunjungi ribuan orang setiap hari, Joger mengaku tidak menerapkan profit oriented. Sejak 1987, ia menerapkan happiness oriented, yaitu bagaimana membagi kebahagiaan dengan orang lain. ''Sebelumnya, kita harus membuat diri kita bahagia dulu. Kita jadi kaya, tapi jangan sampai ada orang miskin,'' katanya. (Sri Syamsiyah LS-32) |