| Sabtu, 03 Nopember 2007 | SEMARANG |
SUDUT PANDANGImbau Hemat ListrikPENGHEMATAN listrik ternyata tak hanya cukup dengan mematikan alat-alat elektronik yang tidak diperlukan. Misalnya, mematikan televisi yang tidak ditonton atau lampu yang tak digunakan. Masyarakat harus terus diingatkan cara lain menghemat listrik yang sebenarnya cukup efektif, seperti pengetahuan tentang seberapa besar daya alat-alat listrik yang dimiliki di rumah. Menurut Manajer PT PLN APJ Semarang Ir Mulyono Widodo MT, dengan mengetahui berapa besar dayanya, setiap keluarga bisa melakukan penghematan. Untuk itu, pihaknya membagikan leaflet-leaflet tentang perbandingan pengeluaran rumah tangga dengan peralatan listrik dan non-listrik. ''Misal pompa air 100 watt dipakai 1 jam memindah air dari sumur ke bak sebanyak 1 m3. Ini konsumsi listriknya 100 watt dikalikan 1 jam = 0,1 kWh. Biaya listrik dikalikan Rp 611 hanya Rp 61. Nah, berapa imbalan yang pantas diberi kalau kita menyuruh orang memindahkan air 1 m3 dari sumur ke bak?'' kata Mulyono yang ditemui baru-baru ini. Contoh perbandingan itu ditetapkan untuk pelanggan tarif R1/ 900 VA berdasarkan TDL 2004. Selain pompa listrik, dia juga menjabarkan penggunaan lampu listrik hemat energi. Pada lampu pijar sejumlah 100 watt yang dinyalakan 6 jam, mengonsumsi listrik 0,6 kWh dikali Rp 611 yakni Rp 366 saja. Bandingkan saja dengan lampu minyak, yang selama 6 jam butuh minyak tanah 1,5 liter dengan harga per liternya Rp 2.500, maka biaya yang dibutuhkan sekitar Rp 3.750. Pria kelahiran Semarang, 15 Oktober 1953 ini menceritakan pengalamannya saat bertugas di beberapa daerah di Kalimantan, di mana masih banyak masyarakat yang belum bisa mendapatkan aliran listrik. ''Orang di Kalimantan sangat mendambakan listrik, sehingga mereka mau diajak maju dan melakukan penghematan karena mengalami peralihan antara penggunaan petromaks dan listrik. Saya berharap orang di Jawa juga bisa begitu.'' (Modesta Fiska-18) |