| Sabtu, 03 Nopember 2007 | WACANA |
Debat: Masa Depan PemudaPengaruh Kultur Barat
MOMENTUM Sumpah Pemuda yang kita peringati setiap 28 Oktober menjadi tonggak sejarah bangsa Indonesia, bahwa pergerakan pemuda pada era Boedi Oetomo telah berusaha meletakkan pondasi yang sangat penting untuk mewujudkan cita-cita luhur, yakni kemerdekaan bangsa Indonesia. Seiring perjalanan waktu, penghayatan sejarah kebangsaan kita sepertinya telah dilupakan para pemuda Indonesia. Menurut Havighurst (dalam Hurlock, 1980), usia pemuda (remaja awal hingga dewasa akhir) adalah masa produktivitas dalam sejarah hidup setiap manusia. Potensi yang dihasilkan pada usia ini dapat diraih secara maksimal. Pada rentang usia ini pula, kondisi fisik dan psikologis masih dapat berkembang dengan baik. Setiap orang memiliki cara dan kebiasaan sendiri dalam mengembangkan potensi. Misalnya, menguasai ilmu pengetahuan dan keterampilan yang berguna untuk diri sendiri dan orang lain, entah dalam wujud keilmiahan (science) atau hiburan (entertainment). Banyak pemuda Indonesia yang kurang puas terhadap kualitas SDM dan sumber daya alam (SDA) di Indonesia. Salah satu contoh, menyukai musik-musik Barat. Tak hanya lirik dan format lagunya saja, namun life-style (gaya hidup) dan kebiasaan pergaulan ala Barat pun kerap dicontoh para pemuda Indonesia. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang fanatik dengan kehidupan Barat. Contoh lain, banyak pelajar Indonesia yang lama mengenyam pendidikan di luar negeri yang tak mau pulang ke Indonesia. Alasannya, hidup dan bekerja di Indonesia sulit mendapatkan taraf kehidupan yang layak, atau sistem transportasi masih kacau. Memang tidak ada larangan untuk belajar ke luar negeri atau mencontoh kehidupan ala Barat. Justru hal ini merupakan kesempatan bagi pelajar Indonesia untuk memperdalam ilmu di luar negeri, dan menjadi kesempatan emas bila kita mempunyai relasi dengan orang asing. Namun, apabila pelajar telah selesai studi di luar negeri, sebaiknya kembali ke Indonesia untuk membangun negeri ini yang masih carut-marut. Ada jargon yang mengatakan ''think global, act local''. Artinya kita dituntut mempunyai wawasan yang luas, karena kita hidup pada era globalisasi dalam percaturan dunia kerja yang kompetitif. Namun sebagai generasi muda, kita jangan lupa untuk membangun kembali negeri ini. Karena masih banyak hal yang harus dibenahi dalam berbagai sistem di Indonesia. (32) |