| Sabtu, 03 Nopember 2007 | WACANA |
TAJUK RENCANAPertumbuhan Ekonomi TerkoreksiDampak kenaikan harga minyak dunia tak bisa sepenuhnya ditolak. Kendati pemerintah merasa optimistik mampu mengamankan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun ini dan RAPBN 2008 tanpa harus menaikkan harga BBM di dalam negeri, gejolak harga minyak mau tak mau akan memengaruhi pertumbuhan ekonomi. Target pertumbuhan 2008 dan realisasi tahun 2007 bisa jadi terkoreksi. Semula tahun ini kita mengharapkan dapat mencapai sekitar 6 persen dan tahun depan sudah meningkat lagi menjadi 6,8 persen. Namun dengan perkembangan situasi terakhir tampaknya akan lebih rendah dari itu. Mengantisipasi dalam arti mengurangi dampak negatif kenaikan harga minyak yang sudah mendekati 100 dolar per barel bisa dilakukan. Misalnya dengan berbagai cara pemerintah pasti akan mempertahankan harga BBM sampai 2009. Ada alasan politis yang tak bisa dihindari mengingat pada waktu itu akan berlangsung pemilihan umum legislatif dan pemilihan langsung presiden. Dari sisi kita boleh merasa sangat lega. Tetapi ternyata itu saja belum cukup. Fluktuasi perekonomian global pun berimbas ke dalam negeri baik berupa imported inflation dan penurunan konsumsi swasta. Pada gilirannya secara akumulatif akan sedikit menahan laju pertumbuhan. Inflasi akhir-akhir ini cenderung meninggi sejak kemarin dipicu oleh peningkatan konsumsi masyarakat pada bulan puasa dan menjelang lebaran. Bahkan sampai Oktober laju inflasi masih di atas 0,7 persen sehingga secara kumulatif selama setahun ini diperkirakan melebihi target atau mendekati 7 persen. Tahun 2008 yang semula ditargetkan inflasi hanya 5 persen, plus minus satu, pada akhirnya kemungkinan besar akan mencapai 6,4 persen. Semua itu terkait dengan situasi makroekonomi. Syukurlah gejala positif lain masih dapat membantu misalnya kenaikan indeks saham, penguatan kurs rupiah dan penurunan sukubunga. Tekanan eksternal memang sulit dihindari meskipun hal itu tak selamanya bersifat negatif. Surplus dalam neraca perdagangan adalah salah satunya yang positif. Karena perubahan ini juga mendorong peningkatan nilai ekspor kita. Sementara itu cadangan devisa makin bertambah dan sekarang berada pada posisi yang lebih aman yakni sekitar 54 juta dolar AS. Maka ketahanan ekonomi suatu negara pada akhirnya juga ditentukan oleh kekuatan ekspornya. Belum lagi pengaruh atas peningkatan penerimaan ekspor minyak pada APBN. Hal itulah yang mengakibatkan subsidi BBM yang naik bisa ditomboki oleh tambahan penerimaan dari minyak juga. Fluktuasi global dan gejolak di internal pun sudah menjadi bagian dari kewajaran suatu perekonomian. Fundamental ekonomi yang kuat adalah modal agar kita tidak mudah terombang-ambing atau mengalami kekacauan. Otoritas moneter dan pemerintah tentu harus terus berupaya menjaga keseimbangan-keseimbangan di tingkat makro antara lain dengan menahan laju inflasi, menjaga kurs rupiah dan menurunkan sukubunga. Hal itu untuk mengamankan sektor riil dan investasi agar tetap kondusif. Karena kalau keduanya sudah terpengaruh maka dampaknya bagi penurunan laju pertumbuhan akan semakin signifikan. Betapa penting mempertahankan laju pertumbuhan ekonomi. Kalau pun target terpenuhi sebenarnya masih tetap kurang untuk mengakomodasi peningkatan angkatan kerja setiap tahun. Belum lagi kalau kita bicara soal pemberantasan kemiskinan. Di tengah berbagai kendala eksternal yang berdampak pada situasi domestik itu, pemerintah perlu terus berupaya mendorong kegiatan ekonomi produktif baik di bidang industri, perdagangan, jasa dan sebagainya. Iklim usaha perlu terus menerus diperbaiki agar dunia usaha tak terlalu terpukul. Harus disadari pengaruh eksternal memang sulit diprediksi dan dikendalikan maka kita harus pandai menyesuaikan. |